Kembali ke Tiongkok, Google Atur Strategi Khusus

183

BEBERAPA waktu belakangan, santer terdengar bahwa Google akan kembali ke Tiongkok. Raksasa internet itu disebut-sebut akan memboyong layanan cloud-nya ke Negeri Tirai Bambu. Meski belum terwujud, Google dikabarkan sudah siap untuk mematuhi aturan pemerintah Tiongkok, terutama soal sensor hasil pencarian. Untuk itu, seperti dikutip dari Business Insider, Minggu (12/8/2018), Google berencana memanfaatkan daftar pencarian yang sudah ada dari 265.com.

Sekadar informasi, 265.com merupakan situs pencarian asal Tiongkok yang diakuisisi Google pada 2008. Dengan cara ini, kemungkinan besar Google dapat menerapkan sistem penyaringan yang sesuai dengan regulasi setempat.

Terlebih, 265. com masih dapat diakses oleh pengguna internet Tingkok. Karenanya, berdasarkan laporan Intercept, situs tersebut dapat menjadi sarana Google melakukan riset mengenai pasar dan konsumen di Tiongkok.

Google sendiri menolak untuk berkomentar seputar laporan ini. Terlepas dari itu, tidak sedikit pihak yang menyayangkan apabila Google benar-benar kompromi terhadap penerapan sensor oleh pemerintah Tiongkok.

Padahal, sebelum ini, Google memilih untuk menghentikan kerja sama dengan proyek militer Amerika Serikat.

Kabar kembalinya Google ke Tiongkok pun disambut baik media di negara tersebut dan menjamin layanan mereka tidak akan bermasalah selama mengikuti aturan yang berlaku.

Kabar ini mengenai rencana Google kembali ke Tiongkok juga sampai ke telinga CEO Baidu Robin Li. Sontak saja, Li segera mengambil langkah besar jika memang sang raksasa teknologi asal Amerika Serikat tersebut kembali memijakkan kaki ke Negeri Tirai Bambu. Dalam akun resmi WeChat-nya, Li mengancam akan mendepak Google jika mereka berani kembali ke Tiongkok.

“Google memutuskan kembali ke Tiongkok, kami dengan sangat percaya diri akan melakukan ‘PK’ dan akan menang lagi,” tulisnya seperti dilansir The Verge, Rabu (8/8/2018).

Sekadar informasi, PK di sini merupakan kepanjangan dari istilah “Player Kill”, yakni bahasa slang Tiongkok yang digunakan dalam ranah gaming untuk ‘membunuh’ pemain lain di gim ber-genre MOBA.

Pada kenyataannya, baik Google dan Baidu adalah sama-sama pemain yang bergerak di bidang mesin pencarian, internet, layanan cloud, dan pengembangan kecerdasan buatan (AI, Artificial Intelligence) untuk produk-produknya.

Li juga melanjutkan kalau Baidu bahkan telah tumbuh lebih besar sejak Google meninggalkan Tiongkok pada 2010.

“Perusahaan teknologi Tiongkok telah memimpin negeri ini, dan faktanya seluruh dunia menyontek apa yang telah kami lakukan,” tambahnya.

Lucunya, kebanyakan pengguna internet di Tiongkok ternyata mengungkap lebih memilih Google daripada Baidu.

Beberapa pengguna mengeluarkan uneg-unegnya di media sosial Weibo, mereka bahkan dengan senang hati akan menghapus aplikasi Baidu jika nantinya Google bakal benar-benar kembali ke Tiongkok.

Tak cuma itu, dalam sebuah polling yang diadakan di Weibo, 86 persen pengguna mengaku akan memakai Google ketimbang Baidu. (C-003/Dam)***