Kebudayan dan Ekonomi

66

SEKILAS muncul wacana tentang kebudayaan dalam debat cawapres baru-baru ini. Hanya sekilas, memang, seghingga kebudayaan nasional tidak terkupas secara tuntas. Penonton tidak dapat menyimak secara jelas, mau dibuat seperti apa penanganan kebudayaan pada masa depan.

Yang mengemuka hanya berkisatr pada pembiayaan. Anggaran untuk pembangunan kebudayaan sangat minim dibanding biaya pembangunan infrastruktur. Namun bentuk kebudayaan seperti apa yang akan dimunculkna pada pemerintahan presidem/wapres terpilih nanti.

      Pada debat itu tidak muncul sama sekali apa peran dan fungsi kebudayaan bagi sebuah bangsa dan negara. Mengapa negara di mana pun berupaya keras memelihara dan mengembangkan kebudayaan miliknya. Justru yanhg muncul, kebudayaan yang dikaitkan dengan ekonomi. Bila kebudayaan maju, ekonomi juga maju, lapangan kerja terbuka. Hanya sekilas, muncul  ”diksi” bahwa kebudayaan itu adalah kepribadian bangsa. Karena itu, kearifan lokal harus terus digali dan dipelihara.

      ”Negara lain memiliki teknologi dan ilmu pengetahuan, kita punya kebudayaan.’ Itu kata  Bung Karno. Namun dalam debat itu tidak dikembangkan menjadi milik banghsa yang berkelanjutan dari masa ke masa. Kembali lagi, pendekatan  ekonomi menjadi pegangan utama dalam memelihara dan memajukan kebudayaan. Tampaknya, kebudayaam berpotensi sebagai pengahasil devisa dan perluasabn lapangan kefrja semata. Dengan demikian kebudayaan merupakan komoditas yang diduga dapat laku dijual.

      Apabila itu yang menjadi tujuan utama pemeliharaan kebvudayaan, dipastikan kebudayaan bangsa akan terjerembab menjadi  barang dagangan semata. Pemikiran sepertki itu pula yang kemudian memunculkan bentuk kebudayaan yang turistik dan artivisial, atau kits. Akhirnya kebudayaan akan kehilangan pamor dan nilai-nilainya. Kebudayaan yang kehilangan nilai-nilanya akan merembet ke sikap bangsa yang kehilangan kepribadian atau jatidirinya.

      Bangsa Indonesdia sekarang sudah mulai abai terhadap kepribadian dan jatidirinya. Tanda-tanda bahwa kita sudah berada di pintu kehancuran itu terlihat dari makin pudarnya rasa malu, sopan santun, dan tumbuh dekandensi moral. Itu semua karena bangsa ini seperti tanpa kebudayaan. Sebagian bangsa kita, khususnya para aktivis politik, milenial, dan pemburu kekuasaan, sangat abai terhadap kebudayaan miliknya sendiri. Mereka atau tepatnya kita,  tidak peduli lagi terhadap nilai-nilai kearifan lokal, tuntunan agama, dan akhlak mulia.. Sebagian dari kta beranggapan, sesuatu yag tidak bernilai ekonomi,  harus ditinggalkan. Kebudayaan hanyalah beban yang menjadi penghalang kemajuan teknologi.

        Kita sering memuji kemajuan orang Jepang yang kini mengausai teknologi luar dalam Kita juga menyanjung orang China yang melesat dalam kemajuan ekonominya. Kita sering terkagum-kaguim terhadap Thailan, India, Videtnam, yang tengah berlari kencang memburu statusnya sebagai macan Asia, sebagai negara maju dalam perdagangan di pasar glonal. Kita lupa, Jepang,. China, India, Thailan, merupakan negara maju tetapi sama sekali tidak meninggalkan kebudayaan bangsanya. Mereka tidak ”menjual” kebudayaannya sebagai komoditas ekspor. Mereka tidak memelihara kebudayaannya demi kemajuan ekonomi. Mereka maju dalam industri manufaktur, unggul dalam perdagangan, tanpa melabeli produknya dengan kebudayaan miliknya.

       Bahwa banyak sekali orang datang ke negeri itu justru karena ingin menyaksikan bagaimana kebudayaan di sana tetap terpelihara menjadi bagian terpenting dalam kehidupan sehari-harinya. Bagiman orang Jepang tetap berkimono ketika berada di rumah, bagaimana mereka merunduk ketika menghormati orang lain teruatama  para seniornya,  meskipun meraka pemilik perusahaan atau industri multinasional. Berjas dan berdasi ketika berada di perusahaannya.

       Indonesia sangat kaya kearifan lokal, kita punya kebudayaan, dan kesenian yang sangat beraneka ragam. Kalau kita punya 700 suku bangsa, jelas kita punya 700 akar 5 kearifan lokal, adat istiadat, kesenian, sikap hidup, atau disimpul menjadfi satu yakni ”Kebudayaan” dengan ”K” besar. Baru di Bali, orang berniat dan melakukan pemeliharaan dan pengembangan kebudayaan miliknya. Menjadikan kebudayaan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dengan nyawabnya. Hasilnya? Kita lihat sediri ke Bali.***