Harga Sawit Terpuruk Akibat Ketergantungan Pada Pasar Global

126

BISNIS BANDUNG – Sawit merupakan salah satu hasil perkebunan yang harga jualnya terpuruk. Murahnya harga jual kelapa sawit karena ketergantungan pada pasar global. Harga TBS minimal Rp 1.200/kg, kini dijual dibawah harga minimal.

Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) Henry Saragih mengatakan, di Riau misalnya, harga TBS (tandan buah segar) hanya sekitar Rp 600–Rp 800/kg, di Sumatera Utara TBS dijual Rp 600 – 900/kg. Jatuhnya harga kelapa sawit saat ini akibat dari ketergantungan pada pasar global. “Sebagaimana kita ketahui beberapa negara yang selama ini membeli kelapa sawit dari Indonesia melakukan pembatasan-pembatasan, karena negara-negara tersebut ingin mengembangkan komoditas pertaniannya yang bisa menggantikan minyak sawit,” tutur Henry, baru-baru ini di Bandung.

Dikemukakan Henry, para petani pada sawit agar mengkonversi tanaman sawit ke tanaman pangan, seperti padi, jagung, kedelai dan tanaman hortikutura, antara lain buah durian, manggis dan jengkol. Henry berharap, pemerintah memberi dukungannya tidak hanya untuk menaikan harga kelapa sawit, tapi membantu agar bisa mengkonversi lahannya ke non sawit, terutama masalah dana. “Petani kita punya kapasitas untuk mengkonversinya, baik untuk jangka pendek maupun panjang. Kelapa sawit tua bisa ditebang, diganti tanaman pangan seperti yang dalam waktu setahun bisa dipanen, termasauk tanaman pisang. Banyak petani anggota SPI yang mengkonversi lahannya dari sawit ke tanaman pangan, di antaranya di daerah Kabupaten Padang Lawas, Sumatera Utara yang menanam padi,” ungkap Henry.

Henry melanjutkan, kebun-kebun sawit juga bisa dikonversi untuk ladang penggembalaan ternak baik itu sapi, kerbau atau kambing, karena hari ini Indonesia masih impor sapi, kerbau, dan susu dalam jumlah besar. “Kita sebenarnya tak kesulitan untuk mengkonversi lahan perkebunan sawit tersebut karena selama ini SPI sudah memprediksi bakal terjadi hal seperti ini karena terlalu tergantung pada pasar global yang dilakukan oleh rezim pemerintahan sebelumnya,” paparnya.

Diungkapkan Henry, saat ini terjadi “over-production” tanaman sawit, karena pemerintah tidak memiliki perencanaan dalam menanam kelapa sawit. “BPS memprediksi luas kebun kelapa sawit saat ini sekira 14 juta hektar, bahkan ada yang memprediksi lebih dari jumlah tersebut. Penyebabnya karena tidak ada perencanaan yang baik dalam menanam kelapa sawit. Sebab itu, kita menyambut baik keputusan moratorium kelapa sawit yang dilakukan pemerintahan,” pungkas Henry.  (E-018)***