Terowongan Binangun Dibangun Dibawah Kuburan Orang Cina

153

Rencana reaktivasi jalur kereta api Banjar – Pangandaran banyak mengundang harapan terealisasi. Di jalur KA ini terdapat beberapa area eksotik yang dilewati kereta api. Tempat  eksotik tersebut berupa terowongan yang dibangun pada masa kolonial Belanda. Di antaranya terowongan Binangun yang dibangun tahun 1916 berdasar Undang-Undang yang dibuat pemerintah kolonial Belanda tertanggal 18 Juli 1911.

Pembangunannya dilakukan Staats Spoorwegen Westerlijnen dilaksanakan secara bertahap, pertama diselesaikan adalah lintasan Banjar-Kalipucang pada tanggal 15 Desember 1916, menyusul pada tanggal 1 Januari 1921 lintasan Kalipucang-Cijulang dan jadi tanda selesainya pembangunan jurusan kereta api Banjar-Parigi.

Terowongan Binangun berada di sebelah selatan Kota Banjar, di wilayah Desa Sukamukti, Kecamatan Pataruman. Untuk mencapai lokasi terowongan bisa melalui beberapa jalan, tapi yang sering digunakan adalah melalui jalur Jalan Pamarican sampai ke Pagak, berbelok ke jalur rel kereta Banjar –Cijulang. Jalur lain bisa melewati jalan raya Pangandaran, tepat di dekat gudang Sang Hyang Sri berbelok ke perumahan ASABRI Sukamukti, lalu meniti turunan berbelok ke jalan yang dulunya adalah rel kereta atau melalui Sentiong tepat di atas terowongan Sentiong.

Terowongan dibangun di bawah permukaan tanah memiliki panjang 183 meter, membentang dari barat laut-tenggara, lingkungannya berupa sawah dan perkebunan. Kereta api yang melintasi terowongan ini, jurusan Banjar-Cijulang yang sudah lama tidak aktif, sehingga lingkungan terowongan sangat tidak terawat, ditumbuhi banyak tanaman liar di beberapa bagian. Sedangkan pada bagian dalam, tanahnya lembab dan basah. Hal tersebut karena lintasan di daerah ini berada lebih rendah dari permukaan tanah sekitarnya, sehingga permukaan bekas lintasan kereta seolah menjadi sungai kecil. Tidak terawatnya jalur ini akhirnya dijadikan kesempatan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab dengan menjarah rel dan kayu-kayu bantalannya. Saat ini tidak ada bagian yang tersisa dari jalur kereta ini, kecuali jejak muka tanah bekas jalur dan terowongan.

Mulut terowongan berbentuk setengah lingkaran dengan lebar 4,25 meter, tinggi 4,50 meter. Pada bagian mulut terowongan, pemasangan batu gunung ini dibuat sebagai masonry setinggi ± 250 cm, sedangkan pada bagian atas hingga puncak diplester dengan pasir dan semen. Melihat pada bentuk bagian atasnya, kemungkinan bagian atas terowongan dibuat dengan pasangan bata atau beton bertulang, atau mungkin juga masonry yang kemudian ditutup dengan plesteran. Hal tersebut tidak dapat dipastikan karena elemen bahan bangunan bagian atas terowongan tidak terlihat. Terowongan ini selain dikenal sebagai terowongan Binangun, juga dikenal sebagai Terowongan Sentiong. Sebutan terowongan Binangun karena terletak di daerah Binangun, sedangkan nama Sentiong digunakan karena menurut cerita masyarakat, terowongan ini dulunya dibangun di bawah kuburan orang-orang Cina. (E-001)