Citarum Harum

111

  GERAKAN  Citarum Harum dengan penanganan dan pengawasan dari hulu ke hilir sudah tampak hasilnya. Arus air di Citarum tidak lagi terhambat tumpukan sampah dan sediman. Pembangunan kolam retensi di Cieunteung yang sudah hampir rampung, mampu menampung luapan air dari anak-anak sungai. Hal itu dapat mengurangi genangan banjir di dua sisi Citarum. Kalaupun masih terjadi banjir di Dayeuhkolot dan di hilirnya, genangan air tidak terlalu lama. Air mengalir jauh lebih cepat.

      Ketua Dewan Pengawas Yayasan Citarum Harum, Dini Dewi Heniarti,  menjelaskan kepada pers di Bandung, tahun 2019 penangnan Citarum akan benar-benar digenjot. Masyarakatr di kedu sisi Citarum dari hulu sampai hilir sekarang sudah mulai tampak peduli terhadap Sungai Citarum. Mereka, menurut Dini, menyadari benar, pentingnya menjaga Citarum secara bersama-sama.

      Gerakan Citarum Harum dimulai sejak Maret 2018 dengan melibatkan berbagai instansi, perguruan tinggi, masyarakat, TNI, khususnya Kodam III/Siliwangi, didukung pemerintah pusat, berusaha memulihkan Citarum. Sungai terpanjang di Jabar (297 km) itu memiliki peran strategis dalam mendukung kehidupan masyarakat Jawa Barat. Dini berharap, dukungan semua pihak akan mampu mendorong keberhasilan gerakan Citarum Harum.

      Masyarakat melihat, gerakan itu mulai memperlihatkan hasilnya, antara lain penghijauan dari hulu sampai hilir.. Lahan di sekitar Danau Cisanti sebagai mata air aliran Sungai Citarum, sudah mulai hijau. Penanaman pohon produktif seperti mangga, kopi, dan sebagainya dipelihara petani sayur mayur. Mereka diminta memelihara semua pohon  keras yang ditanam di lahan pertanian itu. Petani tetap menanam sayur mayur tetapi secara tumpangsari. Hasil tanaman produktif itu untuk kemaslahatan para petani juga.

       Seperti dimuat PR dan KOMPAS (2/1), target penanaman pohon di sepanjang aliran Citarum sampai 125 juta pohon di lahan seluas 80.000 hektar dalam waktu sekira tujuh tahun.  Pohon yang sudah ditanam baru 869.164 bibit pohon.  Masyarakat secara antusias bersedia terlibat dalam penanaman pohon tersebut. Diharapkan tahun 2019, baik jumlah pohon maupun luas arealnya akan bertambah. Komandan Sektor Pembibitan Citarum Harum, Letkol Choirul Anam mengatakan, mengejar musim hujan yang sekarang tengah berlangsung, penanaman pohon keras seperti kopi, duren, dan buah-buahan lain akan ditanam 3 juta pohon sampai Maret 2019. Sampai akhir tahun 2019, pohon yang akan ditanam bisa sampai 6 juta batang.

        Selain penanaman pohon keras sepanjang aliran sungai, Gerakan Citarum Harum juga sedang menyelesaikan sodetan Curug Jompong. Diharapkan, sodetan itu akan memperlancar arus air ke Bendung Saguling.  Namun seyogianya penyodetan itu tidak menimbulkan masalah baru. Derasnya air, akan membawa sedimen dari hulu dan semunya masuk ke Bendung Saguling. Dikhawatirkan, banyaknya sedimen yang masuk, pendangkalan Saguling akan jauh lebih cepat. Diharapkan pemerintah pusat dapat membuat infrastruktur yang sedikitnya menghambat masuknya lumpur dan sedimen lainnya dari Curug Jompong

ke Saguling.  Danau Saguling membutuhkan kapal penyedot lumpur dengan teknologi mutakhir.

        Penjelasan Ketua Dewan Pengawas Yayasan Citarum Harum, Dini Dewi Heniarti itu sebagai jawaban atas tantangan Gubernur Jawa Barat. Ridwan Kamil berharap Gerakan Citarum Harum dilaksanakan dengan lebih cepat dan antar-pengelola lebih kompak. Dini mengatakan, para penggiat Citarum Harum, baik sipil maupun TNI bekerja 24 jam melaksanakan program Citarum Harum. ***