Harga BBM Turun lagi

99

   MULAI  Ahad 10 Februari 2019, harga BBM di Indonesia  kembali turun setelah turun pada 5 Januari lalu. Harga Pertamax turun dari Rp 10.200 menjadi Rp 9.850 perliter. Harga Pertamina Dex turun dari Rp 11.750 menjadi Rp 11.700 peliiter. Hanya Petralite yang tidak berubah, masih tetap Rp7.650 petliter.

Harga Premium yang semula berbeda  di Jawa-Bali dan luar Jawa-Bali, sekarang ditetapkan menjadi sama yakni Rp 6.550 perliter. Namun pemerintah menetapkan pula, distribusi Premium sama di seluruh Indonesia tanpa pengecualian.

    Penurunan harga BBM sampai dua kali dalam  awal tahun ini berkaitan dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar. Kurs rupiah terhadap dolar pada tanggal 4 Januari masih Rp 14.4465 perdollar AS. Tanggal  8 Februari terjadi penguatan rupiah menjadi Rp 13.992 perdollar AS. Faktor kedua yang mendorong turunnya harga BBM di Indonesia akibnat harga minyak mentah dunia turun menjadi  52,72 dollar AS perbarrel untuk jenis WTI dan Rp 62,1 dollar AS perbarrel bagi jenis Brent.

     Penurunan harga BBM, meskipun belum sampai pada titik paling ideal dari sisi masyarakat, merupakan kebijakan pemerintah yang sangat ditunggu masyarakat. Secara empiris, naik turunnya harga BBM punya dampak cukup luas terhadap perubahan harga

berbagai barang kebutuhan masyarakat. Ketika harga BBM turun, seperti sekarang, sangat berpengaruh tetrhadap mobilitas penduduk dan distribusi barang dan jasa. Arus barang dan mobilitas penduduk semakin dinamis karena infrastruktur sudah banyak yang terbangun, baik jalan, bandara, maupun pelabuhan. Keduanya juga akan mampu mendorong ekspor Indonesia Hal itu akan tampak lebih baik, kalau pemerintah juga melakukan kontrol yang lebih intensif.

    Pemerintah juga harus tetap waspada karena harga BBM kita sangat bergantung pada nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dan harga minyak mentah dunia. Kedua faktor itu hampir selalu fluktuatif apalagi pada saat perekonomian dunia sangat anomalistis. Perang dagang AS-China, meskipun cenderung berakhir damai, berpengaruh besar terhadap perekonomia global. Stabilitas harga dan nilai tukar akan terdampak secara signifikan. Harga BBM juga tidak mendapat jaminan akan stabil pada harga sejak 8 Februari 2019.

   Ketergantungan terhadap situasi ekonomi global merupakan hal yang wajar. Indonesia masih belum dapat melepaskan diri dari ketergantungan itu.Kecuali kalau kita sudah benar-benar menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi terus naik lebih dari 7 persen.Indonesia kembali menjadi penghasil dan pengekspor minyak. Karena itu pemetrintah harus terus mendorong peningkatan ekspor komoditas mentah ke komoditas jadi, baik berupa hasil industri kecil maupun peroduk manufaktur.

    Masyarakat berharap, penurunan harga BBM dan perluasan distribusi BBM jenis Premium tidak berbau politik. Akan tetapi benar-benar akibat suasana perekonomian Indonesia semakin baik. Kita dapat mencapai bahkan melebihi target pertumbuhan lebih dari 5,8 persen. Pemerintah dapat menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta mampu mengendalikan inflasi.  ***