Kisah Kelompok Usaha Kontainer Modifikasi Dan Kuliner

116

NIAT baik biasanya berakhir elok. Keinginan Edi Hartono membantu pamannya yang harus keluar dari pekerjaan sebagai tukang las lantaran berselisih dengan sang bos, berujung manis.

Agar pamannya mendapat pekerjaan kembali, pria kelahiran Bekasi, 19 Maret 1990, ini lantas membuka bengkel las yang melayani jasa pembuatan kanopi, pagar, teralis, dan lain-lain. Dia menawarkannya lewat situs iklan baris online Tokobagus.com dan Berniaga.com, juga lewat akun Facebook.

Padahal sejatinya, Edi sama sekali buta dengan dunia las dan besi. “Jadi, saat ada pesanan masuk, langsung tanya ke om saya, ini maksudnya apa, bahannya apa saja. Jadi intinya, saya terus belajar, sih,” ungkap Edi yang merintis usaha bengkel las pada 2011 lalu.

Dari hanya melayani pembuatan kanopi, pagar, teralis, dan sejenisnya, bisnisnya pun meluas ke booth semi-kontainer serta modifikasi kontainer untuk kafe, restoran, juga kantor. Kini, Edi bisa mengantongi omzet sebesar Rp 1 miliar sebulan dari bisnisnya yang bertajuk Boss Container.

Lalu, berangkat dari hanya berdua dengan pamannya, sejak 2016 lalu, dia merekrut puluhan orang sebagai karyawan. Perinciannya: 12 orang di bagian produksi, 15 orang untuk tim pemasaran, serta 2 orang sebagai tenaga administrasi.

Pelanggannya pun sudah meluas. Bila dulu pelanggannya hanya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang memesan pembuatan booth semi-kontainer dan modifikasi kontainer, kini pelanggannya ada juga perusahaan besar.

Sebut saja, PT Pertamina dan PT Krakatau Steel Tbk. “Sejak tahun lalu Pertamina dan Krakatau Steel minta dibuatkan kontainer untuk kantor,” imbuh Edi.

Awalnya, ia menceritakan, Pertamina dan Krakatau Steel mengontak lewat telepon yang berlanjut dengan datang ke bengkel produksinya di daerah Jati Asih, Bekasi.

Merasa cocok, kedua perusahaan pelat merah itu meminta Edi mengajukan penawaran. “Ternyata kami dapat. Kemudian, walaupun ada repeat order, kami tetap harus ikut bidding. BUMN kan, begitu aturannya,” ujar dia.

Sebelum order badan usaha milik negara masuk, menurut Edi, pesanan booth semi-kontainer dan modifikasi kontainer mulanya datang dari seorang teman. Padahal, saat itu ia sama sekali tidak menawarkan jasa pembuatan produk tersebut.

Berkat kue cubit

Pesanan mulai mengalir deras setelah kue cubit booming di Indonesia pada 2015. Kebetulan di 2012, Edi berbisnis kue cubit dan menawarkan kemitraan, dengan mengusung nama Kue Cubit Eropa. Saat jadi tren dan populer, jumlah mitranya lebih dari 200 partner.

Nah, dia menyediakan booth semi-kontainer sebagai pilihan paket kemitraan kue cubitnya. Sebagian mitra memilih paket booth semi-kontainer.

Order kian mengalir kencang pada 2016. Banyak pelaku UMKM ingin punya kontainer untuk tempat usaha, tapi dengan harga ramah di kantong mereka. “Semua produk saya sistemnya knock down, yaitu bongkar pasang. Jadi, mobilitasnya lebih mudah, harganya lebih murah,” katanya.

Sebetulnya, dunia usaha bukan barang baru buat Edi. Bisnis pertamanya adalah jualan panekuk tipis alias crepes pada 2009. Ketika itu, ia baru saja duduk di bangku kuliah.

Namanya: Go-Crepes. Dia buka gerai di dekat sekolah dasar (SD)-nya dulu di daerah Bekasi.

Setahun menjalani usaha itu, Edi punya lima cabang. Setelah mengantongi keuntungan yang cukup besar, ia memperluas bisnisnya ke sektor distributor telur ayam. “Tapi, saya malah rugi di bisnis ini. Utang saya sampai Rp 30 juta. Pusing banget saya saat itu,” kenangnya.

Setelah bisnis telurnya bangkrut dan meninggalkan utang Rp 30 juta, Edi memutuskan untuk berdagang keset sambil terus menjalankan roda usaha crepes. Ia mengambil keset dari daerah Cakung, Jakarta Timur. Ia menggelar dagangan saban Sabtu dan Minggu di sebuah pasar malam di Bekasi.

Saat itu pula, pamannya keluar kerja dan untuk membantu nya, Edi membuka bengkel las konstruksi. Karena pesanan mulai banyak, secara perlahan Edi menutup usaha crepes. Ada dua gerai yang ia kasih ke karyawannya.

