” Tana Layu” Edelweis Bunga Abadi Dataran Tinggi Tengger

1213

Bunga Edelweis dikenal sebagai bunga keabadian. Dalam bahasa sansakerta termakna sebagai Tana Layu , artinya tidak layu. Bunga itu cukup populer di kalangan para pendaki, sebagai bunga endemik dataran tinggi yang bisa ditemukan di atas ketinggian 2.000 meter dari permukaan laut. Mitos tentang keabadian menjadikannya bunga itu menjadi spesial yang banyak diburu. Tak jarang para pendaki nekat memetik edelweis meski ada peraturan  tentang pemetikan bunga itu. Masyarakat daerah pun terkadang sering memetik bunga edelweiss dengan tujuan ritual.  Sadar bahwa bunga edelweiss rawan terhadap kepunahan, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru mulai melakukan budidaya bunga edelweis.

Langkah itu dilakukan bukan semata-mata untuk komersialisasi, namun sebagai upaya atau cara untuk menjaga  bunga edelweiss tidak punah. Aktivitas budidaya bunga edelweiss juga dilakukan di beberapa tempat lain, seperti di kawasan pegunungan Dieng. Cara itu diharapkan bisa mengurangi aksi usil para pelancong dan pendaki  agar tidak  memetik edelweiss liar di gunung, namun bisa membeli dari tempat budidaya.Khusus untuk masyarakat Tengger,mereka banyak membutuhkan bunga edelweis untuk keperluan adat. Bunga edelweis  dibudidayakan oleh masyarakat Suku Tengger Gunung Bromo di Dusun Wonomerto, Desa Tosari, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan. Budidaya  dilakukan warga Suku Tengger yang tergabung dalam Komunitas Bala Daun. Mereka memanfaatkan benih bunga edelweis sisa upacara adat untuk disemai kemudian dilakukan pembibitan.

Tahap pertama pembibitan yang  dilakukan, yakni pemilihan bunga yang sudah tua yang warnanya kecokelatan.  Setelah dipetik dikeringkan di tempat  datar. Proses ini dilakukan agar biji keringnya merata, selain untuk mencegah pembusukan oleh jamur.Langkah berikutnya, yakni melakukan pemisahan biji dari bunga yang sudah kering. Caranya dengan mengguncang-guncangkannya dalam wadah tertutup seperti toples. Ketika dilakukannya cara itu, biji dan benangsari akan terpisah mengendap di dasar wadah. Kemudian  biji yang telah terpisah dari bunga disimpan dalam plastik kedap udara agar kualitas terjaga. Tahap berikutnya adalah penaburan biji di media tanam, berupa tanah halus sedikit berpasir. Tanah itu dianggap tepat karena menyesuaikan dengan ukuran biji edelweis yang besarnya tidak lebih dari satu milimeter.

Penyemaian bisa menggunakan polybag yang telah diisi media tanam dan disiram hingga basah. Biarkan air meresap dan setelah tidak menggenang di media tanam, biji mulai  ditabur (disemai). Media tanam harus diletakkan pada tempat yang terlindung dari paparan sinar matahari langsung dan percikan air hujan. Langkah berikutnya, pemisahan biji yang mulai berkecambah setelah berumur tiga hari. Perawatan berupa menjaga kelembaban media perlu terus dilakukan sampai berusia dua bulan atau siap disapih. Penyapihan utamanya diterapkan pada semai yang sudah memiliki minimal lima helai daun besar. Proses penyapihan dilakukan dengan stik pipih secara hati-hati agar akar tidak rusak. Bibit  bisa disiram setiap hari sejak penyapihan  . Bibit  siap ditanam setelah tiga bulan atau setinggi 30 sentimeter. (E-001) ***