Mengukir Peluang Di Atas Buah-Buahan

26

DALAM sebuah perhelatan, dekorasi merupakan bagian yang menjadi pusat perhatian para tamu atau pengunjung. Tak heran jika banyak orang berlomba untuk menampilkan dekorasi yang unik dan menarik dalam setiap acaranya.

Bahkan ada beberapa orang atau perusahaan yang rela menggelontorkan berapa pun biaya untuk keperluan dekorasi itu.

Salah satu produk seni yang bisa menjadi alternatif dekorasi sebuah acara adalah buah ukir atau yang lebih populer dengan sebutan fruit carving. Seni ukir buah sendiri sebenarnya sudah ada di Indonesia sejak lama. Namun, baru berkembang cukup pesat beberapa tahun belakangan. Motif dan ragam bentuk yang dihasilkan pun makin beragam.

Pasar fruit carving di Indonesia juga makin berkembang dan menjanjikan. Mulai banyak acara formal maupun non-formal yang menggunakan produk fruit carving untuk mempercantik dekorasi. Wajar saja jika profesi sebagai para ahli ukir buah atau yang dikenal dengan istilah fruit carving artist makin digandrungi.

I Nyoman Putra Yasa, fruit carving artist sekaligus pemilik Bali Carving Artist asal Ubud, Bali mengatakan, kebutuhan masyarakat akan produk fruit carving untuk dekorasi makin bertambah tiap tahunnya. Pria yang memulai usahanya sejak empat tahun silam ini mengakui, terjun di dunia fruit carving karena melihat peluang banyaknya permintaan dekorasi dari hotel dan resto di sekitar Bali.

Awalnya, pria yang akrab disapa Putra ini hanya perajin ukir biasa. Media yang biasa dia ukir itu adalah kayu atau batu. Di Ubud, Bali, memang  tergolong gudang perajin ukir seperti Putra.

Sekitar empat tahun lalu, seorang teman yang bekerja di hotel memberi informasi bila hotelnya butuh dekorasi ukiran tapi dari buah atau sayur. “Dari situlah saya mulai membikin fruit carving,” jelas Putra.

Motif burung merak

Putra pun menggunakan kombinasi beberapa jenis buah dan sayuran untuk kreasi fruit carving. Beberapa buah dan sayuran yang sering digunakan seperti semangka, pepaya, wortel, lobak dan beberapa jenis labu, yakni labu butternut dan labu parang. Ia sengaja menggunakan jenis buah dan sayuran yang keras agar hasil karyanya lebih tahan lama.

Jenis buah dan sayurannya harus yang keras dengan  kulit atau buahnya tebal. “Karena kalau yang daging atau kulitnya tebal lebih mudah dibentuk dan lebih kokoh nanti hasilnya,” tuturnya.

Putra termasuk fruit carving artist yang selektif dalam memilih bahan baku fruit carving. Menurutnya, bahan baku merupakan salah satu kunci untuk menghasilkan hasil karya yang baik, di samping teknik yang tepat.

Produk buah ukir buatan Putra dibanderol mulai Rp 300.000 sampai Rp 3 juta per paket. Ia mengatakan, harga tersebut bisa berubah, tergantung ukuran, bentuk, dan harga bahan baku buah atau sayuran yang digunakan.

Bulan lalu, sebagai contoh, dia diundang ke Jakarta untuk mengukir buah. “Saya dibayar Rp 5 juta. Semua bahan sudah dari klien, tiket pulang pergi juga ditanggung mereka. Saya ke sana hanya mengukir,” ungkapnya.

Putra mengembangkan berbagai motif ukiran pada produk buah ukir, seperti motif bunga, ukiran wajah, topeng wayang, sampai aneka motif hewan seperti ikan dan merak. Salah satu bentuk fruit carving yang menjadi andalan Putra, yakni burung merak.

Karakter burung merak ini menjadi favorit banyak konsumen, terutama untuk acara pernikahan. Burung merak hasil karya tangan Putra memang cantik dan nampak detilnya. Tak heran jika banyak acara pernikahan di Bali yang memesan burung merak fruit carving buatan Putra.

