Korban Program Gratis BBNKB…

235

SAYA adalah salah seorang “korban” program bebas bea balik nama kendaraan bermotor (BBNKB) di Provinsi Jawa Barat yang berlangsung  1 Juli hingga 31 Agustus 2018. Tentunya masih  banyak  pula  yang kecewa, karena salah  menafsirkan  dalam mengikuti program tersebut.

Maksudnya “korban”  saya  harus membayar normal, tidak gratis seperti dijanjikan!  Saya mengikuti  program  itu  untuk  mobil 2.494 cc tahun  pembuatan 2011. Program BBNKB gratis tersebut satu paket dengan pembebasan denda pajak kendaran bermotor (PKB) untuk kendaraan roda empat dan roda dua.

Sejak  mengurus awal Juli  saya harus datang  lebih  pagi  lantaran  antrean yang  panjang di dua kantor samsat Kota Bandung  yakni Kawaluyaan dan Sokerno Hatta  guna mencabut berkas. Setelah selesai  kurang lebih satu minggu, saya menyerahkan berkas ke kantor samsat  Kabupaten Bandung di Soreang dan diterima  oleh petugas  tanggal 16 Juli— tentunya  dengan beberapa  persyaratan  yang harus dipenuhi—

Saya paham proses pembayarannya  tidak  selesai hari itu, karena  diperlukan  penelitian dan verifikasi dari dokumen yang masuk.  Petugas  di samsat Soreang menyuruh  saya mencatat nomor handphone  di map  yang berisi berkas untuk  kemudian diberi tahu  setelah  proses BBNKB dan STNK selesai.

Ketia saya melakukan pengurusan BBNKB, pajak  mobil di STNK masih berlaku/ berakhir    Januri 2019. Jadi  setelah  memperoleh  resi atau  bukti keterangan  pengurusan  BBNKB dan STNK di Soreang,  saya  cukup tenang  walau STNK  asli ditahan guna  diperbarui. Saya pun menunggu dikontak/telepon   pemberitahuan selama  Juli dan Agustus.

Namun  apa yang terjadi?  Saya hanya menunggu dan menunggu yang  tak kunjung  ada pemberitahuan. Maka pada 5 September 2018, saya  kembali datang ke kantor samsat Soreang. Saya mendapat kabar  menyedihkan dari orang  yang bernasib  sama  mengurus surat kendaraan  bahwa yang pembayarannya  melewati  Agustus, berlaku normal  seperti biasa. Haahhh….

Saya  mengelus dada  dan berusaha untuk bersabar  lantaran harus merogoh kocek  sebesar Rp 6.607.400,(BBNKB  2.680.000 dan denda 670.000,  PKB 2.872.700,  SWDKLLJ 84.700, penerbitan STNK 200.000 dan penerbitan TNKB 100.000).  Belum  termasuk pencabutan berkas Rp 250.000 di Kota Bandung dan  pembaruan BPKB  Rp 375.500 di Kab.Bandung.  Padahal  kalau sesuai  program  BBNKB  saya tidak harus membayar BBNK 2.680.000  dan denda Rp 670.000 yang  kalau dijumlahkan sebesar Rp 3.350.000.

Inilah sisi lain dari program BBNKB  dan pembebasan denda PKB bagi saya. Dan  masih banyak yang  belum  mengetahui atau  keliru menafsirkan,  artinya tidak memahami  bahwa  1 Juli  sampai 31 Agustus 2019 itu sebagai masa pembayaran, bukan  sekadar  mengurus serta memasukan berkas yang diperlukan. Nah!

Denadi, Nata Endah Kopo Bandung