Wisata Ziarah Makam Keramat Marongge Banyak Dikunjungi Kaum Hawa

1625

Kota Sumedang  sebuah kota kecil yang berbatasan langsung dengan Kota Bandung. Jarak dari pusat Kota Bandung lebih kurang 60 kilometer. Aksebilitas menuju kota ini sangat mudah. Masyarakat Sumedang di kenal sebagai masyarakat agraris yang menjunjung tinggi kebudayaan Sunda. Berbagai peninggalan bersejarah bertebaran di wilayah kabupaten ini,  antara lain peninggalani masa kerajaan Sumedang Larang. Perjalanan Mandalawangi kali ini, tidak terlalu jauh dari pusat Kota Sumedang, yakni menuju ke Desa Marongge,Kecamatan Tomo,Kabupaten Sumedang.

Di tempat ini terdapat sebuah petilasan yang di kenal dengan nama makam keramat Marongge. Tempat wisata ziarah ini sangat asri,terletak di atas perbukitan dengan berbagai fasilitas pendukung cukup lengkap. Sebelum memasuki kawasan ini, pengunjung harus lapor kepada  petugas  . Di perbukitan yang di namakan Gunung Hade terdapat beberapa peninggalan , pertama adalah petilasan Mbah Aji Putih Jaga Riksa,berupa batu berbentuk menhir yang di tutupi kain putih.Sedikit menanjak dari lokasi ini, masih di puncak bukit Gunung Hade,terdapat petilasan lain  berupa meja batu, konon dahulu kala di sinilah  Mbah Gabug melakukan semedi.

Menurut sejarahnya makam Marongge, adalah makam Embah Gabug dan tiga saudaranya bernama, Embah Setayu, Embah Naibah dan Embah Naidah.Mereka ini merupakan bala tentara dari Mataram yang di utus oleh Sultan Mataram untuk menangkap raja  kerajaan Talaga. Menurut hikayat yang di sampaikan oleh Abah Dede dari Dewan Makam Marongge, Raja Talaga disebut-sebut  telah melakukan penghinaan kepada sang Sultan Mataram.Singkat cerita karena kesaktiannya , sang Raja Talaga tidak berhasil di tangkap, bahkan tentara yang utus takluk kepada sang Raja Talaga. Disebabkan takut akan hukuman Sultan Mataram,kemudian mereka meminta izin untuk bermukim di sepanjang kali Cilutung. Saat ini  makamnya yang terletak di dalam sebuah bangunan permanen, peziarah khususnya perempuan biasanya melakukan tirakat serta tidur di kompleks makam ini.

Menurut kuncen yang mengantar kami,biasanya ada sebuah ritual khusus yang di namakan kliwonan, di gelar setiap malam Jumat kliwon. Prosesinya sendiri di mulai tengah malam dengan memanjatkan doa kepada sang pencipta, walohualam bissawab. Setelah selesai para peserta ritual ada  yang mandi di kali Cilutung. Konon pada masa lalu, di kali Cilutung inilah di langsungkan sayembara oleh empat putri cantik, sayembara di ikuti oleh raja raja yang ingin menjadikan putri – putri ini sebagai istrinya.Sayembara ini berupa, barang siapa yang bisa menarik kembali sebuah ‘kukuk’ (buah labu) yang dihanyutkan di sungai,maka orang itulah yang akan menjadi suaminya.Namun, tak seorang pun raja yang berhasil memenangkan sayembara tersebut. Para raja tidak  berhasil meraih kemenangan dalam sayembara, kini makam  ke empat putri itu ,  diberi nama Marongge. (E-001) ***