Perubahan Perda, Ambisi PAD Provinsi Rp1,2 Triliun

86

BISNIS BANDUNG – Raperda perubahan atas Perda Provinsi Jawa Barat Nomor 13/2011 tentang Pajak Daerah yang diusulkan eksekutif adalah keinginan untuk mendapat tambahan pendapatan asli daerah (PAD) senilai Rp1,2 triliun.

“Hitung-hitung kawan-kawan di Bapeda dan badan pendapatan daerah, naiknya pajak itu akan meningkatkan PAD Rp 1,2 triliun, “tutur Wakil Ketua Komisi IV DPRD Jabar, Daddy Rohanady dalam obrolan dengan wartawan, pekan ini di Kota Bandung.

Menurut Daddy, bukan tidak sepakat dengan usulan tersebut. Namun yang namanya  peraturan baru, nantinya akan menjadi payung hukum bagi pemberlakuan rate pajak baru, terutama bea balik nama kendaraan baru (BBNKB) yang sebelumnya 10 persen menjadi 12,5 persen.

“Sesungguhnya dengan tambahan PAD Rp1,2 triliun, ada belanja pembangunan yang bisa dicover begitu besar,” jelasnya seraya menambahkan pihak legislatif telah memberikan catatan, jangan sekedar mengejar pendapatan, melainkan perhatikan juga aspek pelayanan.

DPRD Provinsi Jawa Barat sudah mensahkan Raperda Perubahan atas Perda Nomor 13/2011 tentang Pajak Daerah tersebut.

“Jangan unsih hanya mengejar angka pendapatan, namun kita minta peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Ya, minta pelayanan kepada masyarakat ditingkatkan betul sampai optimal,” tegasnya.

Maksudnya, hasil dari peningkatan pajak tersebut, harus betul-betul diperuntukkan bagi kesejahteraan masyarakat, bukan untuk belanja belanja APBD lain yang tidak ada hubungannya dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Kalau bisa, misalnya untuk BOS yang semula per kepala buat sekolah negeri Rp 1 juta yang swasta Rp500 ribu. Kita berharap, ini pelan pelan naik,” ujarnya.

Dengan demikian, boleh dibilang sekolah gratis total itu sangat sulit diwujudkan.Tetapi paling tidak, beban orangtua siswa di Jawa Barat menjadi lebih ringan. Di samping itu akses terhadap pelayanan kesehatan diharapkan jauh lebih meningkat.

“Inilah PR di Pansus bahwa belanja pembangunan sekarang untuk infrastruktur jalan saja angkanya menurun drastis dari Rp3 triliunan menjadi hanya Rp2,4 triliun.

“Bagaimana kita bisa jadi juara lahir batin. Jangan-jangan hanya juara  dalam batin,” ujarnya berseloroh.(B-002)***