Dia menyatakan, pesanan pasti ada saja, karena di Bali setiap minggu pasti ada yang menikah. “Dan motif burung merak banyak dipesan karena mengandung makna filosofi. Burung merak ini lambang keindahan cinta  dan kesetiaan,” terang pria kelahiran 1984 ini.

Motif burung merak adalah produk dengan harga termahal yang dibuat oleh Putra. Pasalnya, butuh waktu lama untuk membuatnya. Ia mengaku butuh waktu sekitar dua hingga tiga jam untuk membuat seekor burung merak dari berbagai buah dan sayuran. Sedangkan untuk motif lain, ia hanya membutuhkan waktu sekitar 15-30 menit.

Pengembangan motif ukir kayu

Kisah sebagai fruit carving artist yang berbeda dilontarkan oleh Esti Hartanti. Perempuan berhijab ini menggeluti bidang fruit carving sejak tahun 1988 silam. Ia belajar dari ahli ukir buah asal Bali.

Perempuan berusia 54 tahun ini menilai perkembangan fruit carving di dalam negeri cukup pesat. Bahkan mengalahkan negara asal buah ukir, yakni Thailand. Pesatnya perkembangan ini merupakan hasil usaha dari para fruit carving artist mengembangkan motif fruit carving dengan motif ukiran kayu.

Sedangkan, di Negeri Gajah Putih, motif fruit carving hanya berupa irisan buah. “Industri ini mulai ramai dari lima tahun lalu dan sudah terbentuk asosiasinya tahun lalu,” katanya.

Esti bilang, untuk membuat ukiran buah tidak hanya diperlukan keahlian khusus tapi juga penggalian ide untuk menentukan tema ukiran buah yang sesuaikan dengan tema acara. Persiapannya pun membutuhkan waktu yang lama. “Saya bersama tim kadang sampai tidak tidur untuk pengerjaannya, karena karya seni ini membutuhkan detil yang rapi,” tambahnya.

Dia membanderol tarif jasa fruit carving sekitar Rp 150.000 per buah (untuk buah lunak) dan Rp 175.000 per buah (untuk buah keras). Sayang, dia enggan menjelaskan total permintaan yang datang saban bulan.

Untuk para pemula, Esti  menyarankan untuk terus berlatih dan mengembangkan ketrampilan sampai menemukan karakter yang sesuai. Sehingga karya seninya dapat terlihat berbeda dibandingkan pemain lainnya.

Fruit carving artist lain yang juga melihat peluang ini adalah Ragiel, pemilik Indonesia Art Chef Shop asal Yogyakarta. Ia tertarik terjun dalam industri jasa fruit carving karena belum banyak orang yang menekuni bidang ini. Maka, Ragiel  ingin mengembangkan usaha ini agar terus berkembang dan produknya diminati di berbagai acara.

Pesanan fruit carving yang datang untuk Ragiel biasanya dari acara pernikahan. “Kebanyakan untuk pesanan, saya sering mendapat pesanan dari acara pernikahan. Kadang, beberapa ada juga yang acara ulang tahun,” tuturnya.

Ragiel mengatakan, motif fruit carving buatannya cukup beragam. Mulai dari motif bunga ala Thailand, motif khas lokal Indonesia, karakter hewan, sampai siluet.

Dia menyatakan, Indonesia Art Chef Shop membanderol tarif jasa fruit carving mulai Rp 500.000-Rp 2 juta dengan tiga buah pilihan untuk paket buffet set up ulang tahun. Sedangkan, untuk event besar seperti pernikahan, tarif jasanya dibanderol antara Rp 3 juta-Rp 5 juta. “Tarif sebenarnya bisa lebih fleksibel, tergantung nego di awal pemesanan dan kesepakatan,” kata Ragiel.

Untuk bahan buahnya, ia menggunakan buah dan sayur lokal Indonesia, seperti semangka , wortel, timun, tomat, pepaya, dan sebagainya.

Saat ini, Indonesia Art Chef Shop menerima pesanan produk fruit carving ke luar daerah juga, seperti Aceh, Bali, dan Makassar. “Dalam merintis usaha ini membutuhkan pembagian waktu yang baik karena saya juga harus bekerja di hotel dan juga masih mengurus komunitas fruit carving juga,” ungkap Ragiel.

