Kini Giliran Saguling

245

BENDUNG Saguling yang terletak di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, diperkirakan hanya dapat bertahan 18 tahun lagi. Senasib dengan Bendung Cirata, Bendung Saguling mengalami percepatan usia kegunaan. Peralatan yang ada di bendungan itu mengalami korosi parah padahal Waduk Saguling pada desain awal, diprediksi mampu bertahan hingga 100 tahun. Namun daya dukung waduk itu merosot hanya sampai usia 50 tahu. Kini usia Saguiling sudah 32 tahun, artrinya tinggal 18 tahun lagi dapat bertahan.

Peralatan yang seharusnya diganti setiap 15 tahun, ini 3 tahun sudah hars diganti,” kata General Manager PT Indonesia Power Unit Pembangkitan Saguling, Buyung Arianto, sepetrti dimuat PR 14/8. Ia mengapresiasi Gerakan Citarum Harum yang antara lain mulai melakukan penertiban terhadap keramba jaring apuing. Di Bendung Saguling, terdapat hampir 40 ribu keramba jaring apung.

Banyaknya jaring apung menimbulkan polusi di perairan Saguling. Pakan ikan yang ditaburkan pebudidaya ikan 80 persen mengendap ke dasar waduk. Akibatnya, waduk Saguling makin dangkal dan  sisa pakan itu menjadi polutan yang berakibat buruk gterhadap mutu air, daya dukung bendungan, dan daya tahan peralatan pembangkit  listrik.

Berkaitan dengan itu Gerakan Citarum Harum, setelah melakukan pembersihan di Cirata, kini giliran Saguling. Ribuan  japung yang tersebar di delapan kecamatan Kabupaten Bandung Barat itu akan dibongkar. Bahkan menurut Satuan Gerakan Citarum Harum, masarakat sekitar Saguiling sebagai pemilik jaring apung, sudah memahami program itu. Mereka rela karena meraka tahu, gerakan pembersihan itu untuk kepentingan yang lebih besar yakni kelestarian waduk dan pemeliharaan peralatan pembagkit tenaga listrik.

Dalam pada itu, sebagaimana disampaikan  General Manager PT Indonesia Power, masyarakat terdampak pembersihan, tidak usah khawatir. Ia memastikan tetap akan memperhatikan ekonomi masyarakat. Masyarakat pemilik jaring apung, terutama masyarakat sekitar Saguling, akan kehilangan mata pencahariannya padahal usaha budidaya ikan jaring apung itu setiap kali panen, menghasilkan uang cukup besar. Mereka benar-benar menggantungkan hidupnya pada usaha budidaya ikan.

Masyarakat setempat merupakan warga terdampak pembangunan Bendung Saguling 30 tahun lalu. Tanah pertanian dan tempat tinggal mereka, terendam air. Benar mereka mendapat penggantian yang layak atas tanah, rumah, dan tanaman miliknya. Atas izin pengelola, akhirnya mereka mendapat pengganti usahanya dari bercocok tanam ke budidaya ikan. Usaha itu merupakan pilihan yang sangat tepat. Mereka mengikuti perubahan budayanya, dari budaya cocok tanam ke budaya air. Mereka menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keberadaan danau buatan yang cukup luas. Waduk Saguling menjadi penopang hidup mereka. Tanpa usaha memanfatkan danau itu, mereka akan terkatung-katung, menjadi pekerja serabutan di tepi danau atau di kota.

Sekarang setelah merasakan manisnya berusaha di danau, mereka harus rela beralih profesi lagi. Menjadi apa? Berusaha dalam bidang apa? Pasti pertanyaan itu akan terus membebani hidup mereka. Pemerintah harus segera mencari jawaban atas pertanyaan itu, sebelum semua jaring apung tidak ada lagi di Saguling.  Kita tidak boleh membiarkan mereka terkatung-katung. Alangkah bahagianya mereka apabila pengelola Waduk Saguling menunjukkan jalan usaha mereka. Mereka berharap tetap menjadi bagian dari Saguling dan mendapatkan manfaat dibangunnya bendung itu. Air danau itu kini sudah menjadi darah mereka, angin yang menimbulan riak-riak air danau itu sudah menjadi nafas mereka. Jangan biarkan mereka tercerabut dari tanah miliknya untuk kedua kalinya. ***