Kebanyakan Pakai Smartphone, Otak Jadi Malas Berpikir?

49

KEBERADAAN teknologi dirancang untuk memudahkan manusia, tak terkecuali smartphone. Para ilmuwan tak yakin, smartphone bisa membuat kinerja otak rusak.

Namun, mereka percaya bahwa penggunaan smartphone yang berlebihan bisa menimbulkan perilaku obsesif, seperti ketergantungan hingga mengarah pada depresi.

Hal ini tidak dimungkiri karena pengguna seringkali mendapatkan notifikasi dari smartphone.

Misalnya, notifikasi membangunkan pengguna dari tidurnya, notif email masuk ke inbox, notifikasi grup obrolan di lingkungan kerja, dan lain-lain.

Gangguan-gangguan tersebut sebenarnya bertujuan baik, yakni membuat pengguna tidak ketinggalan informasi. Namun ternyata badan punya pandangan lain.

Pasalnya, notifikasi-notifikasi ini bisa meningkatkan level stress, detak jantung kencang, kelenjar keringat terbuka, dan lain-lain.

Padahal, respon-respon ini sebenarnya dimaksudkan untuk membantu pengguna mengatasi bahaya, bukannya menjawab panggilan atau SMS dari kolega.

Hasil penelitian pun menyebutkan, 89 persen mahasiswa merasa ada getaran smartphone yang memanggil-manggil mereka meskipun smartphone tak benar-benar menampilkan notifikasi. Sebenarnya itu hanya respon palsu dari tubuh.

Kemudian, 86 persen orang Amerika mengatakan, mereka secara konstan aktif mengecek email dan akun medsos dan hal ini dirasa meningkatkan level stress.

Ahli Endokrin Robert Lustig mengatakan, notifikasi dari smartphone membuat manusia melatih otak untuk berada dalam kondisi stress dan ketakutan.

Kondisi seperti itu membuat bagian di otak yang berhubungan dengan fungsi kognitif (korteks prefrontal) berada dalam kondisi rusak.

“Kemudian, kamu akan melakukan hal-hal bodoh, dan itu cenderung membuatmu dalam masalah,” kata Lustig, dikutip BB dari Business Insider, Minggu (3/3/2019).

Otak Hanya Bisa Mengerjakan Satu Hal dalam Satu Waktu

Selama betahun-tahun, para ilmuwan percaya bahwa manusia tak benar-benar multi-tasking. Bahkan, menurut ilmuwan, hanya 2,5 persen orang yang memiliki kemampuan multi-tasking alias melakukan beberapa hal sekaligus.

Misalnya saja, mereka bisa menyetir sambil mengemudi dengan normal tanpa mengorbankan kemampuan untuk menggeser persneling.

Namun, hanya satu dari 50 orang yang memiliki kemampuan ini. Sisanya, orang hanya bisa fokus pada satu hal.

Artinya, kapanpun kita berhenti melakukan pekerjaan untuk membuka atau menjawab pesan (atau aplikasi lain), kita terganggu dan ada hal yang harus dikeluarkan, namanya switch cost.

Kadang switch cost dari satu hal ke hal lain hanya beberapa detik. Namun jika terus-terusan, obrolan tatap muka atau pekerjaan pun bisa terganggu.

Psikolog David Meyer memperkirakan, peralihan antartugas dapat menghabiskan 40 persen dari waktu produktif otak kita.

Meyer menyebut, tekanan yang dirasakan manusia saat mencoba melakukan banyak hal sekaligus, padahal sebenarnya tidak bisa, dapat membuat mereka sakit bahkan merasakan banyak gangguan.

Otak manusia hanya dapat memproses begitu banyak informasi pada suatu waktu, yakni sekitar 60 bit per detik.

Makin banyak tugas yang harus dilakukan, makin sering pula manusia harus memilih bagaimana mereka ingin memakai kekuatan otak yang berharga.

Oleh karenanya, bisa dimengerti kalau orang meneruskan sebagian beban kerjanya yang ekstra pada smartphone atau asisten digital. Namun, ada beberapa bukti bahwa mendelegasikan tugas berpikir ke smartphone tidak hanya membuat otak lebih sakit, tetapi juga malas.

Para peneliti menemukan bahwa para pemikir lebih sedikit menggunakan mesin pencari di smartphone ketimbang orang lain.

Memang itu tidak berarti bahwa menggunakan smartphone untuk searching membuat pengguna jadi bodoh. Namun, mungkin saja para pemikir ini tidak banyak searching karena pengetahuan mereka lebih banyak.

Menurut peneliti pula, membaca informasi baru dari smartphone bisa jadi cara yang buruk untuk belajar ketimbang membaca dari buku.

Pasalnya, orang yang mengambil informasi rumit dari sebuah buku mengembangkan pengembangan yang lebih dalam, sekaligus terlibat dalam pemikiran yang lebih konseptual.

Tidak hanya itu, hasil penelitian terbaru pada pengguna di Swiss menunjukkan bahwa menatap layar bisa membuat otak dan jari lebih gelisah.

Tahun lalu, para psikolog dan ilmuwan komputer menemukan temuan yang meresahkan. Di mana, makin banyak mengetap, mengklik, dan posting medsos bisa membuat sinyal otak makin ribut.

Padahal biasanya ketika orang melakukan sesuatu lebih sering, mereka jadi lebih baik, lebih cepat, dan efisien dalam tugas itu.

Namun, peneliti berpikir, ada sesuatu yang terjadi ketika orang terlibat terlalu banyak dalam medsos, yakni kombinasi dari bersosialisasi dan menggunakan smartphone bisa membuat otak terganggu.

Batasi Diri dari Smartphone dan Medsos

Demikian juga dengan penggunaan medsos seperti Facebook atau Twitter atau internet yang terlalu banyak bisa membuat kecanduan.

Melihat dampak-dampak di atas, pengguna perlu membatasi diri dari perangkat, media sosial, maupun internet.

Ahli Endokrin Robert Lustig mengatakan, sebenarnya medsos atau perangkat bukanlah masalah. Yang jadi persoalan adalah ketika manusia tidak membatasi diri atau membebaskan otaknya untuk diganggu notifikasi.

Lustig menyebut, ia ingin mengubah hal tersebut dengan menerapkan batasan tentang penggunaan smartphone di tempat umum. Seperti halnya merokok.

“Jika kita bisa menganggap merokok suatu hal yang tabu di dalam gedung, kita harusnya bisa menganggap pakai smartphone di tempat tertentu jadi hal yang dilarang,” katanya.

(C-003/Jek)***