Jabal Uhud, Dilembah Gunung ini Terjadi Perang Besar

215

Jabal Uhud merupakan gunung yang sangat di cintai oleh Nabi Muhammad Saw. Uhud yang berarti “Penyendiri”,setiap tahun di ziarahi Nabi. Kebiasaan ini kemudian di teruskan oleh para Khalifah setelah Nabi Wafat. Kini Jabal Uhud menjadi salah satu tujuan ziarah bagi  jemaah haji maupun umroh.  Jabal Uhud adalah bukit yang di janjikan di Surga, tidak seperti  umumnya gunung yang ada di Madinah, Jabal Uhud seperti deretan gunung yang tidak bersambung dengan gunung  lainnya. Karena itulah penduduk di sekitar menyebutnya dengan sebutan “Bukit Menyendiri”. Bukit Uhud / Jabal Uhud merupakan sebuah bukit yang berjarak sekitar 5 km sebelah utara Kota Madinah, dengan ketinggian sekitar 1.077 Mdpl. Tempat ini selalu di kenang oleh umat Islam karena di lembah gunung ini pernah terjadi peperangan besar antara pejuang Islam dan kaum kafir Quraisy pada 15 Syawal 3 Hijriah (Maret 625 Masehi). Perang dahsyat antara kaum muslimin sebanyak 700 orang melawan kelompok musyrikin Mekah sekitar 3.000 orang. Dalam pertempuran tersebut kaum muslimin yang gugur ssebanyak 70 orang syuhada, di antaranya adalah paman Nabi, Hamzah bin Abdul Muththalib yang di gelari Asa ­Dullah wa Asadur Rasul (Singa Allah dan Rasul-Nya), Mush’ab bin Umair, dan Abdullah bin Jahsyin.Para syuhada itu di makamkan di tempat mereka gugur, di sekitar Gunung Uhud. Nabi Muhammad SAW sendiri dalam peperangan tersebut mendapat luka-luka. Dan sahabat-sahabatnya yang menjadi perisai untuk Rasul gugur karena badannya di penuhi dengan anak panah.

Muhammad SAW bersabda ; Mereka yang di makamkan di Uhud tidak memperoleh tempat lain kecuali ruh-nya berada di dalam burung hijau yang melintasi sungai surgawi. Burung itu memakan, makanan dari taman surga, dan tidak pernah kehabisan makanan. Pada syuhada itu berkata ; Siapa yang akan menceritakan kondisi kami kepada saudara kami bahwa kami sudah berada di surga. Maka Allah berkata ; Aku yang akan memberi kabar kepada mereka. Dari situ kemudian turun ayat (Qs 3:169) yang berbunyi ; Dan janganlah mengira bahwa orang yang terbunuh di jalan Allah itu meninggal.

46 tahun kemudian,  pada masa Khalifah Marwan bin Hakam, terjadi banjir besar sehingga makam Hamzah dan Abdullah bin Jahsyin rusak berat. Ternyata, meski sudah lebih dari 40 tahun di dalam kubur, jasad kedua sahabat itu masih segar, seperti baru saja meninggal. Jasad tersebut kemudian dikubur di tempat lain, tapi masih di kawasan Gunung Uhud.
Pada tahun 1383 H, di bangun tembok tinggi yang mengelilingi makam Hamzah dengan celah-celah jeruji, agar peziarah dapat menyaksikan makam tersebut. Di dalam areal pemakaman tidak ada tanda-tanda khusus seperti batu nisan sebagai penanda  ada makam di sana.

Kecintaan Rasulullah Saw kepada para syuhada Uhud, terutama Hamzah mendorong beliau melakukan ziarah ke Jabal Uhud hampir setiap tahun. Jejak ini di ikuti pula oleh beberapa khalifah setelah Rasullullah Saw wafat.Dengan demikian Jabal Uhud menjadi salah satu tempat penting untuk di ziarahi, terutama jemaah haji.Selain makam syuhada, tempat bersejarah lain yang ada di kawasan ini adalah Masjid Al-Fash. Di masjid ini Nabi pernah shalat zuhur setelah Perang Uhud selesai.Lokasi Jabal Uhud berjarak 4 kilometer dari Masjid Nabawi dan gunung ini termasuk yang terbesar di Madinah. Uhud memiliki keliling 19 kilometer dan dengan tinggi 1 kilometer dari permukaan air laut atau 300 m dari permukaan tanah.Meski dilimpahi mukjizat karena banyaknya syuhada yang wafat di kawasan ini saat Perang Uhud , umat Islam di larang memanjatkan doa kepada para syuhada.

Bahkan di kawasan Jabal Uhud sendiri sengaja di pasang papan pengumuman dalam berbagai bahasa, yang salah satu nya mengingat kan para peziarah agar berdoa langsung ke pada Allah SWT, bukan meminta safaat kepada para syuhada.Melihat Lokasi dan kawasan yang mengelilingi Jabal Uhud sangat terjal dan curam, banyak  orang-orang yang menangis membayangkan bagaimana dulu Rasullullah dan para syuhada melakukan perang dengan lokasi yang sangat tidak mendukung.Pada tempat pemakaman para syuhada di Jabal Uhud ini para pemerintah Arab Saudi , selain memancangkan pengumuman dalam beberapa bahasa , termasuk bahasa Indonesia yang berisi penziarah dilarang melakukan hal-hal seperti mengusap-usap kuburan, di takutkan hal ini bisa menimbul kan kemusyrikan. Seperti  di larang membawa tanah atau batu dari tempat tersebut dengan tujuan yang tidak baik.
Di tempat ini , pengunjung tidak hanya berziarah , tapi banyak  jemaah haji maupun umroh  foto bersama dan a membeli cendera mata dan kurma karena sepanjang jalan  terdapat puluhan pedagang yang menawarkan berbagai barang dagangannya. (E-001) ***