Melihat ke Luar Jendela

63

KETIKA kemacetan lalulintas semakin menjadi-jadi, hirukpikuk kelompok-kelompok manusia dengan beraneka bendera masung-masing, jagat politik semakin ingar bingar ada kelompok manusia jelang akil balig, justru mengurung diri.

]Mreka tidak peduli apa yang terjadi di luar sana.Bak para satri yang terus bertasbih, tadarus, atau mengungkap rahasia di blik kitab berjlid-jlid, kelompok milenial itu, justru menutupdiri. Mereka tanpa saling menyapa, sama-sama tengah mengungkap rahasia-rahasia di balik gagget. Seolah-olah mereka tengah nadoman, mendengungkan pujian terhadap mega-kultur dan kehebatan teknologi.

    Kehidupan mereka sudah tak dapat terpisahkan lagi dari  dunia maya yang terus bermetamorfosis menjadi dunia nyata. Bagi mereka, teknologi merupakan kekuatan yang amat dahsyat yang mampu mengguncangkan dunia. Bumi dan seisinya seperti berada dalam gengamannya. Hanya dengan menggerakkan ibu jarinya, semua yang maya itu menjadi nyata. Jarak, waktu, energi, dapat mereka kendalikan. Sekali lagi hanya dengan menggerakkan dua ibu jarinya. Antara pembeli dan penjual, hubungan antarmanusia, proses industri rumahan dan manufaktur, hampir tidak ada jarak lagi, tidak memerlukan keikut-campuran tangan manusia. Tak ada lagi keringat pekerja yang bercucuran di sela-sela produksi. Wajah para pekerja berubah total membesi, tanpa darah, tanpa nafas. Jari jemari lentik para perempuan pekerja, lama kelamaan berubah menjadi kaku, bergerak atas perintah operator melalui tombol-tombol.

      Para pengusaha tidak harus memikirkan  kenaikan gaji, tunjangan hari raya, cuti hamil, tunjangan kesehatan dan sebangsanya. Tidak terdengar lagi yel-yel para buruh menyuarakan keinginannya naik gaji, dan sebagainya. Sedangkan keuntungan terus mengalir ke kocek pengusaha. Segalanya serba digital dan itu bukan cuma khayalan seorang seniman pembuat film fiksi ilmiah. Dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi, menurut para ilmuwan,  dunia akan semakin sunyi, bumi semakin dingin. Kehidupan seolah-olah menjadi panggung yang tengah mementaskan drama minikata bahkan tanpa suara dan gerak. Tak ada lagi tali silaturahmi.

      Gambaran  yang dilukiskan para sineas, komiki, para teatrawan, diramalkan akan terjadi. kehidupan manusia yang dikuasai para makhluk robotik. Hal itu dimulai justru pada awal revolusi industri jilid empat atau yang kita kenal dengan industri 4.0 yang mulai kita alami sekarang ini. Silaturahni susah lama terputus. Lapangan kerja hampir tak ada lagi. Mungkin saja, kelak yang antre masuk kantor atau industri, para robot yang jumlahnya bisa saja menyamai penduduk dunia sekarang ini.

     Manusia yang masih ada, jiwa dan pikirannya diopenuhi persaaan cemas. Petani dan tenaga kerja tidak ada lagi. Cemas, ketika kita melihat pemilihan umum yang diwarnai dengan persaingan semakin tidak sehat. Hoaks, kebencian, manipulasi pengikut, saling sikut, perbedaan paham semakin merajalela. Bagaimana masa depan negeri ini pasca-pemilu? Masih tersisakah orang-orang bijak, politisi berwajah ceria, penuh senyum, dan ramah?

       Harapan rakyat, harapan kita semua, pertumbuhanm industri, meski masuk pada industri 4.0 ataub 5.0, adalah pertumbuhan industrki yang ramah lingkungan, yang mampu menyejahterakan rakyat. Tidak justru memutuskan silaturahmi akibat manusia dari detik ke detik terpokus pada teknologi. Lapangan politiik. ekonomi, sosial, tetap terbuka. Dunia masih tetap dihuni manusia yang beriman dan bertakwa, disertai rasa cinta yang hakiki dan manusiawi. Karena itu, milenial yang masih berlabel Indonesia, tengoklah ke luar jendela. Di sana masih ada kehidupan yang penuh warna, indah, nyaman. Kita masih dapat mendengar suara-suara nafas berirama. Dengarlah suara sang penyeru dari masjid, suara lonceng dari gereja, suara denting yang digoyangkan para pedanda  di pura. Kita bukan robot, kita bukan makhluk cloning. Kita manusia, manusia yang berperikemanusiaan. Kita berada dalam lindungan Mahapencipta***