Penemu Sesali Karyanya Sendiri

471

MENJADI seorang ilmuwan yang berhasil menemukan sesuatu yang berguna bagi umat manusia, tentu menjadi hal yang luar biasa.
Namun, menjadi seorang penemu berarti memikul tanggung jawab besar. Pasalnya jika penemuannya di­salahgunakan, sang penemu menjadi salah satu yang bertanggung jawab. Dan ternyata, hal tersebut benar terjadi terhadap sejumlah penemu teknologi yang menyesali temuannya.
Berikut deretan teknologi yang kehadirannya di­sesali oleh sang penemunya sendiri, seperti dilansir dari Listverse, Selasa (9/4/2019).

Bom Atom
Seorang profesor Fisika bernama J. Robert Oppenheimer bisa jadi adalah orang yang bertanggung jawab terkait kematian banyak nyawa dan juga kerusakan de­ngan kerugian masif. Pasalnya, ialah penemu bom atom. Tentu, dalam beberapa tahun setelah temuannya muncul, ia merasa menyesal dan seharusnya ide tersebut ia pendam sendiri.
Oppenheimer adalah salah satu anggota Proyek Manhattan yang merupakan pengembang senjata nuklir pada1942.

Ia mengambil peran utama di sana, hingga dijuluki ”Bapak Bom Atom” pada dekade-dekade berikutnya. Awalnya ia sangat antusias dan bersemangat untuk mengembangkan bom atom itu. Namun lama kelamaan, ia merasa menyesal dan meninggalkan Proyek Manhattan sembari berpamitan kepada Presiden AS saat itu, Harry S. Truman, menyebut dirinya memiliki ’tangan kotor’ karena ikut mengembangkan bom atom.

Pesawat Terbang
Pesawat terbang adalah salah satu penemuan terbaik sepanjang masa, karena ini adalah moda transportasi terbaik untuk perjalanan jarak jauh, bahkan melintas samudera.
Sang penemu adalah Wright bersaudara, yakni Orville dan Wilbur. Mereka berdua mendesain dan memba­ngun Wright Flyer yang berhasil melakukan penerba­ngan berkelanjutan pertama sepanjang sejarah.

Hal itu membuat mereka populer, sukses, dan tercatat di buku sejarah sebagai penemu pesawat terbang. Wilbur, akhirnya meninggal dunia hanya 9 tahun pasca pesawat ditemukan. Dirinya terserang penyakit typhoid. Namun dari perspektif ini, nampaknya Wilbur justru pihak yang beristirahat dengan tenang. Pasalnya Orville, hidup sebagai saksi sejarah perkembangan pesawat tiga dekade mendatang. Di kala itu, pesawat digunakan membawa dan menjatuhkan bom pada Perang Dunia II. Dalam wawancaranya tahun 1943 di koran St. Louis Post, peperangan adalah sesuatu hal yang bertenta­ngan dengan ideologi penemuannya. Ia justru ingin temuannya membawa kedamaian, bukan kerusakan dan kematian.

Facebook
CEO sekaligus pendiri Facebook Mark Zuckerberg sebenarnya tidak pernah menyesali penemuannya itu meskipun banyak hal yang terjadi, mulai dari banyak sekali hoaks yang tersebar lewat platform ini, serta skandal kebocoran data Cambridge Analityca yang terjadi tahun lalu. Namun yang menyesali justru orang-orang di sekitar Zuck yang ikut andil dalam pengembangan media sosial itu. Adalah Sean Parker, yang sudah bekerja di Facebook sejak media sosial tersebut baru hanya berupa directory yang tersedia untuk mahasiswa Harvard.
Zuck mengakui Parker adalah sosok vital dalam pengembangan platform Facebook menjadi sebuah media sosial secara global. Parker pun membawa banyak investor seperti Peter Thiel untuk mendanai perkembangan Facebook.

Namun, Parker berpendapat pada 2017 lalu bahwa Facebook mendapatkan popularitas dengan cara memanfaatkan “kerapuhan psikologis manusia.”
Hal ini didapatkan melalui tombol ‘Like’ yang seakan memvalidasi kehebatan fotografi, lelucon, opini, dan sebagainya yang diposting di Facebook.
Itu juga membuat Facebook jadi sesuatu yang adiktif, dan disebut Facebook memang ingin menjadikan orang kecanduan terhadap platform mereka jadi sebuah tujuan besar.
Parker sendiri meng­klaim bahwa dirinya kini adalah seorang yang “skeptis terhadap media sosial” setelah melihat bagaimana mereka berdampak ke umat manusia.

Iklan Pop Up
Siapa yang tak tahu iklan pop-up? Tentu semua mengetahuinya dan tidak pernah menanggapi iklan ini dengan sentimen positif.
Iklan pop-up sungguh menyebalkan, bahkan sang penemunya, Ethan Zuckerman, membencinya. Ethan punya ide iklan semacam ini pada era 90-an, saat itu ia adalah pegawai dari Tripod.com yang bertugas sebagai programmer dan desainer.
Suatu ketika, klien yang merupakan perusahaan mobil mengeluh kepada Tripod karena iklan yang mereka bayarkan berakhir muncul di sebuah situs porno.
Tidak kehabisan akal, Tripod menyusun gagasan iklan yang tidak muncul di laman asli sebuah web, tetapi “muncul” pada halaman terpisah. Hal ini akan membuat pengiklan tidak berasosiasi dengan laman utamanya, meski itu adalah situs porno. Zuckerman lalu merancang kodenya, dan hal ini di­terapkan. Ide ini populer digunakan bahkan sampai detik ini.

Selang dua dekade berikutnya, tepatnya tahun 2014, Zuckerman akhirnya menulis di sebuah media online yakni di The Atlantic, dia meminta maaf karena idenya diadopsi jadi strategi utama banyak pengiklan yang justru mengganggu pengguna online.
Ia menawarkan solusi berupa membayar layanan online untuk menghalau iklan sekaligus mendapatkanperlindungan privasi yang sering terancam ketika tak sengaja mengklik iklan berisi malware. (C-003/Jek)***