Wawan Hardiawan Berawal Dari Suka Mochi , Kini Membuatnya Sendiri

91

Wawan Hardiawan, yang merupakan anak dari pasangan Enoh Ruhiyana dengan Ecin Kirain, dan kelahiran Bandung 20 November 1983 ini, berprofesi sebagai pengusaha kuliner khas Kota ”mochi” Sukabumi .Suami dari Anti Ruswanti (30) ini menceritakan kepada BB bahwa, awalnya ia menggeluti usaha kuliner dikarenakan ia sangat suka dengan mochi, dan kebetulan orang tuanya berasal dari Sukabumi pula. Wawan mencoba membuat mochi dengan bentuk yang berbeda.  Menurutnya, modal awal untuk  usahanya ini tidak  lebih dari Rp 150.000, dan itupun berasal dari uang belanja istrinya.

Menurut ayah dari Wildan Pasha K (7,8) dan Aqilla Sakinah H. (5,8) ini, proses produksi dilakukan oleh istri dan dirinya sendiri.  Untuk desain produk mochinya, wawan menduplikasi dari media sosial ditambah sedikit inovasi.  Bahan baku utamanya berupa tepung ketan putih lokal, dan dalam sebulan  wawan mampu memproduksi kurang lebih 700 box mochi.

“Bahan baku yang digunakan notabene merupakan bahan lokal, karena mudah mendapatkannya, serta sudah bersertifikasi halal. Kini, proses produksinya selain dilakukan oleh saya dan istri, kami dibantu juga oleh dua tenaga kerja yang  masih keluarga,” tutur Wawan kepada BB di Bandung.

Wawan Hardiawan juga mengatakan, pemasaran produk kulinernya ditujukan bagi semua kalangan.  Harganya cukup terjangkau, yakni antara Rp 32.000 sampai Rp 39.000. Pemasaran produk mochi milik Anwar dilakukan selain secara offline maupun melalui media online.  Untuk penjualan offline, dilakukan di Koperasi Polman, Koperasi LIPI, serta  di 4 toko kue basah.  Sedangkan untuk reseller online ada 9.  Omset perbulannya rata-rata sekitar Rp 5.000.0000.

“Keunggulan produk mochi yang kami buat, terletak pada kualitas bahan baku yang digunakan, dan tidak menggunakan bahan pengawet. Terkait masalah persaingan  pasar, sejauh ini  tidak menganggu pemasaran produk mochi saya, karena masih jarang produk mochi lain yang mempunyai citarasa seperti yang produk mochi yang saya jual, yaitu rasa dan isinya yang lebih bervariasi.  Alhamdulillah, setiap hari tidak pernah sepi pembeli dan pemesan,” tutur Wawan.

Penggemar warna hitam ini juga mengungkapkan bahwa, selama menggeluti dunia kuliner, ada suka duka yang dialami.  Sukanya, karena banyak orang yang menyukai produk mochi buatan Wawan, dan dukanya, yakni jika ada mocha yang dititipkan ke toko, namun kemudian dikembalikan karena tidak habis terjual (retur).

“Saat ini, saya selain menjadi pelaku usaha kuliner, saya juga bekerja sebagai pengurus sebuah yayasan, hingga harus bisa membagi waktu secara fleksibel. Pengantaran pesanan dilakukan sebelum bekerja.  Kedua pekerjaan ini saya lakukan dengan skala prioritas, walau dengan cara membagi waktu.  Namun, jika usaha ini lancar dan sukses, mungkin saya akan memilih berjualan.  Untuk meningkatkan kualitas diri, profesi dan usaha, upaya yang saya lakukan adalah, melalui peningkatan mutu dan mempertahankan kualitas terbaik, serta terus berinovasi,” ungkap Wawan.

Wawan juga berharap, pemerintah bisa memberikan kemudahan dalam pengurusan PIRT dan sertifikat halal serta hak nama usaha, tanpa biaya dan tanpa harus menunggu lama.  Di sisi lain, jika kita berkunjung ke Sukabumi, pasti yang pertama terpikirkan adalah mochi sebagai kuliner khas Sukabumi.

Menurut sejarahnya, kue mochi ini pertama kali dibawa oleh tentara Jepang yang pernah menjajah Indonesia. Waktu itu, banyak orang pribumi yang menjadi juru masak di barak-barak militer Jepang pada masa kolonial, dan dikenal dengan nama politie school (kini Secapa), yang terletak di Jalan Bhayangkara. Pada masa penjajahan Jepang, sekolah ini digunakan sebagai pertahanan militer utama Jepang di Sukabumi.  Namun ada cerita lain bahwa, mochi dibuat secara turun-temurun oleh warga keturunan Tionghoa di Sukabumi. Makanan ini selalu disajikan dalam acara pernikahan dan Tahun Baru Imlek. Hal inilah yang menjadi dua versi tentang asal usul nama kue mochi ini. Ada pula yang menyebut mochi merupakan makanan tradisional Jepang yang disajikan dalam upacara yang bernama mochitsuki, yakni acara minum teh dengan mochi sebagai makanannya. Mochi Jepang berbeda dengan mochi Sukabumi yang dikemas dalam kotak terbuat dari anyaman bambu, sedangkan mochi Jepang tidak dikemas. Sebuah asumsi yang paling mendekati kebenaran bahwa, keberadaan kue mochi terjadi melalui proses pewarisan keahlian dari bala tentara Jepang kepada penduduk lokal yang bekerja di dapur-dapur militer sewaktu Jepang menduduki Indonesia (red. : 1942 -1945).

(E-018) ***