Kenaikan Harga Telur Dipicu Kenaikan Pakan

59

BISNIS BANDUNG- Peternak ayam petelur mengeluhkan produktivitas telur ayam  yang baru mencapai 50 persen hingga 60 persen, akibat ketergantungan   pakan berupa jagung impor yang ketersidiaannya masih minim. Bahkan untuk memenuhi kekurangan harus mendatangkan telur dari luar provinsi.

Menurut Ketua Paguyuban Peternak Ayam Petelur Ciamis (P2APC) Ade Kusnadi,  konsekuensinya terjadi kenaikan harga telur yang dipicu melonjaknya harga pakan yang dipengaruhi nilai tukar rupiah. Selain itu, adanya kebijakan pemerintah pembatasan bibit ayam atau DOC.

“Sebenarnya faktor yang memengaruhi tingginya harga telur cukup banyak yang pasti antara penawaran dengan permintaan tidak seimbang. Kemudian, kebijakan pengurangan 9,5 persen DOC beberapa waktu lalu serta populasi ayam petelur berkurang,” tuturnya.

Merespons semua itu, Ketua Komisi II DPRD Jabar, Didi Sukardi mendorong dinas peternakan provinsi khususnya agar lebih serius dalam mengelola kebutuhan peternakan.

Pihaknya pun akan mengusulkan perda inisiatif terkait dengan kedaruratan pakan maupun bibit ayam (indukan-red) petelur yang belum terpenuhi dengan baik. Tentunya terkait pula dengan potensiyang ada di  Kabupaten Ciamis sebagai penghasil peternak/unggas terbesar.

“Kita dari Komisi II akan segera menindaklanjuti masalah ini dengan cara akan mengumpulkan tiga institusi yaitu dinas peternakan, dinas kesehatan, Himpunan Peternak Unggas, biar semua keluar tuh unek-unek nya nanti hasilnya kita bisa direkomendasikan,” ujar Didi di Paguyuban Peternak Ayam Petelur Ciamis, Senin (8/4/).

Ia menyebut  saat ini terjadi  menurunnya harga ayam afkir yang hingga menyentuh kisaran Rp6000/kg atau turun 40% dari sebelumnya.

“Ke depannya jangan sampai sektor ini lumpuh karena apabila melonjaknya harga jagung yang permanen. Bisa diperkirakan para peternak skala kecil lebih memilih  mengosongkan kandangnya dan mencari alternatif usaha lain,” ucapnya.

Ia menyayangkan jika tidak ada instansi atau pihak terkait yang tidak segera  memberikan solusi ataupun kebijakan, sehingga bisa menyebabkan komoditas telur menjadi langka karena penurunan populasi yang signifikan.(B-002)***