9,8 Miliar Kantong Plastik, 95% Menjadi Sampah

204

BISNIS BANDUNG– Koordinator Nasional Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik, Rahyang Nusantara, S.P menyebutkan, berdasar data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyebutkan, kurang lebih 9,8 miliar lembar kantong plastik setiap tahunnya digunakan masyarakat Indonesia . Dari jumlah sebanyak itu, hampir 95 % menjadi sampah. Rata-rata penggunaan kantong plastik antara 1-3 lembar setiap konsumen belanja . Merujuk pada hasil riset  Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta dan Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP), konsumsi kantong plastik mencapai 240 – 300 juta lembar/tahun atau 1.900 – 2.400 ton/ tahun, setara dengan berat 124 bus TransJakarta.

Rahyang menyebut pula data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2016 mengenai produksi sampah harian . Tertinggi berada di Pulau Jawa, khususnya Surabaya. Pada 2015, produksi sampah di Surabaya sebesar 9.475,21 meter kubik dan meningkat menjadi 9.710,61 meter kubik pada tahun 2016. Kemudian Jakarta dengan jumlah penduduk sekitar 10,25 juta jiwa pada 2016, produksi sampahnya kurang lebih sebanyak 7.099,08 meter kubik, meningkat dari 7046,39 meter kubik dari tahun sebelumnya. Wilayah lain di luar Pulau Jawa yang produksinya tinggi adalah Kota Mamuju,  yaitu 7.383 meter kubik dan Kota Makassar,  5.931,4 meter kubik pada 2016. Dari pemantauan Statistik Lingkungan Hidup pada 2010 hingga 2016,  kota-kota di Indonesia pada umumnya mengalami kenaikan produksi sampah. ”Tentunya  Pulau Jawa merupakan penyumbang terbesar karena kepadatan penduduknya lebih tinggi dibandingkan pulau lainnya,”tutur Rahyang .

Menurutnya, ada beberapa faktor yang menentukan naik turunnya volume sampah. Selain pengaruh tingkat kesadaran, juga dipengaruhi kepadatan penduduk dan industri. Kebijakan pemerintah daerah di antaranya  menjadi salah satu faktor. Kota Banjarmasin, misalnya. sejak tahun 2016, Kota Banjarmasin sudah menerapkan pelarangan kantong plastik di toko modern. Hasilnya terdapat pengurangan sebesar 5,4 juta lembar/tahunnya. “Beberapa kota sudah  mulai mendaur ulang sampah. Seperti di Kota Depok dengan  menggunakan ember mengompos sisa-sisa makanan dari rumah. Kota Bandung, Kota Cimahi, dan Kabupaten Bandung  menerapkan konsep zero waste cities di beberapa kelurahannya. Namun, masih ada saja sampah yang berserakan.  Tentu saja karena masih ada masyarakat yang tidak bertanggung jawab masih membuang sampah sembarangan”, ungkap Rahyang.baru-baru ini.

Dampak membuang sampah sembarangan, menurut Rahyang , di antaranya dapat memicu sedimentasi sungai, waduk, bahkan laut. Sampah yang dibuang masyarakat ke sungai  atau anak sungai  terkumpul dan mengendap dan menyebabkan pendangkalan yang berdampak pada daya tampung air.. Untuk lautan, membeludaknya sampah plastik mengancam populasi terumbu karang. Terumbu karang yang tersumbat sampah plastik berisiko 20 kali lebih besar terkena penyakit. Hal itu akan berdampak buruk pada kelangsungan ekosistem laut. Sungai di Indonesia yang berkontribusi pada pencemaran plastik . Antara lain Sungai Brantas di Jawa Timur (jumlah sampah plastik mencapai 38,900 ton/tahun), Sungai Bengawan Solo (32,500 ton), Sungai Serayu (17,100 ton) dan Sungai Progo (12,800 ton). Ketiga sungai  ini berada di wilayah Jawa Tengah.

 Untuk masalah sedimentasi yang terjadi di sungai atau danau,  umumnya dilakukan dengan pengerukan . Salah satunya dilakukan  pada danau Sunter, Jakarta. Pengerukan danau untuk merevitalisasi fungsi danau sebagai resapan dan pengendali banjir. Menurut Subdirektorat Pemolaan Direktorat Perencanaan dan Evaluasi Pengendalian Daerah Aliran Sungai Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (PDASHL), sedimentasi di Indonesia sangat tinggi,  lebih dari 250 ton/tahun. Kerugian akibat erosi di Indonesia ini mencapai 400 juta dolar/tahun atau sekitar Rp 5 triliun.

”Lainnya halnya dengan perairan  danau, aliran air  sungai bisa mengalirkan bahan berbahaya dengan cepat. Pada sedimen sungai, ditemukan unsur beracun. Akibat banjir bandang ,, bahan-bahan beracun jadi tersebar,”ujar Rahyang menjelaskan zat beracun.

 Terkait hal sungai yang dijadikan tempat pembuangan limbah beracun, menurut Rahyang di butuhkan peraturan yang ketat dan tegas. Untuk mewujudkannya, lanjut Rahyang ,  butuh perubahan budaya membuang sampah melalui pendidikan dan  pemahaman akan lingkungan yang holistik.  (E-018)***