Sampurasun, Pertumbuhan Ekonomi Diharapkan Tidak Hanya Sesaat

18

  DULU iya! Tidak pernah terjadi inflasi akibat peningkatan belanja konsumsi  masyarakat. Istilah inflasi itu tidak ada dalam kamus masyarakat desa. Mereka tidak pernah berhitung, naiknya berbagai harga, termasuk harga pangan di desa, dapat berkaitan dengan  inflasi.

   Baru pada zaman now sekarang ini, diketahui, belanja masyarakat terhadap pangan dan kebutuhan lain, termasuk alat komunikasi canggih berikut pulsa dan kuota HP trah android, terus meningkat. Masyarakat desa terutama di Jawa, Bali, dan Sulawesi, benar-benar bergeser dari masyarakat produser menjadi masyarakat pengguna (pembeli).

   Masa lalu, masyarakat desa hampir tidak punya masalah dengan pangan. Dari makanan pokok berupa beras, jagung, atau singkong sampai pangan sampingan berupa sayur, buah-buahan, ikan, telur, daging, dan sebagainya, mereka yang menghasilkannya. Mereka mengonsumsinya dan menjualnya. Masyarakat kota sebagai pembelinya. Segala macam kebutuhan pangan masyarakat kota dipasok dari desa. Karena itu, masyarakat desa terlepas dari sasaran penelitian yang berkaitan dengan inflasi.

    Seperti ditulis KOMPAS (7/8), petumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2019 mencapai 5,27 persen. Pertumbuhan itu dapat dikatakan sebagai lonjakan yang tidak terprediksi sebelumnya. Hal yang menggembirakan itu terutama ditopang konsumsi rumah tangga. BPS merilis terjadinya petumbuhan konsumsi rumah tangga pada triwulan II 2018 mencapai 5,14 persen, naik dibanding triwulan I 2017 (4,95%).

     Konsumsi rumah tangga yang tumbuh signifikan itu didorong penggelontoran dana yang cukup besar yang terjadi pada teriwulan I 2018 bahkan sudah dimulai sejak akhir tahun 2017. Pemerintah dalam waktu yang hampir bersamaan mengeluarkan dana cukup besar untuk THR, gaji ke-13, bantuan sosial, dan biaya pilkada. Sedangkan sebelumnya, pemerintah dan kalangan swasta mengeluarkan dana sangat besar untuk pembangunan infrastruktur. Dengan demikian, dalam waktu yang hampir bersamaan pula, belanja rumah tangga meningkat tajam. Dana masyarakat berputar pada kurun waktu 3 – 4 bulan awal tahun 2018 yakni pada saat puasa dan lebaran. Masyarakat desa ikut merasakan rezeki yang dibawa orang kota.

    Kepala BPS, Suhariyanto menjelaskan, konsumsi rumah tangga pada triwulan berikutnya, diperkirakan tidak akan setinggi triwulan II 2018. Penunjang pertumbuhan konsumsi rumah tangga sudah tidak ada lagi. Dana masyarakat sudah kembali seperti sebelum adanya THR dan gaji ke-13. Pengeluaran pemerintah, selain biaya pembangunan infrastruktur, lebih terfokus pada penanggulangan bencana yang terjadi di berbagai daerah, khususnya di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Pengeluaran yang agak besar hanya untuk kepentingan Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden.

    Belanja pemerintah yang sangat besar pada triwulan II 2018 itu dinilai para penggiat ekonomi justru  hanya terjadi sesaat dan lebih bersifat konsumtif. Namun masyarakat pada umumnya merasakan hal itu sangat positif. Ada nilai tambah yang dinikmati sebagian besar rakyat sampai ke pelosok negeri. Musim lebaran tahun 2018 ada kelebihan dibanding sebelumnya. Mereka berharap, pembangunan yang dilaksanakan sekarang punya nilai ekonomi yang lebih baik bagi kepentingan masyarakat pada masa akan datang. ***