Titin Martini Hobi yang Dibayar Merupakan Point Plus

147

Titin Martini, kelahiran 24 Desember 1977, adalah anak dari pasangan Liman dan Parsini.  Ia kini menekuni usaha fashion di Kota Bandung.

Istri dari Cecep Kusdiana (47)  ini, mulai menggeluti usahanya sejak tahun 2009, ketika media sosial “blackberry” mulai populer di Indonesia. Melalui media tersebut Titin mencoba untuk mencari peluang usaha dengan berjualan online. Setelah mendapatkan akses beberapa produsen hijab, bisnisnya mulai berkembang pesat, dari sekedar reseller hingga menjadi agen, dan akhirnya saat ini Titin bisa menjadi distributor hampir 20 merk hijab.

“Kala itu saya hanya menjual gambar.  Setelah ada yang order, saya tagih dan pesankan kepada suplier. Dari sinilah saya mendapat keuntungan. Ketika saya resign dari perusahaan pengeboran batubara, saya mendapat semacam uang jasa, yang kemudian saya gunakan untuk modal usaha serta kepemilikan toko,” tutur Titin tentang perjalanan usaha yang saat ini ditekuninya.

Titin Martini mengakui bahwa, profesinya saat ini sebagai pengusaha fashion, ada kaitan dengan keluarganya yang juga memiliki usaha dagang. Titin memilih  untuk menjadi pengusaha, karena saat ia duduk di bangku SMA,  bapaknya meninggal dunia, hingga keinginannya untuk kuliah dan bisa mandiri telah mendorongnya untuk memulai usaha, supaya bisa mendapatkan penghasilan.

“Saya bekerja part time sebagai stand guide pameran, serta casual di hotel maupun catering. Dari penghasilan yang diperoleh, saya bisa membiayai pendidikan sendiri, walaupun hanya jenjang program pendidikan D1. Ketika itu, ada satu pengalaman yang membuat saya bangga, yakni ketika saya memakai baju matching, banyak yang bertanya baju itu beli dimana.  Saya jawab bahwa, saya juga menjual baju dengan model seperti yang saya kenakan,” ungkap Titin Martini.

Pengusaha berpenampilan modis ini bercerita bahwa, kemampuannya memproduksi dan mendesain produk, terinspirasi oleh kebutuhan pribadi (style diri sendiri). Tempat produksinya berada di daerah  Kopo dan Cimindi Bandung, dengan tiga orang tenaga kerja, dan dalam sebulan mampu produksi 250 pieces dengan bahan baku  impor. Sebabnya ia memilih bahan impor adalah, karena bahan lokal itu beda grade, hingga tenaga kerjanya harus memiliki kemampuan menjahit bahan wollycreap sebagai bahan baku,  yang memang agak susah untuk jahitan model cubitan kecil pada baju atau rok wanita dewasa serta ibu muda.

Ibu dari Dilla Syafarilla K.(12) dan M. Syabil K (9) ini mengatakan bahwa, segmen pasarnya ditujukan untuk ibu muda kelas ekonomi menengah ke atas, yang suka tampil anggun, dengan bahan pakaian dan design yang exlusive, sopan serta berkelas. Produk fashion dari Tini dijual dengan harga Rp 150.000 sampai Rp 350.000. Produknya, mengisi pasar domestik  di seluruh  Indonesia, dan juga beredar di Malaysia, Singapore maupun Taiwan dengan omzet sekitar Rp 15 juta / bulan.

Titin juga mengungkapkan keunggulan produknya bila dibanding produk yang beredar di pasaran.  Misalnya, dalam pemilihan kancing yang elegan dan dibungkus,  walau susah dibuatnya dan mahal, tapi lebih berkelas.

”Saya menyediakan garansi service pergantian kancing gratis, selain saku yang dibuat tersembunyi supaya rapi.  Jadi, selain mengutamakan fungsi dan kegunaannya, produk saya juga memperhatikan estetika dari model baju tersebut,” ucap Titin.

Penganut motto hidup: “Menjadikan hobi sebagai peluang usaha. Hobi yang dibayar itu merupakan point plus-plus” ini,  juga menekuni usaha lain disamping mendesign pakaian dan produksi, yakni menjadi distributor multi brand.

Agar produknya tetap berdaya saing, Titin Martini berusaha untuk selalu meningkatkan kualitas produk dan tetap up to date, selain juga berani menciptakan develope produk. Termasuk harus pula menambah ilmu mengenai dunia usaha, supaya bisa tetap survive.  Usaha milik Titin Martini ini memiliki dua outlet,  yakni di daerah Cibiru dekat  UIN Cipadung, serta di Pasarbaru Square Kota Bandung.

Sedangkan untuk reseller sudah tersebar di Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi, Bekasi dan Jakarta. Di kota-kota ini, produknya bisa terjual habis.

Penggemar warna ungu dan merah ini menilai bahwa, perhatian dan kepedulian pemerintah melalui sektor perbankan maupun swasta terhadap sektor wirausaha cukup baik, yang mana indikatornya adalah melalui  pelatihan-pelatihan maupun pembinaan. Seperti, pelatihan WUB, pelatihan  di rumah kreatif BUMN serta pendampingan wirausaha, agar UKM bisa berdaya saing dalam pasar global.

(E-018)***