Ir. Hj. Metty Triantika, Menggali Ilmu Baru Untuk Meningkatkan Kualitas

283

Lahir di Sukabumi  5 Oktober 1971, pengusaha berhijab modis ini merupakan pemilik / pendiri PT. Sae Citra Endah (Saecon), CV Panata Sae, PT. Iklametco Jaya Semesta, CV. Antika Jaya serta CV.Sarana Info Gintya.

Selain sebagai pengusaha dan konsultan, Ir. Hj. Metty Triantika juga aktif berorganisasi,  antara lain sebagai bendahara di Ikatan Konsultan Indonesia (Inkindo) Jabar,  bendahara di Ikatan Tenaga Ahli Konsultan Indonesia (Intakindo) Jabar,  dan bendahara  di Persatuan Bola Voli Indonesia (PBVSI) Jabar,  anggota Komite Desain dan Arsitektur Kadin Kota Bandung,  sekaligus sebagai Wakil Ketua Bidang UMKM Kosgoro 57 Jabar,  serta bendahara di Kesatuan Perempuan Partai Golkar (KPPG) Jabar.

Istri dari Ir.H.Agung Triwibowo (47) ini adalah lulusan S1 Fakultas Teknik Planologi Universitas Islam Bandung (Unisba) tahun 1996.   Ketertarikannya pada dunia konsultan,  dikarenakan ia adalah lulusan Planologi dan berada dilingkungan dunia konsultan.   Bisnis di bidang konsultan memberi rasa nyaman baginya,  khususnya ketika ia bekerja sebagai konsultan teknik.

“Berkaitan dengan latar belakang pendidikan saya yang lulusan Planologi Unisba,  serta S2 Perencanaan Wilayah Kota di Universitas Krisna Dwipayana (Unkris) Jakarta,  dan sayapun menjalani perkuliahan di S2 Ikopin-Jurusan Sumber Daya Manusia (SDM).   Keluarga saya juga dari kalangan konsultan dan kontraktor.   Ibu tercinta saya,  Hj.Komariah,  semasa mudanya juga seorang kontraktor.   Berbagai profesi sempat saya jalani,  karena pada dasarnya saya suka mencoba berbagai hal. Saya tidak ragu untuk melakukan pekerjaan apa saja,  selama itu halal”,  ungkapnya kepada BB di Bandung.

Metty mengaku bahwa,  ia mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang konsultan perencanaan kota dan wilayah (PT Zonasi Konsultan), arsitektur dan lain-lain, adalah bekerja sama dengan kakaknya,  yakni Ir.H. Doddy Achmad Firdaus (Mantan Ketua Inkindo Jabar) dan Dra.Hj.Susy Rosiyantini.   Di perusahaan ini Ir. Hj. Metty menjabat sebagai salah satu direktur.  Setahun kemudian untuk pengembangan,  pihaknya membeli perusahaan lagi dari kakak kelasnya sewaktu kuliah (H. Endang Syahrudin),  yaitu CV. Sae Citra Endah (Saecon), perusahaan kecil yang berada di daerah Tasikmalaya.

“Dari sekian banyak perusahaan yang dijual oleh pemiliknya, CV. Sae Citra Endah (Saecon) inilah yang menarik bagi saya,  karena saya suka namanya,  walaupun waktu itu harganya relatif mahal,  mungkin memang sudah jodohnya untuk membeli Saecon.   Perusahaan ini yang statusnya semula CV,  dinaikkan statusnya menjadi PT,  karena target market yang lebih besar,  dan domisilinya saya pindahkan dari Tasik ke Bandung,”  tutur Metty.

Ibu dari Iqlima Sekar Prameswari (19) – kuliah di Fakultas Kedokteran Maranatha Bandung,  Satrio Muhammad Maheswara Agung (8) – kelas 3 SD Mutiara Bunda Bandung,  dan Raisha Calista pramesti (5) –  sekolah di TK Cendekia Muda Bandung ini mengaku bahwa,  ia sudah hampir 22 tahun menggeluti dunia konsultan.   Spesialisasinya adalah di bidang konsultan konstruksi dan non konstruksi,  seperti perencanaan wilayah kota, arsitektur, sipil dan lingkungan, juga manajemen keuangan maupun pengawasan.

