Kurban di Indonesia Bernilai Rp 60 Triliun

160

    CUKUP menggembirakan, hewan kurban yang terjual pada perayaan Idul Kurban tahun ini meningkat dibanding tahun lalu. Banyak sapi lokal yang secara fisik dan kesehatan memenuhi syarat kurban. Lebih banyak pula umat Islam yang melaksanakan kurban, baik dengan sapi maupun domba atau kambing. Sentra-sentra penggemukan sapi di seputar Bandung saja, tahun ini mengalami panen besar. Begitu pula peternak kecil yang memelihara domba atau kambing, hewan persediaannya laku.

    Badan Amil Zakat (BAZ) Nasional mencatat, untuk pembelian  dan pengurusan hewan kurban dan keperluan Idul Kurban lainnya, setara uang Rp 60 triliun lebih. Pengeluaran umat muslim untuk keperluan kurban yang cukup tinggi itu terlihat dari  peningkatan jumlah hewan kurban, makanan untuk Hari Raya Haji, dan keperkuan lainnya, mekin meningkat. Angka Rp 60 T itu cukup realistis. Harga seekor sapi antara Rp 19  – Rp 90 juta lebih. Sedangkan harga seekor domba antara Rp 2,5 – Rp 5 juta.

    Meningkatnya penjualan hewan kurban dan jumlah pekurban menandakan kesadaran umat Islam terhadap kewajiban ibadahnya semakin tinggi, ekonominya makin meningkat. Umat yang memiliki kemampuan berkurban serta kesadaran berbagi juga semakin besar.Kurban, selain wajib bagi umat Islam yang mampu, juga memiliki nilai sosial  Orang-orang yang kurang beruntung, fakir, miskin, (fukoro dan masakin) yang tidak setiap saat dapat makan daging, pada saat Hari Raya Kurban mereka mendapatkan daging kurban.

    Dengan kurban, pekurban dapat ikut meningkatkan gizi masyarakat. Namun para penerima daging kurban dari tahun ke tahun belum berkurang bahkan cenderung bertambah. Antrean masyarakat penerima daging kurban di tiap masjid tampak makin panjang bahkan ada yang berdesakan. Kalau masyarakat makin sejahtera kaum fakir miskin berkurang, tidak akan ada lagi yang antre untuk setengah /satu kilogram daging campur tulang dan jeroan.

   Di Arab Saudi dan negara Arab lainnya, tidak ada orang yang memenuhi syarat sebagai penerima daging kurban. Setiap tahun, masyarakat di negara-negara sejahtera itu mengirimkan daging hewan kurban ke negara-negara yang rakyatnya menderita, di Afganistan, Palestina, dan beberapa negara di Afrika. Di Indonesia masih banyak rakyat yang mengharapkan pemberian daging kurban. Masyarajat yang tengah menderita akibat bencana gempa di Lombok dan Nusa Tenggara Barat lainnya, masyarakat yang tergusur longsor di beberapa tempat, korban gunung meletus seperti di Sumatera Utara, Bali dan sekitarnya, hampir tidak terjangkau para pekurban dari Pulau Jawa.

    Dapatkah panitia kurban di masjid-masjid di Jabar, atas kesepakatan dengan para pekurban, menyisihkan seekor atau dua ekor hewan kurban. Bekerja sama dengan Kantor Kementerian Agama setempat, panitia mengirimkan hewan kurban itu untuk masyarakat korban bencana di mana pun di Indonesia. ***