Peluang dari pelatihan mengukir buah

Seni ukir buah atau fruit carving tidak hanya mendatangkan peluang bisnis di bidang dekorasi berbagai acara, melainkan juga peluang dari menjadi pengajar ukir  serta menjual peralatannya.

I Nyoman Putra Yasa, fruit carving artist sekaligus pemilik Bali Carving Artist asal Ubud, Bali mengatakan, selain membuat fruit carving, ia juga mengajar dan menjual satu set peralatan carving.

Ia mengajar di beberapa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Ubud serta mengajar di Bali Carving Artist. Bali Carving Artist merupakan komunitas yang didirikan oleh Putra sebagai wadah para muridnya untuk bertukar informasi seputar fruit carving dan pesanan dari konsumen.

Bahkan jika ada pesanan yang tidak terlalu sulit motifnya, Putra menyerahkan order  tersebut ke murid-muridnya di Bali Carving Artist. “Kami di sana saling kerjasama. Misal kalau ada yang sedang garap banyak pesanan dan tidak kepegang, pasti ada anggota lain yang ikut bantu,” tuturnya.

Putra juga membuka kursus fruit carving di rumahnya. Tarif kursus ini dibanderol Rp 500.000 untuk sekali datang. Biasanya belajar praktik berlangsung selama tiga jam, peserta kursus private fruit carving juga bakal mendapat video tutorial seputar teknik fruit carving.

Jika sudah pernah sekali datang, peserta tersebut ingin memperdalam fruit carving, Putra tidak mengenakan biaya tambahan lagi. “Kuncinya adalah rajin latihan sesuai dengan tutorial yang sudah saya berikan itu. Asal teknik dan alatnya juga benar, pasti bisa, meskipun orang itu tidak bakat seni,” ungkapnya.

Pria berusia 34 tahun ini juga menjual satu set alat fruit carving yang terdiri dari lima jenis pisau. Satu set peralatan tersebut dibanderol Rp 800.000 hingga Rp 950.000. Putra membuat sendiri semua peralatan fruit carving tersebut.

Hal serupa juga dilakukan oleh Ragiel, pemilik Indonesia Art Chef Shop asal Yogyakarta. Ia juga menjual peralatan fruit carving yang berasal dari Thailand. Satu set peralatan tersebut harganya Rp 450.000. Ia juga mengajar fruit carving di komunitas Fruit Carving Jogja.

Sekarang, jumlah anggota dalam komunitasnya tersebut ada 130 orang. Sistem pembayaran tiap anggota berupa bagi hasil setiap penjualan produknya. “Sebesar 15% penjualan produk fruit carving diserahkan ke komunitas untuk kas dan upah saya mengajar,” jelas Ragiel.

Jalur sebagai pengajar fruit carving juga ditempuh oleh fruit carving artist lainnya, yaitu Esti Hartanti. Menurutnya, sebagai seorang idealis, lebih baik dirinya mengajarkan ketrampilan yang dimilikinya kepada orang lain daripada menjual karya seni dengan harga murah.

Esti menilai bahwa menjamurnya para fruit carving artist membuat industri kreatif ini terjebak dalam perang harga dengan desain yang monoton. Ditambah lagi, menurut pendapatnya, pasar Indonesia belum bisa menghargai hasil karya seni ukir buah.

Tidak ingin ikut arus, ibu dua anak ini tergolong idealis menjaga profesinya sebagai ahli ukir buah. Dia pun tidak sungkan menolak konsumen bila harganya tidak sesuai.  “Beberapa bulan lalu saya baru saja menolak permintaan untuk membuat ukiran buah pada acara IMF yang akan diselenggarakan di Bali bulan depan. Menurut saya, tarif  yang ditawarkan kurang pantas untuk hasil karya saya,” ungkapnya.

Sebelumnya, Esti selalu diminta untuk membuat ukiran buah dalam acara kenegaraan. Misalnya acara perayaan  HUT Indonesia dan lainnya. Dia bersama tim membutuhkan waktu satu tahun untuk menciptakan konsep dan miniaturnya. (C-003/Bbs)***