Lebih Dekat dengan Chatbot untuk Perangi Hoaks

62

CHATBOT anti hoaks merupakan sebuah perangkat lunak hasil kerja sama antara Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) dan Prosa. Chatbot ini berfungsi untuk memverifikasi suatu tautan artikel yang belum diketahui kebenarannya.Chatbot sendiri adalah perangkat lunak robot yang bisa berinteraksi lewat chat atau obrolan. Saat ini, chatbot tersebut hanya bisa dinikmati oleh pengguna aplikasi Telegram. Pengguna dapat langsung terhubung melalui akun @chatbotantihoaks.

Pendiri sekaligus SEO Prosa Teguh Eko Budiarto menjelaskan cara kerja Chatbot Anti Hoaks ini tidak sama dengan mesin AIS milik Kemenkominfo. Menurut Teguh, tugas chatbot ini hanya untuk memverifikasi kata atau link artikel berita yang ada di data base mesin AIS, yang dapat mengandung informasi hoaks atau asli.

“Kalau link artikel berita, cara verifikasinya akan diambil kontennya lalu nanti di cari data nya data base milik kita, semacam search engine,” kata Teguh usai peluncuran layanan Chatbot Anti Hoaks di kantor Kemenkominfo, Jakarta, Jumat (12/4).

“Lalu nanti kita akan melakukan re-processing (memproses ulang) untuk cari relevansinya terhadap artikel yang dikirim oleh pengguna,” tuturnya.

Selain itu kata Teguh, jika link artikel berita itu belum ada di data base milik Prosa maka ia dan tim akan menurunkan sementara tautan berita tersebut.

Data tautan artikel berita tersebut diperoleh dari mesin AIS Kemenkominfo maupun Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo). Tak hanya mengandalkan machine learning, Prosa juga menyiapkan sejumlah orang guna memeriksa fakta dari link artikel berita.

“Kita butuh pertama orang yang mengecek kebenaran faktanya, keduanya ada yang berwenang memberi stempel hoaks atau fakta. Mereka punya akses ke data pemerintah artinya orang dibelakang meja menstempel,” jelas Teguh.

Lebih lanjut Teguh mengatakan bahwa chatbot tidak difungsikan untuk masuk ke sejumlah grup obrolan di Telegram. Namun, pihaknya tak menjamin seratus persen terkait akurasi hoaks atau tidaknya link artikel berita itu.

“Ya tidak bisa 100 persen, cuma kita bisa nambahin terus. Saat ini kita bisa hanya empiris, jadi saya tidak bisa bilang 80 persen mungkin,” tuturnya.

Jawaban dari chatbot ini berupa penjelasan terkait link artikel berita yang dikirimkan pengguna seperti salah, hoaks, dan disinformasi. Lalu berita-berita yang disaring pun tidak hanya berbau konten politik.

Lihat juga:14 Persen Perusahaan Indonesia Gunakan Kecerdasan Buatan

“Jadi itu [jawaban chatbot] tergantung dari saat ini database yang kita terima. Harapannya nanti ke depan kita akan seragamkan stampelnya supaya tidak membuat bingung,” pungkas Teguh.

Direktur Jendral Aplikasi Informatika (APTIKA) Kemenkominfo Semuel Abrijani Pangerapan mengatakan meskipun baru pengguna Telegram saja yang dapat menggunakan Chatbot Anti Hoaks, namun pihaknya juga tengah melakukan pembicaraan dengan platform instant online messaging lain seperti WhatsApp dan Line.

“Kapan ke yang lainnya? Segera karena kita punya mekanisme lain yang harus dibicarakan, nanti kami akan bicarakan dengan Line dan WhatsApp dan lain. Harapannya dalam waktu dekat kalau bisa seminggu atau dua minggu ini bisa terwujudkan,” kata Semuel di kantor Kemenkominfo, Jakarta, Jumat (12/4). (C-003/BBS)***