Astrin Trisnawati, AMd. Bersyukur Menjadi Penyokong Ekonomi

81

Astrin Trisnawati, seorang pengusaha berhijab yang lahir di Bandung 5 Juni 1975 ini, merupakan pemilik perusahaan kue di Kota Bandung yang kini tengah berkembang.Ibu dari Hilary Gema Pertiwi (19) dan Jasmin Azwarin Adila (14) ini menuturkan bahwa, ia menekuni usaha kuliner sejak tahun 2010, yang berawal dari kegemarannya membuat kue dan memasak.  Dengan modal awal Rp 100.000, Astrin bisa bersyukur, karena melalui usaha ini ia bisa menyokong ekonomi keluarganya.  Menurut Astrin, usaha yang dijalaninya saat ini tidak ada kaitannya dengan latar belakang keluarga sebagai pegusaha kuliner, walau orang tuanya suka membuat kue dan masak.  Astrin mengembangkan hobi keluarga melalui tambahan ilmu, dengan cara mengikuti kursus serta melakukan inovasi.

“Saya memilih profesi ini, karena memang sesuai dengan minat saya, yakni membuat kue dan catering. Juga karena saya senang berinovasi dalam menciptakan makanan yang bisa dinikmati oleh banyak orang,” tuturnya kepada BB di Bandung.

Astrin juga mengatakan, kemampuan memproduksi dan mendesain produknya dilakukan  melalui uji coba di rumah, selanjutnya dikombinasikan dengan resep, sehingga tercipta makanan dengan citarasa yang berbeda. Tempat produksinya berada di kawasan Riung Bandung di Kota Bandung.  Setiap bulannya, Astrin mampu memproduksi sekitar 1500 loyang tiramisu kukus dan 2400 pieces bolen pisang.

Dalam proses produksinya, ia dibantu oleh 4 orang tenaga kerja yang memiliki keahlian khusus.  Bagi tenaga kerja baru yang belum memiliki keahlian di bidangnya, maka pihaknya akan memberi pelatihan terlebih dahulu.  Untuk saat ini, segmen pasar produk kulinernya adalah toko-toko kue di Bandung dan sekitarnya. Untuk harga jualnya, tergantung pada jenis kue dan bahan yang dipakai, hingga ada harga jual kue jenis ekonomis, standar maupun premium.

“Keunggulan produk buatan saya jika dibandingkan dengan produk sejenis yang  beredar di pasaran adalah, pada cara pengolahan, yakni selain higienis, juga tanpa bahan pengawet, dan memiliki legalitas halal maupun PIRT setelah uji mutu.  Saya memilih nama ‘d’trin’ pada produk kuliner buatan saya, karena diambil dari nama belakang saya (Astrin).  Ciri khas dari produk kuliner saya, terletak pada varian rasa, bentuk dan topingnya,” tutur Astrin .

Menurutnya, masalah persaingan pasar selalu ada, tapi hal itu tergantung bagaimana kemampuan kita dalam menyikapinya untuk tetap yakin, fokus dan terus berinovasi, agar Insya Allah usaha kita akan membuahkan hasil.  Mengenai minat pasar terhadap produk yang dibuatnya, bisa dilihat dari indikatornya, yakni harganya yang terjangkau berbagai kalangan, kualitas produk, daya saing serta kesesuaian harga dengan manfaatnya.

Penganut moto hidup “Fokus, jujur dalam usaha dan tetap semangat” ini, selama kurang lebih 10 tahun menjadi pengusaha kuliner, ternyata ia juga mendapat manfaat yang bisa menambah wawasannya, seperti pengetahuan dan pengalaman dalam berwirausaha.

“Namun dibalik itu semua, saya juga mengalami jatuh bangun dalam membangun usaha.  Pengalaman terbaik yang didapat adalah, ketika saya bisa bertemu dengan teman-teman perkumpulan yang satu minat dan se-ide untuk membangun usaha. Berbagi ilmu dengan teman-teman bisa menambah rangkaian silaturahmi.  Alhamdulillah,” ungkap Astrin.

Selain menjadi pengusaha kuliner, Astrin Trisnawati juga menjabat sebagai bendahara di Koperasi WJS (Wirausaha Jawa Barat Sejahtera).  Bila dirinya diharuskan memilih dari kedua profesi yang dijalani saat ini, maka ia akan memilih profesi sebagai pengusaha kuliner.

“Untuk dapat menjalani kedua kedua profesi ini, saya harus pandai-pandai membagi waktu, dan saya berupaya untuk bisa mengatur waktu sebaik mungkin bagi keduanya.  Sedangkan untuk meningkatkan kualitas usaha maupun pribadi, saya harus terus berinovasi dan tetap kreatif, serta mampu bersaing secara sehat, tetap optimis sekaligus terus belajar,” ujar Astrin.

Mengenai perhatian pemerintah terhadap wirausaha, Astrin menilainya cukup baik, yang mana indikatornya adalah, dibuatnya kebijakan-kebijakan yang bisa mendorong UMKM untuk dapat berkembang positif.  Seperti di Jabar, ada program mencetak 100.000 WUB (Wira Usaha Baru).  Program dari Pemprov Jabar melalui  Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jabar ini, bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat agar memiliki penghasilan, dan meningkatkan kesejahteraan serta mengentaskan kemiskinan, maupun mengurangi pengangguran dengan berbagai pelatihan.

“Harapan saya kepada pemerintah, dan mungkin juga harapan pelaku UMKM lainnya adalah, agar pemerintah mampu melindungi produk-produk lokal,  memperbanyak pelatihan-pelatihan serta sosialisasi dalam pendidikan kewirausahaan, sehingga UMKM bisa mengapresiasikan bakat dan kreativitasnya, agar menjadi aset yang tak ternilai dalam membangun perekonomian, selain membantu permodalan,” pungkas penggemar warna hitam dan kuning ini kepada BB. (E-018)***