Koperasi dan UKM Komponen Otomotif Lokal Siap Bersaing

79

Besarnya pasar otomotif Indonesia menjadi peluang besar bagi pelaku industri komponen di level koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) untuk meningkatkan kapasitas produksi agar industri otomotif Indonesia menjadi yang terbesar di Asia Tenggara.Dalam keterangan tertulis yang diterima BB, Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kemenkop dan UKM Victoria Simanungkalit mengatakan, pihaknya akan memproyeksikan bisnis komponen otomotif di Indonesia agar memiliki masa depan yang menjanjikan.

“Oleh karena itu, kami memberi ruang bagi pelaku koperasi dan UKM khususnya yang bergerak di bidang komponen otomotif supaya memanfaatkan peluang tersebut,” katanya.

Berdasarkan data Federasi Otomotif ASEAN (AAF), Indonesia memimpin pasar sekaligus sebagai negara dengan angka penjualan mobil terbesar di ASEAN. Pada 2017, penjualan mobil secara nasional mencapai 1,079 juta unit, meningkat menjadi 1,151 juta unit pada 2018.

Produksi mobil Indonesia pada tahun 2018 berada di peringkat kedua dengan jumlah1,216 juta unit, tumbuh 3 % dibandingkan capaian tahun sebelumnya sekira 1,177 juta unit. Indonesia juga menduduki peringkat kedua terbesar industri manufaktur mobil se-Asia Tenggara setelah Thailand.

Ia mengatakan pengembangan UKM komponen otomotif sangat penting dan strategis untuk mendorong pembangunan otomotif nasional dan  sekaligus melibatkan partisipasi aktif bisnis KUKM dalam proses pembangunan industri otomotif nasional.

“Saya katakan penting karena industri otomotif Indonesia merupakan salah satu pilar penting dalam perekonomian nasional, sebab permintaan produk otomotif di dalam negeri sangat besar dan diperkirakan akan terus berkembang sejalan dengan pertumbuhan populasi penduduk dan kemajuan ekonomi masyarakat,” ujar Victoria.

Meski menempati urutan teratas dalam hal penjualan dan produksi mobil, di sisi lain kebutuhan komponen otomotif mobil Indonesia sebagian besar masih dipasok melalui pengusaha KUKM negara lain. Hal itu terjadi karena mutu produk UKM dalam negeri dinilai kurang memenuhi standar yang dibutuhkan.

“Besarnya impor komponen otomotif yang mencapai 80 persen membuat neraca perdagangan Indonesia menjadi minus. Kondisi ini juga menunjukkan pasar komponen masih dikuasai prinsipal utama dari luar Indonesia,” ungkap Victoria. Untuk itu lanjut Victoria, pihaknya mengharapkan agar pengembangan UKM komponen otomotif di perkampungan industri kecil Pulo Gadung dapat terwujudkan dan berkelanjutan. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan langkah-langkah nyata yang melibatkan stakeholders terkait.

“Dengan demikian menghadapi persaingan pasar global yang semakin tajam , komponen otomotif koperasi dan UKM  mampu menghasilkan berbagai produk komponen otomotif yang mengungguli produk kompetitor  dari negara pesaing, baik dari segi mutu, produktivitas, maupun harga produk melalui penerapan teknologi inovatif, peningkatan SDM berkualitas serta manajemen bisnis secara profesional,” tutur Victoria.

Dalam upaya meningkatkan daya saing KUKM lokal, Kemenkop dan UKM bekerja sama dengan Institut Otomotif Indonesia (IOI) serta pemerintah daerah  menyelenggarakan program pengembangan daya saing dan kemitraan KUKM Indonesia dengan pihak terkait. Program ini menurut Victoria , mempunyai dua sasaran utama. Pertama, dari sisi pengembangan SDM yang meliputi pemahaman teknis bisnis otomotif, budaya usaha atau industri yang sesuai dengan kebutuhan saat ini maupun yang akan datang, juga dari sisi networking. Kedua, dari sisi pengembangan organisasi KUKM memiliki sertifikat atau standar internasional agar bisa kompetitif.

“IOI dengan para expert akan terus melakukan asistensi dan konsultasi ke KUKM dan secara periodik akan melakukan evaluasi bersama pemerintah,” ujar Presiden IOI, I Made Dana Tangkas menambahkan. (E-002)***