Inovasi Produk Ice Cream Atasi Kenaikan Bahan Baku

22

PENGUATAN kurs dollar AS mempengaruhi bisnis es krim PT Campina Ice Cream Industry Tbk (CAMP). Sebab, sebagian bahan baku CAPM berupa susu jenis skimed milk diimpor dalam dollar AS.

Adji Andjono, Direktur Pemasaran CAMP mengatakan bahwa bahan baku tersebut memang masih diimpor, salah satunya dari negara New Zealand. “Untuk itu kami hitung ulang cost production-nya, serta melakukan variasi bentuk di es krim kami sendiri,” terangnya kepada wartawan, Senin (1/10).

Namun hal tersebut tak serta merta membuat manajemen menaikkan harga produk es krim. Sebab pertimbangannya, es krim tidak dianggap makanan pokok, sehingga menaikkan harga cukup berisiko.

“Apalagi di tengah persaingan harga murah oleh pendatang es krim baru lainnya, faktor kompetisi ini harus dicermati baik-baik,” ungkap Adji. Oleh karena itu, upaya yang dilakukan CAPM ialah melakukan inovasi lewat bentuk dan volume produk es krim.

Sebab setiap jenis produk es krim akan membutuhkan bahan baku susu dengan kadar yang berbeda-beda. “Maka itu, komposisi bahan baku terhadap produk jadi diperhitungkan,” kata Adji.

Meskipun beban naik, bisnis es krim masih sangat menjanjikan. Apalagi jika musim kampanye pilpres tiba, Adji berharap, ada pertumbuhan daya beli saat pesta demokrasi di Indonesia berlangsung sehingga berdampak pada pertumbuhan konsumsi produk makanan dan minuman.

Pasar di Indonesia ke depannya juga masih sangat menjanjikan bagi produk es krim, sebab konsumsi masyarakat Indonesia masih rendah hanya 0,7 kilogram es krim per kapita. Sedangkan, negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura masing-masing mencapai level 2,6 kilogram per kapita dan 5 kilogram per kapita.

“Dengan bertambahnya populasi di negara ini serta pergeseran urban life style jadi peluang bagi pasar es krim,” kata Adji. Sampai akhir tahun 2018, CAPM menargetkan pertumbuhan bisnis sekitar 8%.

Mengintip laporan keuangan semester-I 2018, laba bersih setelah pajak atau laba bersih CAMP meningkat pesat 225,35% menjadi Rp 32,47 miliar dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 9,98 miliar. Padahal penjualan bersih perusahaan CAMP cuma tumbuh tipis 1,57% menjadi Rp 488,34 miliar dari periode sama tahun lalu sebesar Rp 480,78 miliar.

Saat ini CAMP memiliki 60 distributor. Sebanyak 30 distributor miliki perusahaan dan 30 merupakan pihak ketiga. Sampai akhir tahun, CAMP belum berencana menambah distributor tetapi memperluas pemasarannya ke kota-kota sekunder. (C-003/kontan)***