Menyebar Ujaran Kebaikan

108

MASIH ingat ada tabloid  yang diberi nama “Obor Rakyat” yang  sempat menyita perhatian khalayak ramai. Konten beritanya bombastis dan provokatif. Tabloid yang muncul  empat tahun lalu tersebut tidak berumur panjang, karena cuma memanfaatkan situasi  menjelang pemilihan umum  presiden dan wakil presiden. Tapi, kendati terbitnya sesaat  telah mampu membikin  kegaduhan.

Saat ini pun menjelang  Pileg dan Pilpres 17 April 2019, muncul  tabloid  “ Indonesia Barokah”  yang juga  menghebohkan  jagat raya yang umumnya disebar ke masjid-masjid.  Publik pun bertanya siapa di balik penerbitan tabloid itu, dan apa motif yang diinginkannya? Tentunya orang yang menginisiasinya  memiliki agenda tertentu, karena  diperlukan dana yang besar, termasuk ongkos pendistribusian yang disebar ke peloksok tanah air.

Tabloid  yang hadir tiba-tiba itu, menurut  kalangan pakar komunikasi, bukanlah produk pers, karena  tabloid itu  hanya digunakan  untuk memanas-manasi  dan menyudutkan pihak lain baik secara  individu maupun  institusi.  Oleh sebab itu, masyarakat tidak  mudah percaya begitu saja, karena konten  beritanya tidak  berimbang (cover both sides). Kalau pun  ada yang terpengaruh  hanya sebagian  kecil, itu pun bisa saja berubah  setelah berproses dalam interaksi  di lingkungan masyarakat.

Ya, itulah fenomena  hari ini, katakanlah  seiring dengan ramainya media sosial banyak menyebaran ujaran kebencian, berita palsu (hoaks), dan pembunuhan karakter. Boleh jadi ini mencari sesuatu—di tengah lesunya media  mainstream—terutama  media besar  yang saat ini kalah bersaing oleh medsos.

Harus diakui publik kini mengikuti perkembangan teknologi, terutama media sosial, seperti Instagram, Whatsapp, dan Twitter. Karena  perhatian  sangat besar diberikan kepada  medsos,  maka  tabloid  diterbitkan  lantaran  tidak mau ketinggalan eksistensinya. Dalam sesaat memang   mampu menggedor perhatian publik, akan tetapi  tidak menjamin  akan  menumbuhkan  kepercayaaan masyarakat sebab konten pemberitaan  tidak memerhatikan  etika dalam jurnalistik.

Oleh sebab itu, demi menentramkan  kehidupan berbangsa dan bernegara  ayo kita bersemangat  melawan berita hoaks dan ujaran kebencian.  Siapa pun dituntut  untuk bela negara guna memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.

Jika ada ujaran kebencian di media sosial atau dalam bentuk media cetak, maka kita harus melawannya dengan menyebarkan ujaran kebaikan. Selain itu, memberi penjelasan kepada masyarakat jangan  mudah  terpengaruh  kebohongan atau berita pelintiran  dari media yang sengaja mengganggu dan mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Nah !

Indra, Caringin Kota Bandung