Gerakan Beli Cabai Membangun Industri Hilir Berbasis Cabai

85

TEORI Dasar Ekonomi yang amat terkenal yakni supply and demand , pasokan melimpah menyebabkan harga anjlok,  lini tengah dialami para petani cabai, terutama di Jawa Tengah. Di Jateng sedikitnya ada tiga kabupaten sebagai sentra cabai. Pada bulan Januari, Februari, Maret, para petani di sana tengah panen raya. Hasilnya melimpah. Dengan sendirinya, harga cabai di tingkat petani terus merosot.

     Biasanya mereka menjual cabai antara  Rp 8.500 – Rp 10.000 perkilogram. Pada musim panen seperti sekarang, para petani menjual hasil panennya Rp 7.000 – Rp 8.000. perkilogram.  Diperkirakan harga cabai di tingkat petani akan terus anjlok karena beberapa kabupaten sentra cabai, belum masuk masa panen raya. Para petani akan mengalami kerugian karena harga paling rendah seharusnya stabil pada harga Rp 8.500 sesuai dengan titik impas penanaman cabai. Lebih banyak hasil panen, kerugian petani akan lebih besar. Tahun ini produktivitas tanaman cabai di Jateng terus meningkat, rata-rata produksi antara 3 – 5 kuintal/hektar. Sedangkan luas panen di Banjarnegara saja sampai 5.000 ha.

    Sebaliknya,para petani yang menanam tomat di daerah Jawa Barat, tengah menikmati harga tinggi. Para petani di Lembang dan tempat laindapat menjual tomat hasil panennya antara Rp 8.000 hingga Rp 10.000/kg. Padahal biasanya harga tomat di tingkat petani hanya Rp 1.000 – Rp 1.500/kg.Di pasar atau di pedagang keliling dengan menggnakan dolak/pick up, tomat dijual Rp 10.000/3 kg, bahkan ada yang mematok harga Rp 2.000/kg. Sekarang, tidak ada lagi petani yang membabat tanaman tomatnya atau membuang buah tomat ke tempat pakan ternak.

    Semua hasil pertanian hampir selalu mengalami fluktuasi harga. Harga jual pada musim panen raya, tomat, cabai, bawang, buah-buahan, bahkan padi selalu merosot. Pada musim paceklik harga melambung tinggi. Fluktuasi harga seperti itu bersdampak langsung kepada para petani. Mereka amat jarang menikmati harga yang baik. Pada tingkat harga terendah sekali pun, para petani tetap menjual hasil panennya. Musim panen bagi mereka merupakan saat melunasi utang, baik biaya garap maupun kebutuihan sehari-hari. Dengan harga yang fluktuatif, mereka tidak dapat berhitung kerugian apalagi keuntungan. Pendapatan petani juga tidak menentu bahkan lebih sering merugi.

     Menghadapi nasib para petani yang tidak menentu itu, dibutuhkan intervensi pemerintah. Agatr harga komoditas hasil panen stbalil, pemerintah melalui Bulog atau BUMN lainnya, harus menyerap hasil panen itu kemudian melepaskannya lagi pada masa paceklik, ketika harga pasar naik. Dengan demikian, para petani tidak lagi memikirkan pasar. Mereka tinggal menjual sebagian atau seluruhnya, kepada pengepul  plat merah dengan harga 20%lebih tinggi dari titik impas. Cara itu dipredikasi akan mampu menstabilkan harga hasil pertanian.

      Intervensi yang dilakukan Pemprov Jateng merupakan tindakan ”darurat” mentyelamatkan para petani cabai  dari penurunan harga hasil panennya. Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, menulis surat kepada para bupai/wealikota di Jateng. Gubernur meminta semua bupati/walikota turut serta menstabilkan harga cabai. Semua aparatur sipil nasional di seluruh Jateng, mau membeli cabai langsung dari petani dengan harga rata-rata Rp 8.000/lg. Instruksi gubernur dengan tajuk ”Gerakan Selamatkan Petani Cabai” itu dapat membantu petani cabai. Sedikitnya mereka tidak merugi terlalu banyak. Di Banjarnegara saja, terdapat sekira 8.000 PNS. Seorang PNS membeli 0,5 kg saja, para petani agak tertolong (PR 17/1).

      Pemeribntah dapat melakukan intervensi dengan membangun industri hilir dari segala hasil pertanian. Industri pengolahan itu menyerap sebagian hasil panen para petani dengan harga yang ditentukan sesuai dengan harga patokan hasil kesepakatan semua pihak terkait. Sebagian lagi dilempar ke pasar. Industri hilir harus mengolah hasil pertanian setempat dengan orientasi ekspor. Industri hilir itu dapat dibangun pemerintah atau investor. Para petani dapat menjadi pemegang saham perusahaan melalui BUMDes. Secara teoritis, BUMDes membeli saham dan deviden tahunannya digunakan untuk modal usaha lain yang diperkirakan dapat meningkatkan taraf hidup para petani dan semua warga desa.

     BUMDes sebagai pemegang saham/investor itu masih merupakan gagasan yang teoritis karena belum pernah dilaksanakan. Pemereintah daerah, kabupaten/kota dapat mencoba melaksanakan gagasan itu dengan perhitungan berdasarkan hasil penelitian yang cermat. Pemprov tidak usah memgerahkan ASN/PNS daerah terus menerus membeli cabai atau hasil panen lainnya. Mereka didorong menjadi konsumen hasil industri hilir, berupa bumbu masak, camilan, dan obat-obatan berbasis cabai, tomat, kubis, ubi jalar, dan sebagainya. ***