Gula dan Garam Impor Masih Mengundang Masalah

82

ADA berita pada suratkabar di Jakarta yang langsung menohok orang Garut, khususnya pengusaha dodol garut. Berita itu menyebutkan, dodol garut cepat bulukan karena menggunakan bahan baku gula lokal. Tentu saja berita itu sempat jadi bahan pembicaraan masyarakat garut. Mereka merasa diterjang puting beliung. Produksi yang sudah menjadi ikon Garut, Jabar, bahkan Indonesia itu dikatakan cepat kadaluwarsa.Masyarakat Garut berharap berita itu merupakan berita hoax  sebagai dampak persaingan yang semakin ketat.

   Dodol garut merupakan kuliner utama Garut yang sudah mendunia. Banyak pengusaha Garut yang kreatif mengolah dodol menjadi makanan yang lebih bervariasi. Dulu kita sangat akrab dengan dodol Picnic. Sekarang muncul varian coklat berbasis dodol, Cocodot. Hampir tak ada produk dodol yang mampu menyamai kepopuleran dodol garut. Sebetulnya banyak dodol atau jenang yang dibuat orang di luar Garut tetapi tidak dapat bersaing dengan dodol asal Garut.

   Di samping dodol, Garut juga terkenal dengan kuliner kerupuk kulit. Buah yang sempat merajai dunia buah-buahan yakni jeruk garut. Jeruk yang berbulir dan berasa khas itu mampu mengalahkan jeruk impor. Di Garut juga terdapat buah kesemek yang dikenal sebagai apel garut. Sekarang orang Garut tengah berusaha keras mengembalikan kejayaan jeruk siem itu setelah puluhan tahun sirna akibat virus CVPD. Dodol garut masih bertahan bahkan kharismanya  makin bersinar.

    Wajar apabila pernyataan bahwa dodol garut cepat bulukan, merupakan hantaman yang bisa-bisa meruntuhkan kejayaan dodol garut. Betulkah gula lokal dapat membuat makanan (dodol) cepat berbuluk? Harus ada pengujian laboratories. Amat disayangkan apabila pernyataan itu merupakan bagian dari promosi gula impor. Masalahnya jumlah gula impor ditengarai melebihi kebutuhan industri. Akibatnya gula yang seharusnya menjadi bahan baku industri, kini banyak yang masuk ke pasar menjadi konsumsi masyatrakat luas. Diduga ada perusahaan yang mengambil gula impor padahal ia tidak menggunakannya sebagai bahan baku industri. Para pengusaha nakal itu merasa lebih untung bila menjual gula impor itu langsung ke konsumen. Harga gula impor jauh di bawah gula nasional

     Kementerian Perdagangan mencatat 98,7 ton gula rafinasi yang merembes ke pasar umum (KOMPAS 21/1). Kelebihan impor gula itu harus terjual habis dan secara mudah mampu mendesak gula domestik. Apakah kelebihan stok gula impor itu merupakan kesengajaan atau merupakan ulah oknum para importir dan pelaku industri abal-abal? Yang pasti setiap tahun, gula impor itu selalu menjadi masalah. Para petani gula hanya dapat mengeluh karena harus berbenturan dengan gula impor yang terus merembes ke pasar umum. Seperti pada impor beras, impor gula yang mengalahkan gula lokal, juga akibat  angka produksi dan kebutuhan konsumen  tidak valid.

     Bukan hanya gula yang bermasalah itu.Kini kembali terungkap masalah lama berkaitan denghan produksi garam. Ditengarai, garam impor masuk ke sentra garam rakyat. Merembesnya garam impor itu justru terjadi pada saat petani garam tengah dan mulai panen. Akibatnya garam rakyat belum terserap namun kebutuhan konsumen akan garam sudah terpenuhi oleh rembesan garam impor. Produksi garam  para petambak mencapai 2.349.630 ton tahun 2018. Prioduksi PT Garam, 369.626 ton. Pada musim panen tahun 2018 petambak garam rakyat memproduki garam 2.719.256 ton. Produksi garam nasional tahun 2017 mencapai 1,11 juta ton. Sedangkan kuota impor garam mencapai 3,7  juta ton atau rata-rata 2 juta ton pertahun.

     Angka-angka impor, produksi nasional, dan kebutuhan konsumen tidak terdata dengan validitas akurat. Akibatnya, seperti pada impor gula, terjadi persaingan tidak sehat antara garam impor dan garam produksi nasional. Selalu terjadi kelebihan  persediaan garam impor karena ada oknum pengusaha yang menyedot garam impor padahal industrinya tidak bergerak dalam usaha kuliner atau industri lain yang menggunakan garam impor. Mereka melepas kelebihan persediaan garam impornya ke pasar umum. Kembali, merembesnya garam impor ke pasar, karena harga garam impor jauh lebih murah dibanding harga garam nasional. Para spekulan itu mendapat keuntungan sangat besar dari pergunjingan garam dan gula itu. Yang rugi, para petambak garam rakyat dan [etani tebu. Garam dan gulanya tidak terserap karena mutu dan harga kalah bersaing. ***