“Saya memilih bidang tersebut,  karena ketertarikan saya di bidang ini sangat kuat, dan disinilah pengabdian hidup saya,  dimana saya bisa  berkontribusi dalam perencanaan maupun pembangunan  yang lebih baik,  dan saya bisa  terlibat langsung untuk merencanakan sebuah kota yang ideal,  yang sesuai kaidah lingkungan dan kebutuhan manusianya.   Keunikannya,  tidak semua kota bisa direncanakan sama dengan kota lain,  tapi kita terlebih dahulu harus mempelajari dan mengidentifikasi potensi masalah yang ada di masing-masing daerah, sehingga  kita bisa merencanakan kota yang sesuai dengan tingkat kebutuhan masing-masing.   Disinilah uniknya,  karena Indonesia merupakan wilayah yang sangat beragam dengan latar belakang yang berbeda-beda,  mulai dari karakteristik wilayahnya,  lingkungan sosial budaya dan lain sebagainya,”  ujar Metty.   Keunikan ini sekaligus akan menjadi tantangan yang menarik untuk membangun dan merencanakan kota yang baik .

Diakui pula oleh Metty bahwa,  segmen pasar jasa konsultannya selama ini berasal kalangan pemerintah maupun swasta.   PT. Saecon yang dipimpinnya,  banyak menggarap proyek hampir di seluruh Indonesia,  antara lain di Batam dan di perbatasan pulau-pulau Indonesia.   Namun,  PT. Saecon juga sering mengerjakan proyek di wilayah Priangan Timur.

Penganut motto hidup “Kesempatan tidak datang secara kebetulan, tapi harus kita ciptakan” ini,  selalu berusaha untuk positif thinking, bekerja keras dan selalu berbuat baik,   sehingga hal yang luar biasa akan terjadi.

Metty mengakui bahwa,  selama menekuni dunia konsultan,  ia bisa keliling seluruh Indonesia,  bahkan hingga ke luar negeri.   Pengalaman ini bisa untuk menambah pengetahuan dan meng “up gread” ilmunya,  sekaligus juga bisa bertemu banyak orang dengan berbagai latar belakang maupun jabatan,  termasuk perilaku yang beragam,  dan semua itu harus dihadapi,  walau terkadang ada yang membuat ia tersenyum sendiri karenanya.

“Dunia usaha selalu dihadapkan pada dua sisi,  yakni untung – rugi,  maupun pasang – surut.   Semua itu pasti terjadi dalam dunia usaha.   Jatuh bangun dalam dunia usaha merupakan hal yang sering dilalui oleh setiap pengusaha.   Hal yang spesifik misalnya,  terkadang ada yang nyinyir dan  itu biasanya dilakukan oleh mereka yang tidak paham tentang pentingnya produk perencanaan.   Namun,  tapi tidak demikian dengan mereka yang sudah paham,  karena bagi mereka,  yang dihasilkan adalah ide dan gagasan serta analisis perencanaan,  yang seringkali dianggap tidak berguna serta terlampau mahal.   Padahal anggapan tersebut tidak benar,  karena embrio keberhasilan pembangunan haruslah selalu diawali dengan perencanaan yang matang, baik dan benar,  serta sesuai dengan aturan maupun karakteristiknya,  sehingga pembangunan dapat dilaksanakan dengan tepat sesuai aturan, bahkan berwawasan lingkungan,”  ungkap Metty.

Ir. Hj. Metty Triantika mengutarakan juga bahwa,  ia tidak akan merekomendasikan kepada anak anaknya untuk mengikuti jejaknya.   Menurutnya,  anak memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan terbaik bagi dirinya sendiri.   Sebagai orang tua,  ia hanya mengarahkan dan memberi support untuk meraih cita-cita mereka sendiri.   Kecuali,  bila anaknya menginginkan dan tertarik untuk bergerak di bidang yang sama.    Bagi Metty sendiri,  orang yang paling berjasa dalam kehidupan karirnya adalah ibu dan bapaknya.

“Karena beliau tidak pernah lelah dalam memberi support kepada saya,  baik secara moril maupun materiel.   Suami serta anak-anak saya juga selalu memberi support,  bahkan mereka bisa memahami dan memaklumi kelebihan maupun kelemahan saya.   Untuk meningkatkan kualitas diri dan profesi,  saya selalu berusaha untuk bekerja sebaik baiknya dengan terus menggali ilmu,  sehingga pengalaman dan wawasan bisa terus bertambah,”  ucap Hj. Metty Triantika.

Penggemar warna hitam, putih dan kuning ini menambahkan bahwa,  saat ini persaingan usaha sudah semakin ketat,  apalagi dengan banyaknya perusahaan asing yang masuk ke Indonesia.   Walaupun demikian,  kita  tidak perlu patah semangat,  tapi justru kita harus  meningkatkan kemampuan,  dan memahami segala aturan yang berlaku,  sehingga bisa membuat strategi-strategi jitu,  serta terus menggali ilmu baru yang bisa membantu  untuk peningkatan kualitas diri.   “Selain itu juga,  kita harus tetap tawakal,  karena pada dasarnya rejeki sudah diatur oleh Allah SWT,  selama kita giat bekerja dan terus berikhtiar,”  pungkas Metty.

(E-018)***