Gua Sunyaragi Dikenal Sebagai Tempat Meditasi Para Sultan

116

Gua Sunyaragi menjadi salah satu kawasan cagar budaya  di Kota Cirebon seluas 15 hektare. Cagar budaya ini berada di sisi jalan by pass Brigjen Dharsono, Cirebon. Konstruksi dan komposisi bangunan situs berupa taman air.

Karena itu  disebut taman air Gua Sunyaragi. Pada zamannya komplek gua  dikelilingi  danau yang disebut Danau Jati.  Nama “Sunyaragi” berasal dari kata “sunya” artinya  sepi dan “ragi” yang berarti raga, kkalimat ini berasal dari bahasa Sanskerta. Didirikannya Gua Sunyaragi untuk tempat beristirahat dan meditasi para Sultan Cirebon dan keluarganya.

            Kompleks tamansari Sunyaragi ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu pesanggrahan dan bangunan gua. Bagian pesanggrahan dilengkapi dengan serambi, ruang tidur, kamar mandi, kamar rias, ruang ibadah yang dikelilingi taman lengkap dan kolam. Bangunan gua berbentuk gunung-gunungan, dilengkapi terowongan penghubung bawah tanah dan saluran air.

Bagian luar komplek bermotif batu karang dan awan. Pintu gerbang luar berbentuk candi bentar dan pintu bagian dalam berbentuk paduraksa. Induk seluruh gua bernama Gua Peteng (Gua Gelap) yang digunakan untuk bersemadi. Selain itu ada Gua Pande Kemasan yang khusus digunakan untuk bengkel kerja pembuatan senjata sekaligus tempat penyimpanannya.

Sedangkan perbekalan dan makanan prajurit disimpan di Gua Pawon. Ada pula Gua Pengawal yang berada di bagian bawah  tempat berjaga para pengawal. Saat Sultan menerima bawahan untuk bermufakat, digunakan Bangsal Jinem, akan tetapi kala Sultan beristirahat di Mande Beling. Sedang Gua Padang Ati (Hati Terang), merupakan tempat khsusus bertapa para Sultan.Walaupun berubah-ubah fungsinya menurut kehendak penguasa pada zamannya, secara garis besar Tamansari Sunyaragi meruapakn taman tempat para pembesar keraton dan prajurit keraton bertapa untuk meningkatkan ilmu kanuragan.

Sejarah berdirinya gua Sunyaragi memiliki dua buah versi, yang pertama adalah berita lisan tentang sejarah berdirinya Gua Sunyaragi yang disampaikan secara turun-temurun oleh para bangsawan Cirebon dan keturunan keraton. Versi tersebut lebih dikenal dengan sebutan versi Carub Kanda. Versi kedua , versi Caruban Nagari berdasarkan buku Purwaka Caruban Nagari , tulisan tangan Pangeran Kararangen atau Pangeran Arya Carbon tahun 1720. Sejarah berdirinya gua Sunyaragi versi Caruban Nagari digunakan sebagai acuan para pemandu wisata gua Sunyaragi. Menurut versi ini, Gua Sunyaragi didirikan tahun 1703 Masehi oleh Pangeran Kararangen, cicit Sunan Gunung Jati. Kompleks Sunyaragi beberapa kali mengalami perombakan dan perbaikan.

Menurut Caruban Kandha dan beberapa catatan dari Keraton Kasepuhan, Tamansari dibangun karena Pesanggrahan Giri Nur Sapta Rengga berubah fungsi menjadi tempat pemakaman raja-raja Cirebon yang sekarang dikenal sebagai Astana Gunung Jati. Hal itu dihubungkan dengan perluasan Keraton Pakungwati (sekarang Keraton Kasepuhan Cirebon) yang terjadi pada tahun 1529 M dengan pembangunan tembok keliling keraton, Siti Inggil dan lainnya. Sebagai data perbandingan, Siti Inggil dibangun dengan ditandai candrasengkala Benteng Tinataan Bata yang menunjuk angka tahun 1529 M.

Secara visual, bangunan-bangunan di kompleks gua Sunyaragi lebih banyak memunculkan kesan sakral. Kesan sakral dapat terlihat dengan adanya tempat bertapa, seperti pada gua Padang Ati dan gua Kelangenan, tempat salat dan pawudon atau tempat untuk mengambil air wudhu dan lorong yang konon menuju ke Arab dan Cina yang terletak di dalam komplek gua Arga Jumut dan lorong yang menuju ke Gunung Jati pada kompleks gua Peteng. Di depan pintu masuk gua Peteng terdapat patung Perawan Sunti. Menurut legenda masyarakat lokal, jika seorang gadis memegang patung tersebut, ia akan susah  mendapatkan jodoh. Kesan sakral tampak pula pada bentuk bangunan Bangsal Jinem yang menyerupai bentuk Kabah jika dilihat dari sisi belakang Bangsal Jinem. Selain itu ada pula patung Haji Balela yang menyerupai patung Dewa Wisnu. (E-001) ***