Citarum Kolot Retensi Alami

73

   DARI Bandung ke Baleendah, melalui Terusan Bojongsoang, kita pasti akan melintasi dua jembatan. Pertama jembatan biru  yang melintang di atas Sungai Citarum Lama yang juga disebut sungai mati atau Oxbow Bojongsoang.

Disebut Citarum Kolot karena setelah proyek pelurusan Citarum, sungai bekas Citarum Lama masih ada. Sungai yang panjangnya hanya 1 km itu disbut Sungai Citarum Kolot. Sebagian, menjadi daratan yang dimanfaatkan warga sebagai lahan penanaman sayuran. Sebagian lagi menjadi  selokan yang mengalirkan air dari kolam buangan (IPAL) Kota Bandung di Bojongsoang serta pembuangan air rumah tangga dari perkampungan Cijagra dan Cigebar, Desa/Kecamatan Bojongsoang.

    Karena Citarum Kolot, sangat dangkal dan nyaris tak terurus, apabila terjadi hujan lebat di hulu, semua saluran air dari rumah di sebelah utara sungai mati itu, tidak mengalir. Akibatnya terjadi banjir yang menggenangi sebagian Kampung Cigebar dan seluruh Kampung Cijagra. Sering kali genangan itu sampai ke jalan terusan Bojongsoang dan memtuskan arus transportasi dari Bandung Selatan ke Kota Bandung. Banjir terjadi sepanjang aliran Citarum meliputi tiga kecamatan, Baleendah (Cieunteung dan Andir), Bojongsoang (Cigebar dan Cijagra), dan Dayeuhkolot (kota, Bojongasih, Citeureup). Karena tinggi genangan di jalan raya rata-rata mencapai 30 cm – 1 m, semua kendaraan tidak dapat melewati jalan tersebut.

    Di sepanjang aliran Sungai Citarum, setelah pelurusan tahun 1990-an,  wilayah Kabupaten Bandung terdapat 14 sungai mati. Salah satunya, Citarum Kolot Bojongsoang yang mengalir di bawah Jembatan Biru. Sejak awal tahun 2018, terjadi perubahan di Citarum Baru wilayah Baleendah, dan Citarum Kolot di Bojongsoang. Sungai mati (oxbow) Bojongsoang, sekarang sudah tertata lebih baik. Oxbow itu menjadi taman pemancingan yang cukup ramai dikunjungi masyarakat terutama penggemar memancing. Setelah dikeruk dan diperdalam, tepi kiri kanannya dibersihkan, ditanami berbagai pepohonan, tempat itu diharapkan akan menjadi sebuah taman yang asri. Sedangkan kawasan Cieunteung yang diubah menjadi kolam retensi, direncanakan menjadi taman rekreasi, baik tempat bermain anak-anak maupun kolam yang dilengkapi dengan perahu dan wahana permainan air lainnya.

     Dampaknya, aliran air dari semua anak sungai dari selatan yang menuju Citarum, tidak langsung masuk Citarum tetapi sebagian masuk Kolam Retensi  Cieunteung. Benar, kolam rentensi itu belum mampu menampung luapan air Citarum dan anak-anak sungai besar, seperti Cisangkuy. Pada musim penghujan, Taman Kota Baleendah, dan Andir masih mengalami banjir. Namun aliran Sungai Citarum Anyar lebih lancar. Sampah dan limbah industri sebagian besar tidak lagi mencemari sungai terpanjang di Jabar itu.

     Kalau kita melintas di atas Jembatan Kuning Baleendah dan melihat aliran air di bawahnya, kita tidak lagi berkerenyit kening atau menutup hidung. Airnya relatif bening meskipun ketika terjadi hujan lebat di daerah hulu, longsoran tanah masih masuk ke Sungai Citarum mengakibatkan, terjadi sedimentasi. Oxbow Biojongsoang yang tampak lebih asri, belum sepenuhnya terbebas dari sampah. Setiap hari harus ada petugas yang memunguti sampah terutama yang dibawa aliran Sungai Cikapundung dari wilayah Kota Bandung. Sampah itu pula yang menjadi hambatan bagi para pemancing.Karena itu mereka menginginkian di Cikapundung dibuat jaring penangkap sampah, jauh sebelum aliran air di Cikapundung itu sampai ke Citarum.

     Sekarang Citarum Kolot menjadi contoh bagi pemerintah dan masyarakat di sepanjang Citarum, menjadikan semua sungai mati menjadi sungai retensi. Sebanyak 14 sungai mati di kiri-kanan Citarum bila dikelola secara baik, akan menolong dan mengurangi luapan Sungai Citarum. Menurut Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, 14 sungai mati itu mencapai panjang 7 kilometer. Bila ditata, dikeruk, dan diperdalam, semua sungai mati itu  menjadi kolam retensi alami, Menahan luapan Citarum karena retenski alami itu  dapat menampung 1,2 juta meter kubik air.

     Kita berharap dalam waktu yang tidak terlalu lama, sepanjang aliran Sungai Citarum menjadi daerah kunjungan wisata berupa taman, hutan kota, kolam pemancingan, dan wahana wisata air. ***