Dari Laja sampai Bubur

154

RABU Pon, 24 Zulhuijah (Rayagung) 1439 H bertepatan dengan tanggal 5 Septembetr 2018, H.M. Ridwan Kamil,ST,MUD dan H. Uu Ruzhanul Ulum,SE, dilantik menjadi Gubernur Provinsi Jawa Barat masa bakti 2018 – 2023. Bersama 9 gubernur baru lainnya, Ridwan – Uu (pasangan Rindu) resmi menjadi orang nomor 1 Jabar. Kang Emil (julukan dari warga Bandung), bergeser dari Balai Kota di Jl. Wastukancana ke Gedung Sate di Jl. Diponegoro, Kota Bandung. Haji Uu, hijrah dari Tasikmalaya ke Bandung.

Terjadi dua peristiwa  emosional, penuh haru, di Balai Kota dan Gedung Sate. Ridwan Kamil dilepas semua aparatur sipil negara (ASN) Pemkot Bandung dan perwakilan warga melepas mantan ”dunungan” mereka, Walikota Bandung Ridwan Kamil. Selasa sore, sehari menjelang pelantikan, di hadapan ratusan ASN Pemkot Bandung di Balai Kota, Kang Emil nyaris tak dapat membendung air matanya.”Saya ingin pergi dengan lapang dada,” katanya terbata-bata.

Selama lima tahun, Kang Emil bekerja  bersama ratrusan ASN Pemkot Bandung. Merasakan manis-pahit menunaikan tugas pemerintahan. Banyak ASN yang semakin dekat secara pribadi dengan keluarga Kang Emil. Lima tahun bersama-sama melakukan perubahan baik dalam penataan kota maupun kebudayaan. Para ASN Pemkot Bandung meminta agar Emil tidak melupakan Kota Bandung. ”Jangan membiarkan rencana pembangunan baik yang sudah setengah jalan maupun yang masih dalam rencana, terus dipantau oleh Gubernur Ridwan Kamil,” kata salah seorang wakil ASN.

”Saya sangat mencintai kota ini,” kata Emil. ”Karena itu saya berani melepaskan profesi saya sebagai arsitek dan dosen dengan tingkat kesejahteraan yang lebih. Karena kecintaan itulah, saya bekerja sebagai walikota tidak apa adanya,” ujarnya.

Masyarakat di luar ASN Pemkot Bandung berharap, Gubernur Jabar meluaskan pandangannya dari Bandung sentris ke wilayah dan masayaakat Jabar yang jauh lebih luas dan lebih kompleks. Pembangunan untuk meningkatkan pemerataan kesejahteraan masyarakat Jabar harus menjadi prioritas. Beberapa PR di Kota Bandung, percayakanlah kepada walikota baru. Mulailah dengan menata kehidupan masyarakat di daerah yang jauh dari kota. Jangan sampai mereka merasa dianaktirikan kemudian punya keinginan melepaskan diri dari lingkungan pemerintrahan Provinsi Jabar.

”Segera laksanakan nawarasa atau menu menyehatkan yang menjadi acuan pasangan Rindu,” kata salah seorang pengamat pembangunan Jabar. Pada kampanye pilkada, pasangan Rindu menyampaikan Sembilan Menu Menyehatkan yakni laja (lapangan kerja), semur (sembako murah), jamu (jalan mulus), opak (one –produk/one kampung), wajit (pariwisata jitu), cikur (Citarum kita juara), talas (petani dan nelayan sejahtera), lemper (lembur raang/penuh listrik), dan bubur (buruh bisa makmur).

Walikota dengan 345 penghargaan itu diantar semua mantan anak buahnya sampai gerbang. Ia sudah bukan Walikota Bandung lagi. Ia adalah Ridwan Kamil. Orang nomor satu di Jabar.

Suasan haru juga terjadi di Gedung Sate. Pada hari yang sama Pejabat Gubernur Jabar, Mohamad Iriawan, berpamitan kepada ASN Provinsi Jabar, khusunya kepada awak media yang ”berdinas” di Gedung Sate. Meskipun hanya 2,5 bulan menjabat Gubernur Jabar, Iwan Bule merasakan suasana yang sangat sejuk berada di tengah-tengah masyarakat Jabar. ”Sungguh, masyarakat Jabar, sangat santun, memahami apa yang diinginkan pemda. Kami bangga ada di Jabar. Terima kasih dan saya mohon maaf kepada rakyat Jabar, saya belum bisa memberi yang terbaik,” ucapnya dengan suara sedikit bergetar.

Sejak Rabu, bersamaan dengan dilantiknya pasangan Rindu sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jabar, Moh. Iriawan, kembali ke wilayah tugasnya di Lemhanas. Jenderal Polisi yang pernah menjadi Kapolda Jabar itu sungguh mendapat tempat di hati ASN Gedung Sate dan masyarakat Jabar. Mereka merasakan, Moh. Iriawan sebagai orang tua yang patut diteladani.

Terima kasih, Pak Iwan. Anda benar-benar pengusung citra polisi yang sangtun, pelindung, dan pengayom masyarakat. Selamat jalan, semoga sukses dalam menjalankan tugas apa dan di mana pun. Wilujeng! ***