Dony : Terus Perhatikan Investasi; Pariwisata dan Budaya Untuk Dongkrak Roda Ekonomi

65

BISNIS BANDUNG –  Bupati Sumedang , Dony Ahmad Munir membuka pameran produk UMKM tahun 2019 yang diselenggarakan oleh Dekranasda bekerjasama dengan Yayasan Pangeran Sumedang di los Pasar Sandang Sumedang yang diikuti pelaku UMKM dari 26 wilayah kecamatan yang menampilkan berbagai produk.

“ Dipamerkannya berbagai produk UMKM dalam pameran ini diharapkan bisa lebih mengenalkan produk – produk yang ada di daerah masing masing,” ujar Bupati, Minggu (17/3/19).
Pada kesempatan itu , Bupati  mengapresiasi SKPD dan para camat yang terus memberikan perhatian bagi perkembangan UMKM di wilayahnya masing-masing, hingga  UMKM semakin berkembang.

Berkembangnya UMKM, menurut Bupati diharapkan mampu mengurangi angka kemiskinan  di Sumedang berkurang dalam setiap tahunnya sekitar 12.000 orang. Pengurangan kemiskinan , selain melalui investasi pengusaha, juga dilakukan Pemkab Sumedang melalui mengembangkan wisata dan budaya untuk mendongkrak roda ekonomi . ”Program- program SKPD harus mengarah kepada pengurangan kemiskinan, kita  bersama sama entaskan kemiskinan. Termasuk mengarahkan dana desa kepada program yang berdampak pada pengurangan kemiskinan dengan sinergitas dari kita semua,” ujarnya.

Oleh karena itu dengan konteks umkm ini setidaknya akan menpromosikan produk-produk unggulan yang ada di kabupaten Sumedang sekaligus memasarkan pada masyarakat
Bupati berharap, produk unggulan UMKM Sumedang bisa terus pasarkan tidak sebatas di wilayah Sumedang  ,tapi bisa ekspor sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat akan semakin baik, “ pungkas Bupati.

Sementara  Marketing Pasar Sandang Sumedang, Ulung Kusumah menyebut, misi lain dari pameran UMKM , selain memperkenalkan berbagai produk UMKM dari seluruh wilayah Sumedang, juga menjadikan pasar sebagai pusat kain batik khas Sumedang (batik Kasumedangan). Di pasar  semi modern ini, ujar Ulung , harus bisa menjadi tempat aktifitas jual beli dengan kerangka kearifan lokal.

“Mudah-mudahan pameran UMKM ini  berdampak pada komoditas yang dijual pedagang yang ada disini yang baru satu tahun berjualan disini. Dampak jangka panjangnya , agar  pasar ini menjadi  pasar yang bisa bersaing dengan pasar modern ada di Sumedang,” tutur Ulung kepada wartawan seraya menjelaskan mekanisme pengisian beberapa lapak yang kosong, pihak pengelola memberikan program gratis bagi semua pelaku UMKM dengan hanya membayar retribusi saja.

“Kita ingin pasar ini menjadi hidup, tidak sepi. sebab itu setelah pameran jika pelaku UMKM mau meneruskan berdagang silahkan,  masih ada sisa  program gratis selama tiga bulan dengan aturan yang ditetapkan,” ujar Ulung.

Sedangkan  Kabag Ekonomi Pemkab Sumedang , Deni Tanrus mengatakan, pameran UMKM  merupakan penerapan kebijakan berbasis investasi. Menurutnya, BUMN maupun BUMD akan berupaya menyertakan modal untuk UMKM maupun warga pasar dari hak guna bangunan (HGB) menjadi anggunan.

“Status jongko pasar kan HGB,  akan ditindaklanjuti melalui pinjaman bank. Karena disini ada usaha mikronya, kecilnya sampai menengahnya , mungkin bisa dapat kredit  Rp 20-50 juta untuk mikro, Rp 50 sampai Rp 100 juta lebih untuk kecil dan menengah,” tutur Deni.

Untuk UMKM lanjut Deni, seperti grosir, baik berupa makanan, kerajinan tangan, hasil bumi, dan kebutuhan lain bisa dipasarkan terpusat di Pasar Sandang.

“Insyaallah , kalau ada yang ingin membeli hui Cilembu, wedang Rancakalong, gula Wado, bahkan kopi yang saat ini sedang booming. Termasuk fashion, seperti batik kasumedangan, saya lihat  sudah banyak yang menjual dengan motif dan corak budaya khas Sumedang,” ungkap Deni . Selain itu lanjut Deni, untuk menunjang pemasaran berbagai produk UMKM , pemerintah akan memfasilitasi pasar online melalui “Rumah Kemas” yang akan melayani labeling, packaging, perizinan, layanan antar paket. Dengan adanya investasi disini, pertumbuhan ekonomi akan semakin meningkat. Apalagi saat ini akan menghadapi hari jadi Sumedang, bulan puasa dan Idul Fitri.

Dikemukakan Deni , gagasan untuk menjadikan pasar sebagai penunjang pariwisata nampaknya bisa menjadi kenyataan. Karena, idealnya pasar tradisional masa kini, bukan lagi sekadar pemenuhan komoditi ekonomi.Pasar harus didorong menjadi tempat wisata vintage (napak tilas) sebagaimana halnya di Jalan Malioboro  Jogjakarta.

“Kita lihat, Solo dan Jogja bisa menjadikan  pasar sebagai lokasi wisata , kenapa tidak untuk Sumedang. Wisatawan lokal maupun mancanegara yang sedang berwisata ke Sumedang, alangkah baiknya jika diarahkan belanja oleh-oleh makanan, kerajinan, produk handmade lokal hingga batik kasumedangan di Pasar Sandang Sumedang,” ujar Deni menambahkan. (E-010) ***