Baru 30 % Pesantren di Jabar Miliki Kemandirian Ekonomi

81

BISNIS BANDUNG- Sejumlah  pondok pesantren di Jabar memiliki potensi besar untuk mandiri secara ekonomi dengan catatan  memerlukan pendampingan usaha, mulai dari penggalian potensi hingga pemasaran. Dari 9.000 pesantaren di Jabar baru sebagian kecil yang memiliki kemandirian ekonomi, tidak lebih dari 30 persen.

Pesantren sangat dimungkinkan untuk mandiri dengan memberdayakan sumber daya yang dimiliki. Pesantren dapat memiliki unit usaha untuk mengembangkan keberadaannya, semisal  Pontren Al Ittifaq di Kabupaten Bandung yang memiliki unit usaha pertanian  sudah dipasarkan ke sejumlah pasar modern di Indonesia.

“Pemprov Jabar menargetkan 1.000 sampai 1.150 pesantren terlibat dalam program One Pesantren One Product (OPOP), seiring dengan jumlah pesantren yang cukup banyak di Jabar yang mencapai 30 persen dari jumlah pesantren di Indonesia yang mencapai 25.000 pesantren,”  ungkap Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Provinsi Jawa Barat, Kusmana Hartadji kepada wartawan pada acara Jabar Punya Informasi (Japri) di  kawasan Gedung Sate, Selasa (9/4).

Ia menyebut hingga saat ini jumlah pesantren yang sudah melakukan registrasi online sebanyak 1.000 pesantren. Pihaknya menargetkan jumlah pendaftar online mencapai 3.000 hingga 4.000 pesantren untuk kemudian diseleksi. Pendaftaran program ini telah dimulai secara online melalui laman opop.jabarprov.go.id.

“Program OPOP sedang berjalan memasuki proses registrasi atau pendaftaran. Program OPOP merupakan salah satu program dari 17 program Pasantren Juara. Kegiatan OPOP bertujuan mendorong pesantren di Jabar untuk mandiri secara ekonomi ,” tuturnya.

Pesantren yang mengikuti program ini akan diedukasi dan didampingi dalam pengembangan usahanya sehingga pesantren akan menghasilkan produk-produk yang mampu memiliki nilai tinggi di pasar domestik maupun pasar internasional. Produk-produk yang dihasilkan akan dicarikan pembelinya oleh Pemprov Jabar atau biasa disebut dengan “off taker”.

Kini, Pemprov Jabar pun sedang gencar menjaring relasi dengan swasta agar bisa menampung produk dari pesantren. Dan akan ada partner dari pemprov yang akan menitipkan produknya agar dapat diproduksi di pesantren.

“Kegiatan OPOP ini telah kami buka sejak 1 Maret 2019. Kami memperpanjang pendaftaran dari semula sampai 31 Maret menjadi sampai 12 April 2019,” tuturnya.(B-002)***