Mulai dari Enol

50

       ITULAH  salah satu ritual demokrasi. Bangsa Indonesia secara serempak usai melaksanakannya. Pencoblosan berrjalan baik, dalam situasi normal, bahkan mendekati suasana yang terasa sakral. Seolah-olah kita semua baru saja melewati situasi kritis setelah tindakan operasi selesai dengan sukses. Bangsa Indobnesia patut bersyukur, apapun hasilnya, siapa saja yang terpilih, tidak lagi menjadi masalah.

       Masa kritis itu benar-benar sangat mengkhawatirkan.Kita khawatir terjadi kesalahan teknis operasi, ketidaktelitian diagnosis, bahkan mungkin saja terjadi malapraktik. Kesalahan sedikit saja, akibatnya bisa fatal. Situasi politik yang makin memanas akibat dikompori medsos, memicu sensibilitas masyarakat. Kepekaan massa yang bersebrangan berpotensi timbulnya kebakaran besar walau hanya ada percikan api sedikit saja. Masa kampanye selama tujuh bulan terasa sangat lama. Sepeerti berada dalam tungku yang apinya menyala. Banyak yang kegerahan, sehingga kita semua ingin segera keluar dari situasi panas itu. Hampir semua orang berkeinginan, pemlu segera dilaksanakan.

       Sitruasi panas itu baru terjadi pada Pemilu 2019 ini. Sangat berbeda denga Pemilu 2014 padahal calon presidennya sama. Ada beberapa hal yang menjadi penyebab panasnya suhu politik pra-pencoblosan tahun ini. Pertama, bermunculannya partai politik baru yang memicu terjadinya kelompok-kelompok masyarakat yang harapan dan keinginannya berbeda-beda. Meskiopun idiologinya sama, karena ada undang-undangnya, semua parpol atau koalisi parpol mengusung idiologinya dengan cara yang beragam. Artikulasinya dilatarbelakangi kepentingan politik masing-masing, diwarnai paham agama dan politik yang berbeda pula.

      Kedua, bermunculanya media sosial yang menyediakan lapangan sangat luas bagi masyarajkat, baik petrorangan maupun kelompok. Medsos benar-benar merupakan arena bagi setiap orang memuntahkan isi hatinya (kalau itu dapat disebut hati dalam pengertian kalbu)  sebebas-bebasnya. Muncullah berbagai bentuk hujatan, saling debat dengan diksi yang buruk, kotor, bahkan sarkastis. Medsos menjadi arena pertarungan tanpa wasit. Bermunculanlah para petarung atau gladiator tanpa tuntunan agama. Hati nurani, rasa hormat terhadap orang yang lebih tua, hubungan kekerabatan, sudah benar-benar dihapus dari lubuk hatinya yang dalam.

      Munculnya kekuatan baru dalam masyarakat yakni kaum milenial. Pada merekalah harapan bangsa ini terletak. Potensi mereka sebagai kader bangsa sungguh sangat besar. Namun kemunculan mereka, terutama dalam ranah politik, tampaknya masih terhalang keberadaan politisi gaek. Metreka seolah-olah tidak diberi kesempatan yang seluas-luasnya berkiprah dalam poltik. Para politisi tua yang sebenarnya sudah tidak dibutuhkan lagi, masih keukeuh tampil sebagai calon anggota leggislatif. Kaum miolenial akhirnya mencari jalan yang mereka sukai. Banyak yang berteriak-teriak, mencaci maki orang lain, semata-mata sebagai katarsis. Maraknya ujaran kebencian, caci maki, sebagi akibat tidak langsung dari pencarian jatidiri kaum muda. Hal itu muncul ke permukaan sebagai api dari onggonan sekam.

      Pemilu usai, meskipun masih harus menunggu hasilnya secara resmi. Masyarakat berharap, segala hiruk pikuk, bara api politik, dan perbedaan paham dan pilihan, segera dihapus. Seperti pertandingan sepak bola, ketika peluit bernada panjang ditiup wasit, semau pemain saling berangkulan, bahkan saling tukar kaos. Sama sekali tidak ada dendam di antara pemain. Mengapa pemilu harus menyisakan masalah? Pemilu sesungguhnya bukan perang tetapi pertandingan yang menarik. Seperti juga petinju. Kedua-duanya sasling pukul saling menjatuhkan lawan sampai babak belur. Selesai pertandingan, yang kalah dan menang saling rangkul. Di luar arena mereka menjadi sahabat yang sangat akrab.

    Mengapa kita harus berseteru akibat beda pilihan? Calon yang menjadi pemenang, terimalah kemenangan itu dengan tawadlu. Yang kalah, terimalah dengan lapang dada. Kita mesti yakin, semua itu tidak lepas dari campur tangan Tuhan. Hapus semua perbedaan paham itu. Siapapun yang menang, siapapun yang kalah, kita satu bangsa yang memiliki kebudayaan luhur dan tuntunan agama. Mari kita mulai dari enol. Tanpa perasaan  dendam, kita mulai melaksanakan pembangunan bagi kepentingan bangsa dan negara, demi kesejahteraan rakyat…***