Potensi Wisata di Cijulang Diawali Tanpa Sengaja

161

Cijulang berada kurang lebih 50 km ke arah selatan dari Kota Kabupaten.Pangandaran. Daerah ini memiliki morfologi yang khas, berupa perbukitan kars yang tersebar secara luas terutama di bagian tenggara dan barat laut.

Dicirikan dengan relief kasar, bukit-bukit kecil berukuran seragam, berkembang saluran bawah permukaan, seperti goa dan sungai bawah tanah, selain banyak terdapat lembah-lembah kars. Pada pemetaan geologi oleh Supriatna, S., L. Sarmili, D.Sudana dan Koswara, A. (1992), daerah penelitian atas  Batugamping Formasi Pamunutan (Tmpl) yang berumur Miosen Tengah , seperti batugamping, batugamping pasiran, kalsilutit dan napal yang diendapkan pada lingkungan laut dangkal yang terbuka.

Singkapan kars di Sungai Cijulang Pangandaran terlihat kars berlapis batugamping klasik hasil rombakan  proses erosi oleh air, transportasi, sortasi dan  sedimentasi. Selama proses tersebut banyak minera lain yang terbawa menjadi pengotoro,sehingga bisa dijumpai adanya variasi warna yang terdapat pada batugamping.  Di aliran sungai terbuka Cijulang, dijumpai tebing tegakan dan  bongkah batugamping yang berserakan di dasar sungai.  Sungai ini kini dimanfaatkan untuk wisata body rafting oleh beberapa pengelola yang menawarkan petualangan pengarungan mulau dari hulu Sungai Cijulang yang berakhir di Cukangtaneuh atau Green Canyon, sejaruh 5 kilometer.

Kegiatan body rafting , awalnya dilakukan hanya sebagai kesenangan diri yang dilakukan oleh tiga sahabat , yakni  Baban, Rahmat dan Muhajar. ”Awal mula usaha body rafting di Sungai Cijulang, Kabupaten Pangandaran , waktu  itu saya dibayar lima ribu rupiah,” tutur Baban yang dikenal Bacin, salah satu pendiri BARAJA Body Rafting mengisahkan awal usahanya. Pertengahan tahun 1997 mengajak tamu asing mengunjungi goa kars Guha Bau di ujung Sungai Cijulang.

Bagi penduduk setempat, lokasi tersebut dianggap angker, namun sang tamu bersikeras untuk  menelusuri sungai hingga sejauh tiga kilometer dan berkahir di Cukang Taneuh. Pesona lingkungan kars tersebut kemudian mencuatkan Green Canyon yang ditorehkan turis asal Amerika bernama Bill John dan pasangan Frank dan Astrid dari Perancis. Di lokasi itu terdapat panorma khas goa kars, berupa kolam, draphery, flowstone, stalactite, stalacmite dan material runtuhan dinding dan atap gua. Awal tahun 2000-an, Baban, Rahmat dan Muhajar, semula mendirikan usaha bersama Jungle and River Tour, kemudian diganti menjadi BARAJA Body Rafting. Wisata alternatif petualangan ini , kini menjadi tujuan wisata populer dengan jumlah pengunjung tiap akhir pekan antara 300 hingga 600 orang. Kunjungan wisatawan  telah mendongkrak laju ekonomi masyarakat Cijulang Pangandaran oleh produk ekonomi kreatif yang diawali tanpa sengaja. (B-003/BBS) ***