Danilla Diseret ke Pengadilan Musik

186

Bila kita lihat perjalanan solois cewek, khususnya genre jazz di Indonesia, kini banyak bermunculan, sebut saja Dira Sugandi, Andien, Yura Yunita yang mulai populer lewat jalur indie jazz. Lainnya adalah Danilla Jelita Poetri Riyadi yang lebih dikenal dengan nama Danilla Riyadi, dara kelahiran Jakarta pada tanggal 12 Februari 1990 ini, merupakan anak pasangan Wansyah Fadli dan Ika Ratih Poespa.

Hasratnya menyanyi dan bermusik mempertemukan Danilla dengan Lafa Pratomo pada awal tahun 2012. Kolaborasi keduanya membuahkan banyak ide musikal, dimana Lafa menjadi produsernya. Danilla melahirkan single berjudul “Buaian” pada tahun 2014, dibawah naungan label Orion Records dan Demajors.

Tak berselang lama setelah single “Buaian”, album yang berjudul Telisik tersebut melahirkan beberapa single, antara lain “Berdistraksi”, “Ada Di Sana” serta “Reste Avec Moi” sebuah lagu gubahan dari ibunya Danilla, yang juga penyanyi jazz dan penulis lagu Indonesia.

Pencapaian Danilla di album Telisik membawa namanya menjadi penyanyi yang diperhitungkan di Indonesia dengan karakter suaranya yang khas, membuat pendengarnya merasakan rasa nyaman dan damai. Konsistensi dan kematangan musikalitas Danilla di ranah musik Indonesia, akhirnya menjadi dasar Pengadilan Musik DCDC edisi ke-28 di akhir tahun 2018 lalu.

Sabtu malam (29/12/18) bertempat di Kantin Nasion Rumah The Panas Dalam, Jalan Ambon No. 8A, Bandung, menghadirkan Danilla untuk diuji ketahanannya dalam mempertanggung jawabkan karya-karya yang sudah dihasilkan. Dihadapan perangkat Pengadilan Musik, yakni dua Jaksa Penuntut, Budi Dalton dan Pidi Baiq, Pembela  ditempati oleh Yoga (PHB) dan Ruly Cikapundung, pengadilan sendiri dipimpin seorang Hakim,  yaitu Man (Jasad) dan bertindak sebagai panitera adalah Eddi Brokoli.

Agus Dhanny Hartono selaku Pihak DCDC mengatakan, pengadilan musik untuk episode ke-28 adalah solois, tapi kami tidak melihat yang sebelumnya karena semua satu frame, yakni indiemovement. Kami tidak menskenariokan memilih Danilla untuk disimpan dipenghujung tahun 2018 ini, Alhamdulillah animo penonton pada episode 28 di penghujung tahun yang semula diperkirakan hanya sekitar 300 orang, kenyataannya mencapai 610 orang.

Sementara, pada album keduanya pada tahun 2017 berjudul “Lintasan Waktu”, Danilla berperan langsung sebagai produser bersama Lafa Pratomo dan Aldi Nada Permana dari Ruang Waktu Lab, disokong sejumlah musisi seperti Dimas Pradipta, Edward Manurung, Christ Stanley, Gallang Perdhana (dari Grup Sarasvati), Petrus Bayu Prabowo (dari Mondo Gascaro, The Monophones), dan Rd. Moch Sigit Agung Pramudita (dari grup Tigapagi).

 

Pengadilan Musik DCDC, dapat disaksikan secara langsung dengan melakukan booking passport atau melalui live streaming  melalui situs DjarumCoklat Dot Com. Di Pengadilan Musik, Danilla mampu menjawab segala pertanyaan anggota persidangan, sekaligus bebas dari tuntutan dan materi, dan karyanya dinyatakan layak untuk dikonsumsi oleh publik. Danilla mengaku, sangat senang dan merasa terhibur, walau pada awalnya deg-degan dan takut gak bisa jawab pertanyaan di persidangan Menurut saya, sebagai musisi butuh pengakuan di sisi lain, seperti persidangan di Pengadilan Musik yang acaranya bagus banget. (E- 009)***