Seni Tutunggulan dan Memandikan Ibu Hamil; Saat Terjadi Gerhana Bulan Tinggal Kenangan

106

Dulu di wilayah Jawa Barat, terutama di pedesaan ada semacam kepercayaan bila terjadi gerhana bulan (samagaha-Sunda.red) ibu-ibu di kampung suka rame menambuh lisung (tutunggulan–Sunda.red ) menggunakan halu, semacam tongkat penumbuk padi.

“Tutunggulan” dilakukan dengan maksud agar gerhana bulan segera berakhir. Sementara wanita yang sedang hamil saat gerhana bulan berlangung sibuk harus dimandikan. Konon katanya, agar jika bayinya lahir tidak “albino/bule”.

Kemungkinan gondang sebagai kesenian tradisional (seni buhun) asal muasalnya dari “tutungulan” warga masyarakat di pedesaan melakukannya saat terjadi gerhana  bulan. Kemudian berkembang menjadi kesenian gondang atau “tutunggulan” sebagai seni yang dilakukan sehabis panen, sebagai ungkapan gembira   karena hasil panen yang melimpah. Di samping rasa syukur kepada Allah SWT , bukan hanya sebatas  petani saja yang bergembira , tetapi pada kegiatan ini sekaligus  merupakan suatu kesempatan bagi kaum muda untuk mendapatkan pasangan atau mencari “ jodoh”.

Pada penampilan kesenian gondang, para remaja, termasuk “kembang desa” mejeng mencari yang kasep atau geulis. Adapun waditra kesenian gondang, dilengkapi, selain  lisung, halu,ditambah  kecapi, kendang, goong, kohkol dan angklung buncis. Konon, kesenian gondang  merupakan sebuah penghormatan terhadap Dewi Sri yang dalam mitologi Sunda dipercaya sebagai Dewi Padi. Pelaku tetabuhan kesenian gondang adalah wanita yang dianggap suci atau sudah tidak menstruasi (menopause). Kesenian Gondang yang diceritakan dalam pagelaran kesenian gondang  hampir tidak ada ada bedanya dari pentas satu ke lainnya atau mungkin memang itulah cerita dalam seni gondang. Ceritanya, ada sekelompok putri remaja sedang ber-gondang ria, tiba tiba datang sekelompok remaja putra merayu para remaja putri : ”Neng geulis pujaan engkang. Neng geulis engkang hoyong tepang, upami tea aya pameungan, langkung sae urang tundangan“ .

Sepenggal lagu dalam bahasa Sunda tersebut, merupakan nyayian remaja putra yang mengajak gadis idamannya untuk bertemu. Para remaja putri  menolak dengan tegas rayuan si remaja putra . Dirayu sampai beberapa kali, ditambah embel-embel dan janji, tapi di tetap ditolak . Setelah beberapa kali di rayu, sang remaja putri luluh juga hatinya,  tak bisa menolak cinta remaja putra .

Walau cinta remaja putra diterima, tapi  para remaja putri memberi syarat tertentu. Itulah kesenian gondang, seni yang pernah hidup di tengah masyarakat pedesaan. Ada sebuah esensi yang terkandung dari kesenian ini, yakni setiap tujuan yang ingin dicapai harus ditekuni  dengan kesabaran, niat dan usaha yang baik, InsyaAllah akan dikabul oleh Allah swt. ( B-003) ***