Dia pun berhenti jualan keset. Pada 2012, Edi membuka usaha kue cubit. “Alhamdulillah, lama-lama utang saya Rp 30 juta lunas dari usaha las dan kue cubit,” tambahnya.

Cuma saat ini, ia sudah tidak lagi memiliki gerai kue cubit. Gerai milik mitra yang tadinya ada 200-an pun, mungkin tersisa 20% saja. Tapi, Edi masih membuka kemitraan di luar Jabodetabek. Beberapa bulan lalu, ada mitra baru di Kalimantan.

Paket kemitraan Kue Cubit Eropa dengan sistem jual putus bervariasi, ada yang Rp 5 juta, Rp 10 juta, dan Rp 15 juta. “Keuntungan ataupun hasil penjualan sudah tak perlu bagi hasil lagi ke saya. Tapi, mitra masih harus beli tepung kue cubit dari saya,” ucap Edi yang pernah menjadi guru les komputer dan matematika di sebuah lembaga kursus semasa kuliah.

Selain gagal dalam berbisnis, Edi juga pernah salah kelola keuangan. “Saya, kan, awalnya kuliah ambil jurusan ekonomi tapi enggak beres-beres, sampai akhirnya di-DO (dikeluarkan). Terus, saya kuliah lagi ambil jurusan bisnis, diajarkan cara bisnis dan pemasaran, tapi belum keuangan,” tuturnya.

Kala itu usaha kue cubitnya sedang laris-larisnya, dengan nilai penjualan menembus Rp 350 juta per bulan, tetapi dana tak bersisa banyak di tabungan. Ternyata, itu gara-gara Edi memakai uangnya untuk pelesiran.

Beruntung, ia mendapat ilmu dari guru sekaligus mentornya, bahwa pengusaha harus punya dua kantong: satu rekening usaha dan satu rekening pribadi. Dan selaku pemilik, enggak bisa seenak jidat memakai duit usaha.

“Guru dan mentor saya bilang, saya harus tetapkan dalam sebulan gaji saya berapa. Masukkan gaji ke rekening pribadi, itulah yang dipakai. Tahan-tahan dulu saja kalau mau beli ponsel baru, mobil, dan lain-lain. Nanti, setelah tutup tahun, barulah saya bisa ambil keuntungannya,” beber Edi.

Tambah produk

Saat ini, Edi fokus mengembangkan usaha booth semi-kontainer juga modifikasi kontainer. Untuk jasa pembuatan kanopi, pagar, teralis, dan lain-lain, ia tak lagi terima order.

Pesanan yang masuk kebanyakan booth semi-kontainer.

Pembelinya 80% adalah UMKM, dan sisanya yang 20% perusahaan besar. Order tidak hanya dari Jakarta dan sekitarnya, tapi juga datang dari kota-kota lain termasuk dari luar Jawa, seperti Belitung, Bali, dan Makassar.

Awalnya, begitu dapat order dari luar kota, Edi cukup bingung. Sebab, pembeli juga bertanya tarif ongkos kirimnya. Dari situ, ia pun mencari tarif termurah dari perusahaan ekspedisi yang ada.

“Untuk packaging, sih, enggak terlalu susah karena, kan, terbuat dari besi, jadi kuat. Untuk luar kota, saya juga berikan video tutorial pemasangannya,” kata dia.

Ke depan, Edi berencana menambah produk kontainer modifikasi berupa kamar tidur untuk rumah dan hotel. Sebab, baru saja ia mendapat pesanan membuat kamar tidur untuk rumah. “Kontainer kuat kok bahannya, dan ada lapisan-lapisan yang membuatnya jadi enggak panas, juga bisa dipasang AC,” imbuhnya.

Selain itu, Edi ingin kembali serius berbisnis kuliner. Saat ini, ia punya lapak di kantin Universitas Trisakti, Jakarta.  Awalnya, dia jualan roti bakar kemudian kentang goreng. Nah, beberapa bulan lalu, ganti lagi menjadi ayam goreng.

Rencananya, Edi akan menawarkan kemitraan untuk usaha ayam gorengnya. Apalagi, pasangan artis Adi Nugroho dan Donita tertarik untuk bergabung.

“Saya kenal mereka karena sudah beli lima kontainer dari saya untuk usaha martabaknya. Tapi, kami masih pembicaraan, belum nemu win-win solution,” ungkap dia.

Meski sudah berjalan cukup lama dan berkembang, Edi belum melegalkan usahanya. Atas masukan dari beberapa temannya di Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Bekasi, ia pun sedang menyiapkan bisnisnya berstatus perseroan terbatas (PT).

“Nanti namanya adalah Go Group. Di sini akan ada berbagai usaha, yakni usaha kontainer, kue cubit, juga ayam goreng,” jelas dia. (C-003/BBS)***