Kesadaran Hindari Riba; Wirausaha di Jabar Gunakan Modal Pribadi

95

BISNIS BANDUNG — Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Provinsi Jabar, Drs. Kusmana Hartadji, MM mengatakan, pertumbuhan wirausaha di Jawa Barat setiap tahunnya tumbuh signifikan. Walau masih terdapat kendala dalam mensukseskan program prokewirausahaan karena belum kuatnya sinergi antara berbagai pihak yang peduli terhadap pengembangan kewirausahaan.

Kusmana menyebut, program dan kebijakan pemerintah Jawa Barat di sektor kewirausahaan  di antaranya, program pencetakan 100.000 wirausaha baru Jawa Barat. Program pelatihan. Akses pasar online dan offline. Akses pembiayaan dengan program KCR dari bank BJB serta kerjasama de­ngan program CSR/PKBL BUMN serta perizinan.

Ada juga program Kementerian dengan dana alokasi khusus untuk pengembangan kewirausahaan, seperti program gerakan kewirausahaan nasional dari Kementerian KUMKM bagi mahasiswa yang berbisnis bekerjasama dengan tujuh perguruan tinggi di Jawa Barat. Tahun 2019 ini, pengembangan program kewirausahaan untuk 2500 UMKM melalui dinas KUK Jabar, yakni program wirausaha pemula OPOP, one pesantren one product dan program DAK dari Kementerian

Dikatakan Kusmana, program kewirausahaan di Jabar tumbuh signifikan, faktor yang mempengaruhinya adalah faktor bonus demografi, yakni generasi muda usia produktif di Jawa Barat. ”Visi dan misi pemerintah Jawa barat untuk tagar Jabar Juara Lahir Batin melalui inovasi dan kolaborasi, salah satu­nya pada aspek kewirausahaan bagi generasi muda, kepedulian dari berbagai stakeholder mulai dari akademisi, pebisnis, komunitas, pemerintah dan media terhadap perkembangan dan pertumbuhan UMKM di Jabar,” ujar Kusmana baru-baru ini di Bandung.

Kusmana mempertegas pengamatannya, bahwa saat ini kelemahan atau kekurangan program prokewirausahaan Jawa Barat, bahkan di Indonesia yakni belum kuatnya sinergi antara berbagai pihak yang peduli terhadap pengembangan kewirausahaan.  Selain kendala lain, yakni sikap mental atau mindset anak muda yang menjadi pelaku usaha perlu ditingkatkan.

Walau dari sisi kualitas dan kuantitas program kewirausahaan di Jawa Barat untuk tahun 2014-2018 mencapai 129.000 wirausaha baru Jawa Barat, jumlah tersebut menurut Kusmana lebih dari 100.000 wirausaha baru yang ditargetkan walau dari sisi kualitasnya memang perlu ditingkatkan, terutama kualitas mindset kewirausahaan, kualitas manajemen dan pemanfaatan peluang dari lingku­ngan eksternal wirausaha. Sektor yang banyak dipilih adalah industri kuliner, fashion, craft, aplikasi atau gaming dan lainnya menjadikan Jawa Barat terkenal dengan industri kreatif.

 Anak madanya memiliki kemampuan mengembangkan ide-ide  kreatif dan inovatif dalam produk yang mereka hasilkan.

“Wirausaha di Jawa Barat, jika dipersentasekan, mayoritas perempuan, pendidikan lebih banyak SMA dengan rata-rata omzet di bawah 300 juta rupiah/tahun dengan rata-rata pekerja 3-5 orang,” papar Kusmana.

Ditambahkan Kusmana , untuk odal  masih banyak yang menggunakan dana sendiri karena ada kesadaran konsep riba. Walau ada akses pembiayaan dari bank dalam bentuk KCR KUR , PKBL dari BUMN .

Agar target pertumbuhan wirausaha di Jawa Barat tercapai secara kualitas maupun kuantitas,dikemukakan Kusmana , saat ini pemerintah tengah membuat Perda Kewirausahaan dan penguatan UMKM pada program kerja gubernur saat ini. Di samping membangun kerjasama dengan berbagai pihak dalam dan luar negeri untuk pengembangan kewiruasahaan di Jabar.

“Wirausahawan Jawa Barat  membutuhkan sokongan perbankan yakni akses pembiayaan dan pembinaan bagi UMKM. Sedangkan sokongan swasta melalui program CSR dan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) berupa akses pembiayaan, pembinaan kepada UMKM dan akses pasar melalui pameran,”ujar Kusmana seraya menyebut manfaat jika target program kewirausahaan baru tercapai, yakni terbukanya kesempatan bagi generasi muda dari 27 kabupaten kota di Jawa Barat untuk menjadi wirausaha, meningkatkan daya saing anak muda yang berbisnis ,  membuka lapangan kerja, dan kesejahteraan warga Jawa Barat.

(E-018)***