Menghindari Denda, Jeruk Lokal Rela Terdesak

275

WORLD Trade Organization  (WTO) meluluskan tuntutan Amerika Serikat dan Selandia Baru atas Indonesia. Organisasi perdagangan dunia itu menetapkan, Indonesia bersalah dan harus mengubah peraturan-peraturan tentang ekspor-impor. Kebijakan Indonesia—sesuai tuntutan sebagian masyatrakat—membatasi impor berbagai komoditas dari AS dan Selandia Baru. Kebijakan itu secara resmi dikuatkan dengan Peraturan Menteri Perdagangan RI No.30/2017 tentang Ketentuan Impor Holtikultura. AS dan Selandia Baru merasa, Indonesia melakukan proteksi terhadap hortikulturanya sehingga impor dari beberapa negara terhambat.

    Beberapa produk AS yang terdampak peraturan itu antara lain kedelai, kapas, buah-buahan segar, gandum dan sebagainya. AS dan Selandia Baru mengajukan tuntutan melalui WTO. Indonesia harus membayar denda Rp 5.04 triliun terhadap AS. Atas putusan itu Indonesdia mengajukan banding namun ternyata kalah. AS meminta Indonesia segera mengubah peratuan pembatasan impor itu.

    Dalam era perdagangan bebas, dominasi negara kuat dalam segala hal, termasuk perdagangan, makin kukuh. Organisasi perdagangan kawasan dan dunia, hampir selalu berada di pihak yang kuat. Negara berkembang tidak dapat berbuat banyak. Impor dari AS dan negara kuat lainnya tidak dapat dicegah oleh negara pengimpor sesuai peraturan internasional yang berlaku Indonesia yang merasa memiliki banyak komoditas hortrikultura wajar apabila punya niat membatas impor. Kebutuhan dalam negeri dapat terpenuhi produk lokal meski belum seluruhnya. Indonesia punya buah-buahan segar, biji-bijian, dan produk holtikultura lainnya.

    Benar, sejak terbitnya Permendag No.30/2017, impor holtikultura dari AS terus menurun. Padahal secara persentase, penurunan itu tidak tderlalu drastis bahkan tahun 2017 justru mulai naik lagi. Indonesia masuih membutuhkan kedelai, gandum, dan kapas dari AS. Buah-buahan segar, tergolong kecil dibanding komoditas impor lainnya. Indonesia memiliki banyak sentra buah-buahan segar. Jeruk yang mutunya tidak kalah dari jeruk AS, terdapat hampir di semua daerah di Indonesia. Di Jabar, banyak daerah penghasil jeruk yang terkenal seperi Garut, Kabupaten Bandung, Bandung Barat, dan sebagainya  Atas aspirasi para petani holtiokultura, pemerintah berniat membatasi impor dari AS, khususnya buah-buiahan segar. Menurut AS, niat Indonesia itu sangat menggangu neraca perdagangan dan hubungan baik kedua negara.

    Perubahan Permendag tentu menggembirakan AS. Sebaliknya, para petani holtikultura Indonesia merasa terancam. Impor buah-buahan segar dari AS akan menggelontor dan mendominasi pasar. Di tingkat global pdoduk buah-buahan segar Indonesia masih belum punya daya saing kuat. Mungkin jenis dan rasa buah-buahan Indonesia tidak kalah dibanding buah-buahan negara lain. Namun penampilan, kemasan, dan marketing, buah-buahan Indonesia tertinggal jauh. Petani dan pedagang lokal belum merasa perlu penampilan, termasuk kebersihan, serta kemasan. Pemasaran juga dilakukan tanpa terobosan yang memiliki daya dobrak.

     Konsumen buah-buahan di Indonesia masih menaruh penghargaan sangat tinggi terhadap produk luar. Mereka tidak mau memahami, buah-buahan Indonesia itu sangat baik termasuk kandungan rasa dan nilai gizinya. Mangga, pisang, nanas, manggis, durian, duku, dan sebagainya merupakan buah-buahan lokal yang punya rasa yang sesuiai dengan lidah nasional. Isilah pasar domestik dengan buah-buahan domestik pula .

     Tuntutan konsumen sederhana, para pedagang berlaku jujur, hentikanlah periolaku pedagang yang suka mencampur dagangan yang baik dengan yang busuk atau mentah. Teralah timbangan agar konsumen tidak rugi karena timbangan kurang. Tinglatkan penampilan dan kemasan, agar selalu menarik pembeli. ***