Kenapa Knalpot Mobil Diesel Berasap?

945

Anda tentu pernah melihat mobil bermesin diesel dari kenalpotnya mengeluarkan asap tebal . Hal tersebut terjadi karena penggunaan bahan bakar yang tak sesuai.

Mobil diesel umumnya menggunakan teknologi common-rail yang mengatur penyemprotan bahan bakar dengan Engine Control Unit (ECU). Teknologi ini diterapkan agar penyemprotan bahan bakar lebih sempurna, hingga gas buang yang dikeluarkan dari knalpot lebih bersih dan  ramah lingkungan.

Dikutip dari Astra World, mesin diesel common-rail sebaiknya menggunakan bahan bakar yang berkualitas untuk memaksimalkan pembakaran dan performa mesin.

Di Indonesia, kendaraan diesel kalah populer ketimbang yang bermesin bensin. Maka tak heran jika lebih banyak orang yang familiar dengan kata “oktan” ketimbang “cetane number” (CN) atau setana. Padahal keduanya adalah ukuran tertentu dari bahan bakar yang dikonsumsi masing-masing mesin.

Menurut kamus daring merriam-webster.com, nilai setana adalah nilai pengapian dari bahan bakar Diesel yang merepresentasikan persentasi dari volume setana dalam campuran methylnaphthalene. Secara lebih sedernaha, nomor setana adalah ukuran yang menujukkan kualitas dari bahan bakar mesin diesel.

Baik setana maupun oktan, sama-sama mengukur kecenderungan bahan bakar untuk menyala secara spontan. Bedanya, semakin tinggi angka setana, maka ia akan lebih mudah terbakar dalam kompresi. Sebaliknya, semakin tinggi angka oktan, maka ia menunjukkan bahwa bahan bakar tersebut lebih sulit terbakar jika dikompresi.

Implikasinya, jika bahan bakar semakin mudah dikompresi,  ketukan pada mesin diesel akan berkurang, dan suaranya  bisa lebih halus. Mobil pun bisa berjalan lebih lancar dan tenang. CN sendiri biasanya berkisar antara 40 sampa 55.

Sementara pada mesin bensin, semakin tinggi angka oktan, maka bensin akan semakin sulit untuk “terbakar prematur”. Mesin yang membakar bensin secara prematur akan menyebabkan gejala “ngelitik” atau knocking.

Di Eropa, pada 1994 ditetapkan angka minimal CN adalah 38. Kemudian ditingkatkan lagi jadi 40 pada 2000. Angka ini semakin meningkat seiring semakin ketatnya regulasi emisi, atau yang dikenal sebagai standar emisi Euro.

Sementara di Indonesia, bahan bakar untuk mesin diesel yang disediakan Pertamina ada tiga, Solar, Dexlite, dan Pertamina Dex. Solar punya CN sebesar 48, sementara Dexlite dan Pertamina Dex masing-masing ada di angka 51 dan 53.

Penggunaan bahan bakar yang memiliki angka cetane 48, 51, atau 53, sangat disarankan untuk menunjang kinerja mesin diesel. Jika angka cetane kurang sesuai, inilah yang menyebabkan knalpot menghasilkan asap tebal, getaran mesin lebih kuat namun tarikannya  lambat. Lebih parahnya, pemilik mobil diesel akan lebih rugi jika menggunakan bahan bakar yang tak sesuai dalam jangka waktu panjang. Hal ini bisa berakibat penyumbatan pada saringan bahan bakar dan mengakibatkan mesin mogok.

Jika mobil Anda mengeluarkan asap knalpot yang tebal,  segeralah membawanya ke bengkel resmi untuk diservis. Menggunakan bahan bakar yang sesuai dan melakukan perawatan rutin akan dapat menjaga peforma mesin tetap maksimal dan emisi gas buang pun tetap bersih.

(E-002/BBS)***