Atik Maesyaroh, A.Md. Bermanfaat dan Menjadi Kebanggaan Orang Tua

92

Atik Maesyaroh, A.Md.,lahir di Bandung  pada 18 Mei 1976. Wanita berhijab ini, adalah anak dari pasangan Udin Saefudin (alm) dan Tati Rohaeti (69), serta merupakan pemilik dari House of Mayzara.  

Kepada BB,  Atik menceritakan tentang awal dan ide usahanya yang termotivasi ketika ia ingin memanfaatkan kain perca menjadi produk yang bermanfaat dan berkualitas, serta memiliki harga jual.  Modal untuk usahanya tidak lebih dari Rp 5 juta, yang berasal dari gaji terakhir Atik, ketika kontrak kerjanya di sebuah butik berakhir.

”Usaha yang saya tekuni ini tidak ada kaitannya dengan latar belakang pendidikan saya, namun ada hubungannya dengan orang tua yang  pernah memiliki usaha konveksi pakaian anak sekolah dan guru. Saya  mengundurkan diri dari pekerjaan sebelumnya, karena saya ingin mengembangkan hobi membuat kerajinan dari kain serta hobi jahit menjahit,” ungkapnya .

Atik mengaku bahwa, ia sangat menyukai kerajinan yang ada hubungannya dengan jahit menjahit. Dirinya menciptakan produk  dengan ide sendiri, namun jika merasa jenuh, ia kemudian akan melihat tren pasar, dan kemudian memodifikasi produk di pasaran yang menurutnya cocok dengan karakter produknya.  Dalam sebulan pabriknya mampu memproduksi kurang lebih 300 pieces.

Bahan baku yang digunakan untuk produk barangnya berupa kain perca batik dan acrylic.  Atik memilih kain batik karena  motifnya sangat indah . Produknya dikerjakan sendiri, kecuali bila ada banyak pesanan, maka untuk jangka waktu terbatas, ia akan dibantu oleh pekerja paruh waktu  dengan gaji harian.

Dalam sebulan, produknya bisa terjual sekitar 200 pieces untuk semua model. Dengan harga jual yang terjangkau, segmen pasarnya meliputi ibu rumah tangga, karyawan, serta mahasiswa yang menyukai penampilan etnik.   Omset perbulannya rata-rata mencapai Rp. 3.000.000.

Pemasaran produknya selain dilakukan secara offline maupun online, juga disertakan dalam berbagai pameran atau bazaar, yang diselenggarakan oleh dinas / instansi pemerintah, maupun komunitas tertentu.  Atik berharap, tahun ini  produknya bisa meningkat untuk ekspor.

“Masalah persaingan pasar, sebut saja misalnya tempat tissue kecil berbatik yang banyak dipasarkan.  Meskipun tempat tissue berbatik bukan yang pertama kali dibuat dan  banyak yang sudah membuat, namun yang pertama kali membuat tempat tissue dengan motif batik adalah Mayzara ,” ungkap Atik.

Penganut motto hidup : “Bisa bermanfaat untuk masyarakat sekitar dan menjadi kebanggaan orangtua”  ini mengaku bahwa, selama ia menggeluti dunia usaha, banyak pengalaman yang dilaluinya serta banyak mendapat ilmu, yang secara tidak langsung mempengaruhi kondisi usaha yang sedang dijalani ke arah yang lebih baik.  Pengalaman lain adalah, saat mendapat kesempatan dari Rumah Kreatif BUMN BRI kelas Akselerasi untuk mengikuti program Brincubator, sebagai salah satu UMKM pilihan RKB BRI.  Selain itu, produk usaha milik Atik berhasil terpilih menjadi salah satu produk  unggulan dari UKM binaan Dinas Koperasi Provinsi Jawa Barat (Balatkop).

“Ada juga pengalaman unik yang pernah dialami,  yakni ketika ada  yang mencoba meniru beberapa produk buatan saya, dengan cara pendekatan dan bertanya tentang bahan baku produk,” tutur Atik Maesyaroh.

Agar produknya tetap berdaya saing, wanita penggemar warna hitam ini berupaya untuk meningkatkan kualitas usaha, dengan cara, ia selalu mengikuti  tren yang sedang diminat, tanpa merubah ciri khas dari produk miliknya sendiri.

Saat ini, dinas / instansi pemerintah banyak melakukan pembinaan terhadap UKM, karena UKM merupakan ujung tombak ekonomi yang mampu bertahan dalam situasi dan kondisi apapun.    (E-018)***