Industri Kuliner Sumbang 40% ke Industri Kreatif

87

SEBAGAI negeri yang bhineka alias plural, kuliner Indonesia juga kaya rasa. Dan industri kuliner merupakan salah satu kekuatan industri kreatif Indonesia, yang jika dikelola dengan baik akan berdampak terhadap perekonomian.

Untuk itu, Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf) memadukan kreativitas dan industri kuliner dalam tajuk Kreatifood, diselenggarakan di Plaza Selatan Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.

“Kuliner ragam soto dan kopi menjadi tema pada Kreatifood. Ini cara kami terus memperkenalkan industri kuliner Indonesia kepada masyarakat,” kata Wakil Kepala Bekraf Ricky Pesik di Jakarta.

Ricky menambahkan, peluang pelaku usaha kuliner untuk berkembang sangat terbuka. Bahkan untuk pasar ekspor sekali pun. Sebab masyarakat dunia mulai mencari hal atau cita rasa baru dalam bersantap.

Menurut Ricky, untuk menunjukkan keseriusan pemerintah mengangkat usaha kuliner, para pemilik usaha kuliner sama sekali tidak dipungut biaya dalam berpameran. “Semuanya gratis. Ada 60 booth dan juga disediakan porsi makanan gratis untuk dicoba (oleh pengunjung),” katanya.

Ajang Kreatifood  juga menghadirkan legenda kuliner Indonesia, seperti Sate Padang Ajo Ramon, Nasi Uduk Kampung Melayu, dan Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih.

Terkait pemilihan tema soto, Chef Chandra Yudasswara mengutarakan, menu tradisional ini bisa ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Soto adalah salah satu wujud keberagaman kuliner Indonesia yang bisa bersaing dengan kuliner khas bangsa lainnya.

“Dari restoran yang saya kelola, bukan menu Barat yang berkontribusi besar terhadap pendapatan. Tapi menu tradisional seperti nasi goreng, soto atau sop iga,” tutur Chandra.

Sementara Chef Budi mengamini besarnya peluang usaha kuliner khas Indonesia merambah pasar mancanegara. Ini dibuktikan dari selalu suksesnya penyelenggarakan pameran kuliner tradisional Indonesia di luar negeri yang sering diikutinya. “Selalu dipenuhi pengunjung. Baru-baru ini saya ikut festival kuliner di Korsel. Dari seharusnya jatah 150 porsi, saya harus buat 300 porsi karena banyaknya peminat makanan khas Nusantara,” katanya.

Kembali ke potensi kuliner, Ricky menyebutkan industri kuliner berkontribusi 40% terhadap industri kreatif. Namun, untuk eskpor, angka kontribusi industri kuliner hanya sekitar 10%, masih kalah dengan fashion.

Dan secara keseluruhan, kontribusi industri kreatif terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih rendah, yaitu 7%. “Kontribusi industri kreatif terhadap PDB Indonesia mencapai Rp900 triliun,” ujar Ricky. Dan jika dikelola dengan apik, maka industri kreatif di Indonesia akan lebih bisa meningkatkan ekonomi nasional. (C-003/ven)***