Investasi yang Dibiayai Pinadi di Jabar Masih Sangat Kecil

75

BISNIS BANDUNG–  Rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) yang tengah digenjot, khususnya  pembangunan dan pengembangan infrastuktur transportasi, hampir sebagian besar dananya  menggunakan  anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD).  Masih  sedikit sekali yang menggunakan anggaran  oleh swasta atau melalui program pembiayaan investasi non anggaran (PINA).

“Pembangunan infrastuktur yang dananya diambil dari PINA, memang baru didorong beberapa tahun belakangan ini.  Ya, relatif kecil atau persentasenya dibandingkan anggaran pemerintah  masih kecil,” kata Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Pemerintahan Provinsi Jawa Barat,  Eddi Iskandar Muda Nasution saat jumpa wartawan di  Jabar Punya Informasi (Japri), Kamis, (21/3).

Eddi mengakui, pembangunan infrastuktur jalan lewat program PINA, sudah saatnya harus dibudayakan terlebih di Jawa Barat yang daerahnya  sangat luas.  Sebab akan sangat berat  jika  semua pembangunan infrastruktur  jalan menggunakan APBD.

Ia menyuebut, panjang jalan di Jawa Barat, 2.200 jalan provinsi, 45.000 jalan kota kabupaten.

Pembangunan Jalan di Jawa Barat saat ini masih bertumpu pada APBD.  Belum semuanya bisa terjangkau serta  jalan itu seyogianya tidak hanya dibangun tapi juga harus diperhitungkan tingkat kemantapan dan konektivitasnya.

“Ya, memang sudah waktunya, pembangunan infrastruktur jalan lewat program PINA terus digelorakan dan dikembangkan,” katanya.

Agar budaya membangun jalan lewat PINA bisa berjalan baik, iklim investasi terselenggara dengan baik, agar pemilik modal percaya investasi yang telah dikeluarkannya tidak akan sia-sia.

Infrastruktur  jalan di Jawa Barat yang dibangun lewat program PINA, antara lain  jembatan Sumareccon Bekasi, Koneksi Jalan di Kawasan Jababeka, dan yang terakhir Sumaroccon Gedebage.

“Mereka ingin membangun, bukan tol itu. Tetapi lebih kepada, ke kawasan mereka juga.  Sebetulnya mereka diuntungkan, kemudian mereka membangun jembatan,”turnya.

Konektivitas

Sementara itu Kepala Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Jabar, Koswara mengatakan konektivitas atau keterhubungan seluruh jalan yang  ada di Jawa Barat baik jalan provinsi Jalan Kabupaten Kota, jalan lainnya yang menghubungkan satu titik dengan titik yang lainnya saat ini masih berada di bawah 50 persen.

“Tingkat konektivitas di bawah 50 persen tersebut tertuang dalam rencana rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) 2018-2023. Dalam RPJMD  jalan tersebut harus terkoneksi,  dilihat dari sisi kemudahan aksesbilitas, dan kemantapan jalan, ” ucapnya seraya menambahkan ini merupakan tantangan bagi Dinas Bina Marga karena yang terkoneksi masih sangat rendah.

Sebagaimana diketahui bahwa kendala pembangunan jalan di Jawa Barat karena jalan-jalan yang ada di Kabupaten ada 45.000 km jauh lebih panjang dibandingkan jalan Provinsi yang hanya 2,200 km.

Sedangkan  anggaran yang tersedia di tahun 2019, Dinas Bina Marga Jawa Barat hanya memiliki anggaran sebesar Rp 1,2 triliun.(B-002)***