Memaknai Tahun Baru 2019

124

SAYA  bersyukur hampir di beberapa tempat  di  Kota Bandung dan sekitarnya, perayaaan penggantian  malam tahun baru 2019, tidak semeriah dengan waktu yang sebelumnya. Rupanya masyarakat  mendengar banyak wejangan  dari para tokoh  agar tidak merayakannya secara  berlebihan.

Kalau pun ada petasan dan kembang api, berlangsunng ala kadarnya, seperti yang terjadi di lapangan  Gasibu,  jalan Asia Afrika dan beberapa tempat lainnya. Moga saja  peristiwa  itu sebagai cermin dari rasa empati karena   terjadi banyak  bencana, khususnya gempa dan tsunami di beberapa tempat.  Inilah  sikap kedewasaan lebih memilih untuk  merenungkan apa yang terjadi selama  setahun yang dijalani, ketimbang hura-hura.

Menurut hemat saya, tahun baru  semestinya  dimaknai  bertambahnya usia. Seiring bergantinya tahun, sejatinya umur kita bertambah. Bertambahnya usia idealnya mematangkan kedewasaan baik dalam berpikir maupun bertindak. Cara berpikir, bertindak mestinya mencerminkan usia.

Karenanya, hidup dimaknai sebagai proses pembelajaran. Manusia harus pandai memetik pelajaran dari pembelajaran tersebut. Sehingga akan memperbaiki kehidupan. Di sisi lain, bertambahnya usia berarti berkurangya waktu hidup. Sebab itu,  jangan pernah menyia-nyiakan hidup. Isilah kehidupan dengan sesuatu yang lebih bermakna.

Perayaan tahun baru mengingatkan apa yang telah dilakukan. Maka mengevaluasi diri sepantasnya dilakukan. Mengevaluasi dengan menyadari segala kekurangan. Tahun ini harus lebih baik dari tahun sebelumnya. Jika tahun ini sama dengan sebelumnya berarti merugi. Kemudian jika tahun ini lebih buruk dari tahun sebelumnya maka tidak hanya merugi, tapi celaka. Demikian, Sayidina Ali Bin Abi Thalib ra menguraikan soal evaluasi diri.

Mengevaluasi diri itu penting guna memperbaiki kehidupan. Dengan cara mengevaluasi diri kekurangan bisa diperbaiki.   Dalam Al Quran terdapat surat Al Ashri, yang berartikan masa atau waktu ashar. Allah bersumpah dengan menyebut waktu atau masa, bahwa manusia dalam kerugian. Dipahami, kerugian manusia disebabkan karena mereka tak mampu mengelola waktu secara baik dan benar.

Itulah yanng bisa saya ungkapkan. Terima kasih kepada  redaktur  atas dimuatnya  aspirasi  dari pembaca  ini.