Intip Motif Etnik Yang Banyak Dilirik

72

KINI, tak hanya para penggemar kain tradisional yang ingin menggunakan kain bermotif tenun NTT. Sebagian besar masyarakat Indonesia juga mulai gemar menggunakannya.

Ignasio Hapu, pemilik Gading Haumara Gallery pun mengamininya. “Terutama yang motif Sumba, makin banyak yang mencarinya,” ujarnya.

Tren tenun mulai menggeliat dan dikenal masyarakat lebih luas sejak dua tahun lalu. Seiring dengan penobatan batik sebagai warisan budaya Indonesia oleh UNESCO, kain tenun NTT pun terangkat pamornya.

Kain tenun asli NTT punya berbagai motif seperti motif Sumba, motif Timor, motif Rote dan motif Flores. Ignasio bilang, harga kain tenun aneka motif tersebut cukup tinggi, yakni Rp 1,2 juta hingga Rp 15 juta per lembar. Bahkan, kain koleksi khusus yang dibuat dengan benang hasil pintalan para perajin sendiri dan pewarna alami dibanderol sampai Rp 75 juta per lembar.

Harga tinggi itu memang sepadan dengan proses pembuatannya. “Semua tenun NTT dibuat dengan cara manual, satu kain butuh waktu 8 bulan sampai setahun,” ungkap Ignasio. Ia bilang kebanyakan pelanggan kain khusus tersebut berasal dari kalangan kolektor.

Ignasio juga mengungkapkan jika para pelanggannya kini mulai banyak yang mencari pakaian tenun jadi. Maksudnya, bukan berupa kain lagi yang dicari oleh pelanggan, namun dalam bentuk pakaian jadi. Alasannya, belum tentu semua penjahit bisa pas menjahit kain tenun NTT.

Tren motif kain tenun NTT yang tengah naik daun juga diakui oleh Sema Chintyadeni, pemilik Ethnic Mine asal Bekasi, Jawa Barat. Sejak tiga tahun terakhir, ia mengeluarkan seri produk dengan motif tenun NTT dan selalu laris. “Ethnic Mine ini berdiri sejak tahun 2012. Awalnya saya nggak main di motif tenun NTT, lebih ke motif tribal yang dulu sempat tren juga. Tapi sejak tiga tahun ini, banyak konsumen tanya soal motif tenun NTT. Jadi sekarang fokus garap motif NTT,” jelas Sema.

Berbeda dengan Ignasio yang menjual kain tenun asli NTT, Ethnic Mine menawarkan pakaian jadi khusus wanita, seperti blus dan outer dengan berbagai motif etnik. Motif tenun NTT adalah produk paling banyak dicari selain motif shibori. Harga aneka produk Ethnik Mine dibanderol mulai Rp 170.000 per buah.

“Sejak tahun lalu, permintaan motif tenun NTT ini makin banyak. Naik sih, sekitar 50%. Makin ke sini, banyak orang yang makin suka dengan motif NTT. Bahkan ada beberapa kantor yang pesan blus motif tenun NTT untuk seragam mereka,” tuturnya.

Sema mengaku dalam sebulan ia bisa menjual sampai ratusan buah blus maupun outer bermotif tenun NTT. Pelanggannya datang dari berbagai daerah, baik sekitar Jabodetabek, maupun kota lain, seperti Surabaya, Bandung, Yogya, Malang, Solo, Medan, Kalimantan, dan Lampung.

Motif simbol primitif yang elegan disukai penggemar

Kain tenun tiap daerah di Indonesia punya corak, motif dan warna khas. Biasanya, ketiga hal itulah yang menjadi daya tarik bagi konsumen. Begitu pula dengan motif kain tenun asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang punya motif dan corak begitu menonjol.

Ignasio Hapu, pemilik Gading Haumara Gallery menjelaskan, motif Sumba biasanya menggunakan gambar-gambar primitif dan menggunakan bahan pewarna alami. Sedangkan motif Flores biasanya gambarnya lebih kecil-kecil, seperti gambar bunga, ukuran gambar motifnya lebih kecil dibanding motif Sumba. Dan kalau motif Timor pasti menggunakan warna-warna cerah, kuning, hijau, biru, merah.

Ia bilang, saat ini konsumen lebih banyak mencari motif asal Sumba. Motif tenun Sumba memiliki daya tarik dari gambar-gambar dan simbol primitif yang melekat. Serta beragam wana alami yang nampak klasik, vintage namun elegan. “Kebanyakan pewarna alami yang digunakan para perajin tenun Sumba berasal dari akar mengkudu,” katanya.

Konsumen sekarang memang lebih terbuka tentang pengetahuan akan motif tenun NTT. Berbeda dengan tren dua tahun lalu, kebanyakan konsumen membeli kain tenun NTT hanya karena ikut-ikutan. Kini, konsumen lebih kritis  dan mulai ingin tahu cerita di balik motif tenun NTT.

Senada dengan Ignasio, Sema Chintyadeni, pemilik Ethnic Mine asal Bekasi, Jawa Barat juga menuturkan, motif kain tenun NTT banyak disukai karena kesan etniknya. Dibanding motif kain tradisional lainnya, kain tenun NTT punya motif lebih primitif karena menggunakan beberapa simbol. “Motif tenun NTT ini lebih vintage dan kesan etniknya lebih kena. Selain itu, kombinasi warnanya juga pas, hitam dengan oranye dan merah. Lalu ada semburat warna dari campuran ketiga warna tersebut,” jelas Sema.

Ia mengatakan konsumen Ethnic Mine lebih banyak menyukai varian produk dengan warna dasar yang gelap, seperti hitam, abu-abu, navy, dan marun. Maklum, kain motif tenun NTT memang paling pas dipadukan dengan warna gelap karena akan lebih menimbulkan sisi elegan.

Meski saat ini kain dengan motif tenun NTT mulai banyak digemari dan menjadi tren fesyen, Ignasio mengeluhkan mulai banyaknya plagiasi motif-motif tenun NTT dalam bentuk printing. Karena banyak peminatnya, kini mulai banyak bermunculan kain printing motif tenun NTT.

Hal tersebut tentu membuat harga kain tenun asli NTT terpaut jauh dengan kain printing tersebut. “Iya benar, sekarang banyak sekali motif NTT yang hanya di-print dengan mesin, bukan kain tenun asli. Ini yang membuat para perajin kami kesulitan untuk memasarkan produknya. Apalagi, bagi orang yang belum paham soal tenun, pasti akan menganggap harga tenun kami ini sangat mahal,” tandasnya. (C-003/KNTN)***