Mari Galakkan Ekonomi Kreatif Kota Bandung

71

KOTA Bandung adalah salah satu kota kreatif di Indonesia. Hal ini ditandai dengan berhasilnya Kota Bandung menjadi tuan rumah bekraf festival tahun 2017 lalu. Berarti Kota Bandung dianggap memiliki potensi. Tidak lain, ada banyak komunitas, festival, hingga sarana dan prasarana di Kota Bandung yang sangat mendukung perkembangan ekonomi kreatif.

Menurut John Howkins, ekonomi kreatif adalah kegiatan ekonomi dalam masyarakat yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menghasilkan ide, tidak hanya melakukan hal-hal yang rutin dan berulang. Karena bagi masyarakat ini, menghasilkan ide merupakan hal yang harus dilakukan untuk kemajuan. Jadi secara umum, ekonomi kreatif adalah ekonomi berbasis gagasan dan imajinasi.

Karena Bandung bukan kota industri, bukan bersifat ekonomi korporasi, jadi Kota Bandung fokus pada ekonomi kreatif, jasa, dan pariwisata. Hal ini ditandai dengan banyaknya jumlah rumah makan atau restoran, akomodasi hotel, wisatawan, dan usaha pariwisata di Kota Bandung.

Menurut Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, jumlah akomodasi hotel bintang dan nonbintang di Kota Bandung pada tahun 2017 sebanyak 345 dengan jumlah kamar sebanyak 17.545 kamar.

Jumlah wisatawan mancanegara yang mengunjungi Kota Bandung pada tahun 2016 sebanyak 173.036 orang, sedangkan jumlah wisatawan domestik yang mengunjungi Kota Bandung pada 2016 sebanyak 4.827.589 orang.

Pada tahun 2017 jumlah restoran di Kota Bandung sebanyak 396, jumlah rumah makan sebanyak 372, jumlah kafe sebanyak 14 dan jumlah bar sebanyak 13. Adapun jenis usaha pariwisata di Kota Bandung sebanyak 17 usaha, yaitu: pub/karaoke (107), spa/sauna (41), panti pijat (33), karaoke (23), billiar (17), tempat rekreasi (11), kelab malam (6), kolam renang (5), fitnes (5), museum (5), diskotik (2), objek wisata religi (2), wahana wisata (2), golf (1), boling (1), sanggar tari (1), dan kebun binatang (1).

Berdasarkan direktori Bekraf Information System and Mobile Application (BISMA) oleh Badan Ekonomi Kreatif, di Kota Bandung terdapat 16 subsektor ekonomi kreatif dengan total sebanyak 604 usaha.

Kuliner merupakan jumlah subsektor usaha kreatif terbanyak di Kota Bandung yang terdaftar di direktori Bisma Bekraf, yaitu sebanyak 195 usaha. Diikuti oleh subsektor fesyen sebanyak 118 usaha, subsektor kriya sebanyak 47 usaha, subsektor film animasi dan video sebanyak 33 usaha, subsektor desain komunikasi visual sebanyak 31 usaha, subsektor desain produk sebanyak 28 usaha, subsektor desain interior sebanyak 14 usaha, subsektor arsitektur sebanyak 5 usaha, subsektor fotografi sebanyak 16 usaha, subsektor aplikasi gim sebanyak 29 usaha.

Ada pula subsektor penerbitan sebanyak 9 usaha, subsektor fotografi sebanyak 16 usaha, subsektor fotografi sebanyak 16 usaha, subsektor seni rupa sebanyak 7 usaha, subsektor periklanan sebanyak 6 usaha, subsektor seni dan pertunjukan sebanyak 6 usaha, subsektor televisi dan radio sebanyak 1 usaha, subsektor usaha lainnya sebanyak 54 usaha.

Berdasarkan Survei Khusus Neraca Produksi Ekonomi Kreatif (SKNP Ekraf) yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik tahun 2016, diketahui bahwa produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku yang tercipta tahun 2016 adalah sebesar 922,59 triliun rupiah.

Ekraf memberikan kontribusi sebesar 7,44 persen terhadap perekonomian nasional. Kontribusi ekraf Indonesia tersebut menduduki peringkat ketiga dibandingkan dengan negara lainnya, setelah Amerika Serikat (11,12 persen) dan Korea Selatan (8,67 persen).

Pada 2016, nilai ekspor ekonomi kreatif mencapai US$20 miliar dan memiliki kontribusi terhadap ekspor nasional sebesar 13,77 persen.

Pemerintah Kota Bandung sangat mendukung pertumbuhan ekraf, hal ini terlihat ada yang namanya little Bandung store. Semua produk-produk kreatif yang layak dijual di dalam dan luar negeri, dikumpulkan, dan dibantu penjualannya di toko-toko dengan merek little Bandung store tersebut maupun secara daring.

Sesuai dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 98 Tahun 2014 tentang perizinan untuk usaha mikro dan kecil pada tanggal pada tanggal 18 September 2014, pemerintah Kota Bandung juga membebaskan biaya perizinan usaha ekonomi kreatif dibawah 500 juta.

Pemerintah Kota Bandung juga membangun Bandung Creative Hub (BCH) yang terdiri atas lima lantai berisikan kafe, toko desain pakaian bergaya khas anak muda, perpustakaan yang menyediakan berbagai komik, ruang auditorium bioskop yang bias digunakan untuk screening film, seni pertunjukan dan fashion show, galeri seni, studio audio.

Ditambah dengan studio produksi dan pascaproduksi karya-karya digital seperti gim dan animasi, ruang fotografi, ruang produk desain dengan printer 3D, laser cutter, serta ruang-ruang kelas untuk workshop, pelatihan atau pertemuan. BCH yang diresmikan pada tanggal 20 Desember 2017 tersebut terbuka untuk komunitas, mahasiswa dan masyarakat umum tanpa dikenakan biaya untuk masuknya.

Pemerintah Kota Bandung dan Bekraf mengharapkan kesadaran masyarakat akan kegiatan ekonomi kreatif Kota Bandung semakin tinggi, mulai dari aspek permodalan, infrastruktur, dan pemasaran.

Bekraf berharap para pelaku usaha ekonomi kreatif mau bergabung dan mendaftar ke aplikasi BISMA. BISMA mendorong para pelaku memiliki jejaring dan memperoleh kesempatan mendapatkan fasilitas dan dukungan bagi pengembangan usahanya dari Bekraf.

Aplikasi BISMA dapat diakses melalui https://bisma.bekraf.go.id/ atau dapat diunduh secara gratis di Google Playstore dan iOS Appstore.

Bekraf pun bekerja sama dengan Bandung Creative City Forum (BCCF) mengadakan kegiatan temu BISMA dengan para pelaku usaha ekonomi kreatif, sekaligus juga memberi ruang bagi para pelaku usaha ekonomi kreatif untuk bertemu dan berjejaring.

Masyarakat juga diharapkan ikut berkontribusi dalam menggalakan ekonomi kreatif di kota Bandung pada tahun 2019, dengan menggunakan produk lokal Indonesia khususnya Kota Bandung. (C-003)***