187,2 Juta Ton Sampah Kantong Plastik Indonesia Peringkat Dua Dunia

117

BISNIS BANDUNG – Ketua 1 Bidang Advokasi Forum Pengurangan Risiko Bencana Jawa Barat, Dadang Sudardja mengatakan, penanganan sampah plastik di Indonesia sejauh ini masih menjadi persoalan besar, Khususnya sampah plastik.  

Dikemukakan Dadang, berdasarkan hasil studi Kementerian Lingkungan Hidup (2015) yang dilakukan di beberapa kota, pola pengelolaan sampah di Indonesia dilakukan dengan cara ditimbun di tempat pembuangan akhir (69%), dikubur (10%), dikompos dan didaur ulang (7%), dibakar (5%) dan sisanya tidak terkelola (7%). Saat ini lebih dari 90% kabupaten/kota di Indonesia masih menggunakan sistem hal serupa itu atau dibakar. Upaya pemilahan dan pengolahan sampah, menurut Dadang, masih sangat minim, sehingga kebutuhan lahan untuk TPA akan meningkat, diprediksi pada tahun 2020 membutuhkan lahan seluas 1.610 hektar.  Produksi sampah plastik di Indonesia terus meningkat. Pemakaian kantong plastik di Indonesia mencapai 700 kantong/orang/tahun. Berdasar data KLHK, Indonesia menghasilkan sampah kantong plastik sebanyak 10,95 juta lembar/tahun/100 gerai. Hal tersebut telah menempatkan Indonesia menduduki peringkat kedua penghasil sampah plastik di dunia yang terbuang ke laut (187,2 juta ton) setelah Tiongkok ( 262,9 ton).

          Sampah–sampah plastik sebagian besar menumpuk di daratan dan terseret ke laut karena tidak terangkut ke TPA. Sampah plastik berdampak buruk bagi kehidupan karena sampah plastik memerlukan waktu 1.000 tahun untuk terurai secara sempurna. Jika sampah plastik dibakar, jika proses pembakaran tidak sempurna akan menghasilkan gas beracun. Para ilmuwan dari SCIRO (Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization) dan Imperial College London menyebutkan, sekitar 90% burung laut terdapat plastik di perutnya. Diperkirakan jumlah tersebut akan bertambah menjadi 99% pada tahun 2050 karena sejauh ini pengelolaan sampah plastikpun belum ada.

          Menurutnya, Jepang, Thailand dan Singapura, sudah mampu mengelola sampah plastik dengan baik. “Saya tidak tahu membutuhkan modal berapa untuk membanggun infrastruktur, saya yakin pemerintah bisa dan mampu. Tinggal ada kemauan politik pemerintah dan kesadaran masyarakat,” pungkas Dadang. (E-018)***